21 April 2026
AA1QwgEs.jpg

Pengalaman Menjadi Nominasi Dewa News -Awards 2025

Halo, teman-teman. Saya baru saja menerima email yang menyatakan bahwa saya terpilih sebagai nomine dalam Dewa News -Awards 2025. Perasaan saya biasa saja, tidak seheboh saat pertama kali mendengar kabar dari Kompasianer Yana Haudy pada tanggal 13 November lalu.

Saat itu, Kak Yana memberi pesan via WhatsApp: “Coblos diri sendiri jangan lupa. Jangan ga enakan”. Saya tertawa kecil membaca komentarnya. Setelah tiga hari merenung, akhirnya saya memutuskan untuk melakukan voting diri sendiri. Ini adalah bentuk penghargaan atas jerih lelah selama dua tahun menulis di Dewa News -.

Menulis Tentang Jakarta: Antara Riset dan Kritik Konstruktif

Sejak bergabung dengan Dewa News -pada tahun 2023, saya konsisten mengangkat isu-isu terkait Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya yang berkaitan dengan Jakarta. Melalui opini yang ditulis, saya berupaya mengajak masyarakat Jakarta lebih memahami konsep keberlanjutan dalam konteks kota global.

Menulis opini di Dewa News -tergolong sulit karena membutuhkan persiapan matang, mulai dari pemilihan topik hingga penyusunan argumen yang kuat dan lugas. Saya sering menghabiskan waktu untuk riset, membaca berbagai sumber, dan memastikan kebenaran informasi sebelum ditayangkan.

Kota Jakarta, sebagai ibu kota negara, memiliki tantangan tersendiri. Saya takut kritikan saya tidak berdasar dan dapat dituntut balik. Namun, perasaan takut itu bisa ditepis dengan riset yang bertanggung jawab. Tulisan-tulisan saya bukan hanya sekadar kritikan, tetapi juga solusi konkrit atas masalah yang ada.

Beberapa tema yang saya angkat selama dua tahun ini antara lain:
* Urbanisasi dan Tata Ruang: Bagaimana urbanisasi bisa menjadi peluang atau tantangan bagi Jakarta, tergantung bagaimana tata ruang dikelola.
* Lingkungan dan Keberlanjutan: Dari isu TBC yang merajalela hingga mikroplastik dalam air hujan, saya menyoroti pentingnya melindungi kesehatan warga Jakarta.
* Ruang Publik dan Heritage: Kondisi Danau Sunter Barat, Stasiun Pasar Senen, serta urgensi penataan pesisir utara Jakarta.
* Inovasi Kota Global: Upaya Jakarta menjadi Kota Sinema UNESCO dan peningkatan peringkat Global Cities Index.

Di Balik Nomine: Pengorbanan dan Komitmen

Karena opini ditulis secara ketat, saya kerap mengambil waktu di sela-sela kesibukan kuliah dan mengajar, terutama di malam hari. Istri saya sering mengomel karena saya tidak menjaga kesehatan. Maafkan saya yang sering lembur. Hehe.

Menulis sudah menjadi panggilan jiwa. Beberapa bulan lalu, ketika saya sakit dan harus rawat inap di RS Agung, saya masih menyempatkan waktu menulis dengan tangan yang sedang diinfus.

Tulisan-tulisan saya tidak sekadar menyajikan data dalam bentuk tertulis, tetapi juga berupa data lapangan. Banyak tempat di Jakarta yang telah saya kunjungi untuk melihat langsung situasi di lapangan, seperti Stasiun Pasar Senen dan pantai di utara Jakarta.

Dari kunjungan tersebut, saya banyak mendapatkan informasi yang belum diketahui oleh media massa, seperti kondisi teluk Jakarta yang dipenuhi sampah, perjuangan nelayan mencari ikan, banjir rob, dan urgensi penataan pesisir utara Jakarta.

Jadi, di balik saya masuk nominasi selama dua tahun berturut-turut, ada banyak hal yang saya korbankan: waktu, tenaga, dan dana.

Apresiasi dari Diri Sendiri dan Komunitas

Saya kembali merenungkan komentar Kak Yana, dia benar. Terkadang, kita perlu juga mengapresiasi diri sendiri atas apa yang sudah dilakukan. Melakukan voting atas diri sendiri, bagi saya, adalah sah. Ini bukan tentang merebut panggung Kompasianival, ini tentang menghargai usaha sendiri.

Beberapa Kompasianer WA dan DM ke saya, menyatakan dukungan dan mendoakan saya. Saya masih ingat, ketika Mimin K membuka kesempatan mengajukan nominasi, Ketua Kopaja71, Bang Horas, menyatakan dukungannya. Dan, pagi ini, dia kembali menyatakan dukungannya.

Ia mempromosikan saya, Kompasianer Ire Rosana Ullail, Jandris Sky, dan Ria Agustina, di medsos komunitas dan akun pribadinya. Begitu pula dengan beberapa teman di KOKOBER (Komunitas Kompasianer Berbagi).

Saya belajar satu hal: Ternyata, apresiasi itu bukan datang dari diri sendiri, tetapi juga dari orang lain. Tentu saja, karena mereka menilai tulisan saya layak.

Penutup: Yukk Voting Sekarang!

Pada kesempatan ini, saya mengajak teman-teman Kompasianer untuk melakukan voting pada mereka yang memang layak mendapat penghargaan Dewa News -Awards 2025 di panggung Kompasianival.

Kompasianival 2025 sudah di depan mata, periode voting pun sudah hampir ditutup. Mari gunakan hak suara kalian untuk voting nama-nama pada kategori yang ada.

Pada Kompasianival tahun ini, ada lima kategori yang disajikan: Best in Storytelling, Best in Opinion, Best in Passion, Best in Fiction, dan Pelestari.

Kalau tulisan-tulisan saya tentang Jakarta: dari urbanisasi, TBC, mikroplastik, penataan ruang publik, hingga ambisi kota global, dianggap layak, dukung saya pada kategori Best in Opinion, ya. Sekali lagi, terima kasih banyak untuk dukungan tulusnya.

Mari kita rayakan Kompasianival 2025 dengan sukacita, sambil menghormati siapa pun pemenangnya sebagai yang terbaik dan paling layak.

By the way, selamat untuk Kompasianer terpilih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *