Indonesia di Ambang Batas Pendapatan Menengah Atas
Pemerintah mengklaim bahwa saat ini Indonesia telah memasuki kategori negara berpendapatan menengah atas (upper middle income). Namun, di tengah pencapaian ini, terdapat tantangan signifikan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah tren penurunan lapangan kerja sektor formal, terutama di kalangan kelas menengah.
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso menyampaikan bahwa meskipun Indonesia sudah masuk dalam kategori upper middle income, posisinya masih berada di batas bawah. Produk domestik bruto (PDB) per kapita Indonesia mencapai sekitar US$ 5.083 per tahun, jauh dari ambang batas negara berpendapatan tinggi yang berada di kisaran US$ 14.000 per tahun.
“Indonesia memang sudah masuk upper middle income, tapi masih di level paling bawah. Ini menjadi tantangan besar untuk bisa naik ke high income,” ujar Susiwijono dalam paparannya di Jakarta, Rabu (15/4/2026).
Komposisi Kelas Menengah dan Tantangan Ekonomi
Berdasarkan referensi Bank Dunia, kelompok kelas menengah memiliki pengeluaran bulanan antara Rp 2 juta hingga Rp 9,9 juta. Sementara itu, kelompok menuju kelas menengah (aspiring middle class) berada di kisaran Rp 870.000 hingga Rp 2 juta per bulan.
Sejak pandemi Covid-19, jumlah kelas menengah mengalami penurunan. Sebelum pandemi, proporsi kelas menengah mencapai sekitar 21,5% dari total penduduk. Kini turun menjadi sekitar 17%. Di sisi lain, kelompok menuju kelas menengah meningkat dari 48% menjadi sekitar 49,2%.
Secara keseluruhan, gabungan kelas menengah dan calon kelas menengah mencapai sekitar 66,3% populasi atau sekitar 185 juta orang. Kelompok ini menjadi tulang punggung konsumsi rumah tangga yang berkontribusi sekitar 54%–55% terhadap perekonomian nasional.
“Sekitar 80% konsumsi rumah tangga disumbang oleh kelas menengah, dengan share ke ekonomi sekitar 54%-55%, sehingga perannya sangat penting sekali bagi pertumbuhan ekonomi,” jelasnya.
Pola Pengeluaran dan Struktur Pekerjaan
Dari pola pengeluaran, kelas menengah cenderung membelanjakan lebih banyak untuk kebutuhan non-makanan, seperti pendidikan, transportasi, hingga produk teknologi. Selain itu, mayoritas kelas menengah tinggal di wilayah perkotaan, dengan proporsi mencapai 73%.
Namun, perubahan juga terjadi pada struktur pekerjaan. Susiwijono mencatat adanya pergeseran lapangan kerja dari sektor formal ke informal. Kelas menengah kini semakin banyak bekerja di sektor usaha non-formal, sementara kontribusi sektor manufaktur dan industri cenderung menurun.
“Nah ini yang harus hati-hati, karena secara sektoral, ekonomi kita paling tinggi dari industri manufaktur, yang hampir 19% (ke PDB),” ujarnya.
Upaya Pemerintah untuk Meningkatkan Kelas Menengah
Pemerintah menilai penguatan kelas menengah menjadi kunci agar Indonesia dapat keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle income trap) dan naik ke level negara maju. Upaya tersebut mencakup penciptaan lapangan kerja formal, peningkatan produktivitas industri, serta menjaga daya beli masyarakat.
“Nah, yang paling penting, setiap tahun kita dorong untuk mendorong sektor kelas menengah ini, pemerintah biasanya perhatian kedua hal, sektor properti dan sektor kendaraan, otomotif. Karena ini konsumennya adalah kelas menengah,” jelas Susi.