24 April 2026
01k6je04ksg99dzca0tw02rn4w.jpg

Tragedi Ambruknya Mushala Ponpes Al Khoziny: Duka yang Menyentuh Hati

Tragedi yang tidak terduga terjadi di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur. Pada Senin, 29 September 2025, mushala tiga lantai yang berfungsi sebagai asrama putra ambruk, menyebabkan kematian sebanyak 63 santri dan puluhan lainnya mengalami cedera. Kejadian ini menimbulkan duka mendalam bagi seluruh masyarakat, terutama keluarga para korban.

Di antara para korban yang berhasil dievakuasi, ada beberapa santri yang mengalami luka parah hingga harus menjalani operasi amputasi. Mereka adalah Syailendra Haical (14), Syaiful Rosi Abdillah (13), dan Nur Ahmad (16). Kondisi fisik mereka kini berubah secara permanen, menghadirkan tantangan baru dalam kehidupan mereka.

Merajut Masa Depan dengan Beasiswa Pendidikan

Menanggapi duka dan dampak yang dialami para santri tersebut, pihak Ponpes Al Khoziny segera mengambil langkah konkret untuk membantu mereka. Salah satu upaya yang dilakukan adalah menawarkan jaminan pendidikan untuk para korban yang kini menyandang disabilitas permanen.

Ketua Alumni sekaligus juru bicara ponpes, KH. Zainal Abidin, menegaskan komitmen tersebut. Ia memastikan bahwa para santri difabel akibat tragedi mushala ambruk akan mendapatkan beasiswa pendidikan yang berkelanjutan.

“Kita upayakan yang cacat permanen (difabel) untuk mendapatkan bantuan pendidikan sampai di S2,” ujar Zainal saat dikonfirmasi oleh Kompas.com pada Selasa (21/10/2025).

Jaminan beasiswa pendidikan tinggi hingga jenjang S2 ini diberikan dengan satu syarat utama, para santri tersebut harus memilih Institut Agama Islam Al Khoziny sebagai kampus tujuan perkuliahan mereka.

“Kebetulan di kita ada S1 dan S2 nanti bisa diupayakan di kampus,” imbuhnya, menawarkan jalan pasti bagi masa depan para korban.

Dukungan Penuh Bebas Biaya

Selain beasiswa kuliah, Ponpes Al Khoziny juga menjamin kebutuhan harian para santri difabel selama menempuh pendidikan. Pihak pondok berjanji akan membebaskan segala biaya asrama dan sekolah mereka.

“Kita bantu semaksimal mungkin untuk biaya pondoknya dan sekolahnya kita gratiskan. Pondok dan alumni lah yang akan mengkomandoi itu,” jelas Zainal.

Sementara itu, bagi korban yang hanya mengalami luka ringan, pihak ponpes memastikan mereka mendapatkan pengobatan penuh selama menjalani perawatan di rumah sakit. Namun, fokus perhatian juga diarahkan pada pemulihan mental.

Zainal menambahkan bahwa meski korban luka ringan telah diizinkan pulang, pendampingan psikologis penuh tetap krusial.

“Kemarin luka ringan setelah diperiksa di rumah sakit langsung pulang. Cuma anak-anak santri kan situasinya secara psikologis masih perlu pembiayaan dan pendampingan,” pungkasnya.

Penyidikan dan Penyebab Tragedi

Peristiwa robohnya bangunan mushala tiga lantai di Kecamatan Buduran, Sidoarjo, pada Senin sore itu kini masih menyisakan banyak pertanyaan. Diketahui bahwa berdasarkan analisa dari tim gabungan, penyebab utama ambruknya bangunan adalah kegagalan konstruksi.

Hal ini diakibatkan oleh ketidakmampuan struktur bangunan untuk menahan beban dari kapasitas seharusnya. Dengan 63 korban jiwa dan puluhan lainnya luka-luka, tragedi ini telah memantik penyidikan serius.

Hingga kini, kasus ambruknya mushala Ponpes Al Khoziny masih dalam tahap penyidikan kepolisian di Polda Jawa Timur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *