22 April 2026
im-94075

Operasi Penggrebekan Kartel Narkoba di Rio de Janeiro Berhasil, Tapi Berujung Kematian yang Tinggi

Pada hari Selasa (28/10/2025), operasi penggrebekan kartel narkoba di Kota Rio de Janeiro berlangsung dengan melibatkan sekitar 2.500 aparat keamanan. Operasi ini dilakukan untuk menangani kelompok kriminal Comando Vermelho, salah satu organisasi narkoba paling kuat di kota tersebut. Namun, operasi tersebut berujung pada ratusan korban jiwa.

Menurut laporan resmi, setidaknya 119 orang tewas dalam operasi tersebut, termasuk empat anggota aparat kepolisian. Sementara itu, laporan independen menyebutkan jumlah korban mencapai 132 orang. Dalam operasi yang berlangsung di kawasan Complexo da Penha dan Complexo do Alemão, polisi mengincar para anggota komando narkoba.

Beberapa saksi mata mengatakan bahwa banyak korban ditembak di kepala dan punggung. Hal ini memicu kritik dari aktivis lokal seperti Raul Santiago, yang menilai tindakan aparat sebagai pelanggaran kemanusiaan. Ia menegaskan bahwa apa yang terjadi bukanlah penegakan hukum, melainkan tindakan represif yang tidak bisa dibenarkan.

Warga Mengeluhkan Tindakan Represif Aparat

Warga setempat juga menyampaikan keluhan mereka terhadap cara aparat melakukan operasi. Beberapa dari mereka mengatakan bahwa negara datang untuk melakukan pembantaian, bukan sekadar operasi penangkapan. Seorang warga mengungkapkan: “Mereka datang langsung untuk membunuh.” Pernyataan ini menunjukkan ketakutan dan kekecewaan yang mendalam dari masyarakat setempat.

Kepala keamanan negara bagian Rio, Victor Santos, mengakui bahwa tingginya tingkat kematian dalam operasi ini sudah diperkirakan, meskipun tidak diinginkan. Ia menjelaskan bahwa tujuan utama dari operasi adalah untuk membersihkan wilayah yang dikuasai oleh kelompok kriminal.

Gubernur Membela Tindakan Aparat

Meski mendapat kecaman, Gubernur Rio de Janeiro, Castro, membela tindakan aparatnya. Ia menegaskan bahwa semua korban tewas dalam operasi tersebut adalah anggota kartel narkoba. Ia menolak tuduhan pembunuhan terhadap warga sipil dan mengatakan bahwa tidak ada warga sipil yang berkeliaran di area tempat bentrokan terjadi.

Dalam pernyataannya di platform X, Castro menyebut operasi ini sebagai “perang melawan narkoterorisme.” Menurutnya, operasi ini dilakukan karena kebutuhan untuk menegakkan hukum di wilayah yang dikuasai oleh geng narkoba. Polisi menggunakan kendaraan lapis baja, helikopter, dan drone bersenjata dalam operasi tersebut, sementara kelompok bersenjata dilaporkan menyiapkan barikade dan pesawat tanpa awak bermuatan bahan peledak.

Kritik dari Lembaga HAM dan Perhatian Internasional

Kelompok HAM Brasil mengkritik waktu pelaksanaan operasi yang bertepatan dengan persiapan KTT Walikota Dunia C40 dan Penghargaan Earthshot yang akan digelar di Rio pekan depan. Mereka menilai operasi semacam ini sering dilakukan menjelang acara internasional besar untuk “menunjukkan kontrol keamanan.”

Namun, pejabat keamanan negara bagian menegaskan bahwa operasi tersebut tidak terkait dengan agenda global. Mereka menyatakan bahwa operasi ini murni upaya menegakkan hukum di wilayah yang dikuasai oleh geng narkoba.

Tragedi di Rio Mengungkap Masalah Sistemik

Tragedi di Rio de Janeiro ini kembali menyoroti masalah kekerasan sistemik dan impunitas aparat keamanan Brasil. Negara ini selama ini sering dikritik oleh lembaga HAM dunia terkait dengan tindakan represif dan kurangnya transparansi dalam penegakan hukum.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *