Perkembangan Harga Minyak Dunia
Harga minyak dunia mengalami penurunan setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa konflik di Iran akan segera berakhir. Di sisi lain, gencatan senjata antara Israel dan Lebanon menciptakan harapan bahwa gangguan pasokan minyak bisa segera mereda.
Berdasarkan data dari CNBC International pada Jumat (17/4/2026), harga minyak West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Mei turun sebesar 1,45% menjadi US$93,32 per barel. Sementara itu, harga minyak Brent untuk pengiriman Juni juga terkoreksi sebesar 1,11% menjadi US$98,36 per barel.
Trump mengungkapkan bahwa perang di Iran sedang berjalan dengan baik dan ia kembali menunjukkan optimisme bahwa konflik yang dimulai pada 28 Februari lalu akan segera berakhir. Beberapa jam sebelumnya, dalam unggahannya di platform Truth Social, Trump menyebutkan bahwa gencatan senjata selama 10 hari antara Israel dan Lebanon akan dimulai pukul 17.00 waktu AS Timur.
Selain itu, Trump menambahkan bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Lebanon Joseph Aoun akan diundang ke Gedung Putih untuk melakukan pembicaraan yang disebut sebagai dialog bermakna pertama antara kedua negara sejak 1983. Departemen Luar Negeri AS menyatakan bahwa kedua pihak sedang berupaya menciptakan kondisi menuju perdamaian jangka panjang, termasuk melalui pengakuan kedaulatan masing-masing. Upaya ini juga mencakup peningkatan keamanan perbatasan serta penegasan hak Israel untuk membela diri.
Beberapa pihak khawatir terhadap kelompok bersenjata non-negara yang berpotensi melemahkan kedaulatan Lebanon. Trump juga menyebut bahwa Lebanon diharapkan dapat “mengendalikan” Hezbollah, kelompok militan yang didukung Iran.
Perkembangan ini meningkatkan harapan akan penyelesaian konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah. Di sisi lain, lembaga keuangan ING menilai harga minyak bergerak turun karena ekspektasi bahwa AS dan Iran dapat memperpanjang gencatan senjata selama dua pekan serta membuka kembali jalur negosiasi untuk mengakhiri konflik.
“Namun, pasar fisik semakin ketat setiap hari selama aliran minyak melalui Selat Hormuz belum kembali normal,” tulis analis ING dalam risetnya.
Meski telah dilakukan pengalihan jalur pipa dan pergerakan tanker terbatas, ING memperkirakan sekitar 13 juta barel per hari pasokan minyak terganggu—angka yang berpotensi meningkat jika terjadi blokade oleh AS.
“Risiko kenaikan utama bagi pasar adalah jika perundingan damai antara AS dan Iran gagal. Ini bukan skenario yang tidak realistis, mengingat perbedaan tuntutan kedua negara masih cukup lebar,” tulis ING.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Harga Minyak
- Perkembangan politik: Kehadiran presiden AS yang memberikan sinyal positif tentang akhir konflik di kawasan Timur Tengah memengaruhi sentimen pasar.
- Gencatan senjata: Adanya kesepakatan sementara antara Israel dan Lebanon menciptakan harapan akan stabilisasi pasokan minyak.
- Ekspektasi pasar: Pemangkasan ekspektasi terhadap kemungkinan perpanjangan gencatan senjata memengaruhi harga minyak.
- Kondisi geografis: Aliran minyak melalui Selat Hormuz yang belum pulih sepenuhnya menjadi faktor penting dalam menentukan stabilitas harga.
- Ancaman blokade: Jika terjadi blokade oleh AS, pasokan minyak bisa terganggu secara signifikan.
Prediksi dan Risiko Pasar
ING memprediksi bahwa jika perundingan damai antara AS dan Iran gagal, maka risiko kenaikan harga minyak akan meningkat. Meskipun saat ini ada harapan akan penyelesaian konflik, namun perbedaan tuntutan antara kedua negara masih cukup besar. Hal ini membuat pasar tetap waspada terhadap potensi kenaikan harga.
Dengan situasi yang dinamis dan kompleks, para pelaku pasar harus terus memantau perkembangan politik dan ekonomi di kawasan Timur Tengah. Perubahan kecil pun bisa berdampak besar terhadap harga minyak global.