23 April 2026
AA1HEOdk.jpg


Dewa News – Peta kekuatan bulu tangkis junior Asia mulai mengalami pergeseran. Menjelang Kejuaraan Asia Junior 2025 yang akan digelar pada 18–27 Juli mendatang di GOR Indoor Manahan, Solo, dominasi negara-negara kuat yang sebelumnya kuat di Junior seperti Cina dan Jepang kini beralih ke Thailand dan India.

Ini melihat dari daftar unggulan di kategori beregu (18-22 Juli 2025), di mana Cina dan Jepang tidak lagi masuk dalam tiga unggulan teratas. Kini unggulan tertas ditempati oleh Thailand dengan raihan poin tertinggi 121.810, kemudian disusul India dengan 102.460 poin. Indonesia berada di unggulan ketiga dengan 101.260 poin.

Sementara, Cina yang sebelum-sebelumnya mendominasi unggulan teratas, kini bahkan hanya menempati unggulan keempat seusai mengoleksi 101.060 poin. Jepang yang memiliki tradisi pembinaan bulu tangkis muda yang kuat, bahkan kini hanya menjadi unggulan ke-10. Setelah era Tomoka Miyazaki, belum ada lagi pemain junior asal negeri Sakura tersebut yang menonjol.

Hal yang sama juga dialami Cina. Kini di level junior mereka tengah melakukan masa transisi. Para junior yang sebelumnya berjaya di levelnya kini sudah mulai naik ke level senior, sementara generasi baru mereka belum bisa stabil.

Tantangan regenerasi ini juga di alami Indonesia. Di mana para pemain andalan di junior, seperti Moh Zaki Ubaidillah di tungga putra dan ganda putri Rinjani Kwinara Nastine kini sedang menanjak ke level senior. Sementara di bawahnya belum ada yang bisa menyamai pencapaian mereka saat di junior.

Pengamat bulu tangkis Daryadi pun mengaku bila peta kekuatan junior sudah sedikit bergeser. Bahkan menurutnya ada tiga negara yang berpotensi jadi “raja” baru di level junior ini, yakni India, Thailand, dan Taiwan. Ketiga negara ini, ujarnya, sangat serius mempersiapkan pemain-pemain mudanya.

“Ketiga negara ini yang berani dan rutin untuk mengirimkan pemain-pemainnya di berbagai turnamen level cukup tinggi, terutama di level-level Super 300. Contohnya, dari India tunggal putri berusia 16 tahun, Tanvi Sharma sukses capai babak final AS Terbuka 2025 melawan pemain senior Zhang Beiwen. Meskipun pertandingannya tidak seketat turnamen di Asia, tapi Sharma menunjukkan mampu bersaing, bahkan di semifinal mengalahkan tunggal Ukraina, Polina Buhrova straigh game,” kata dia, saat dihubungi Minggu, 29 Juni 2025.

Ketiga negara tersebut, menurutnya bisa menjadi ancaman ke depannya. Walaupun mereka mungkin di turnamen-turnamen super series hanya menjadi cadangan, tetapi mereka berani dan hal itu, yang dinilainya belum berani dilakukan oleh Indonesia.

“Kalau Indonesia kan, kalau enggak pasti-pasti aja enggak mau kirim pemain. Nah, India, Thailand, Taiwan mereka berani untuk ambil resiko,” ujar Daryadi.

Berpikir ulang

Melihat adanya perubahan peta kekuatan junior ini, ia pun lantas menilai seharusnya Indonesia juga berpikir ulang. Mumpun masih ada sedikit kekuatan di junior.

“Indonesia memang ada keterbatasan biaya, sehingga dipertegas lagi yang berangkat hanya yang sudah punya peluang juara. Ini tentu semakin mempersempit kesempatan para pemain muda untuk berkompetisi, khususnya di level yang lebih tinggi, terutama di level KU-16, KU-17, dan KU-18. Itu yang kita sebetulnya masih sangat minim ya peluangnya. Ya, mudah-mudahan jadi kejuaraan Asia besok itu kesempatan momentum kita ya untuk bisa mengambil gelar mumpung main di kandang sendiri,” tutur Daryadi.

Melihat prospek ke depannya, apakah kemudian para pemain muda ini bisa bersaing, Daryadi pun menilai itu akan tergantung kepada kelanjutan pembinaannya. Karena sering kali di lihatnya, bila anak-anak sudah bagus di junior, seringkali lepas begitu saja, dalam artinya tidak dilanjutin untuk lebih fokus.

“Ini kan situasi yang beda banget loh. Kita punya Chiara Marvella Handoyo, ia kan levelnya udah bagus banget. Runner‑up Kejuaraan Dunia Junior 2023, lawan pemain Thailand, Pitchamon Opatniputh yang ini sudah bisa menjajal final di Super 300 melawan Tomoka Miyazaki yang kini sudah menyentuh rangking 6 dunia. Tapi Chiara? ia masih berkutat bermain di sirnas (Sirkuit Nasional) saja. Bukan tidak boleh, tapi sayang, karena setengah tahun ini saja, dia cuma turun di dua turnamen internasional,” kata dia.

Perubahan komposisi kekuatan ini pada akhirnya akan membuat Kejuaraan Asia Junior 2025 diprediksi berlangsung lebih ketat. Lima top lima unggulan, Thailand, India, Indonesia, Cina, dan Taiwan mungkin akan bersaing ketat untuk perebutan gelar beregu. Sementara di tunggal diprediksi akan lebih sengit lagi, dan Korea Selatan bisa menjadi salah satu penantang utama.

“Jadi perkerjaan rumah PBSI banyak sekali, karena harus menanam, mau tidak mau. Karena kan kondisi yang periode sebelumnya lupa bercocok tanam, sementara tuntutan publik maunya juara. Sedangkan materi yang kita punya ini masih di bilang stok lama-lama, juara dan andalannya masih yang itu-itu saja,” tutur Daryadi.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *