Penurunan Dana Kelolaan Reksadana di Maret 2026
Dana kelolaan atau asset under management (AUM) industri reksadana pada bulan Maret 2026 mengalami penurunan. Data yang dirilis oleh Infovesta menunjukkan bahwa total AUM reksadana turun sebesar 2,36% secara bulanan (MoM) dari Rp 689,8 triliun pada Februari menjadi Rp 673,5 triliun di bulan Maret.
Penurunan terbesar terjadi pada reksadana pendapatan tetap. AUM reksadana ini terkoreksi sekitar 5,5% dalam sebulan, setara dengan penurunan sebesar Rp 13 triliun. Sebelumnya, AUM reksadana pendapatan tetap berada di level Rp 254,9 triliun, namun turun menjadi Rp 241,2 triliun pada Maret 2026.
Selain itu, reksadana yang terpapar instrumen saham seperti reksadana saham, campuran, dan indeks juga mengalami penurunan dana kelolaan. Di sisi lain, reksadana pasar uang justru mencatatkan pertumbuhan. AUM reksadana pasar uang meningkat dari Rp 128,5 triliun pada Februari menjadi Rp 135,1 triliun pada Maret.
Faktor Penyebab Penurunan AUM
Direktur Panin Asset Management, Rudiyanto, menjelaskan bahwa penurunan AUM ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor pasar dan perilaku investor. Salah satu penyebab utama adalah kenaikan yield obligasi yang berbanding terbalik dengan harga obligasi. Hal ini memberi tekanan pada kinerja reksadana pendapatan tetap.
Selain itu, ketidakpastian global, termasuk kekhawatiran akan konflik geopolitik, memicu kekhawatiran investor. Kekhawatiran ini mendorong investor untuk melakukan penyesuaian portofolio.
“Ada juga yang mungkin waktu masuk, berharap kinerja bagus seperti 2025, tapi begitu kinerja kurang bagus, melakukan penyesuaian kembali,” ujar Rudiyanto kepada Dewa News.
Kinerja Internal Panin Asset Management
Kondisi serupa juga terjadi pada kinerja internal Panin Asset Management. AUM reksadana perseroan turun dari Rp 15,8 triliun pada Februari menjadi Rp 14,9 triliun pada Maret 2026.
Rudiyanto menjelaskan bahwa penurunan tersebut merupakan kombinasi dari pelemahan harga saham di pasar serta adanya redemption pada produk reksadana berbasis pendapatan tetap.
Prospek Reksadana di Masa Depan
Meski demikian, prospek reksadana ke depan dinilai masih terbuka seiring mulai membaiknya kondisi pasar. Rudiyanto melihat adanya sinyal rebound baik dari pasar saham maupun obligasi dalam beberapa waktu terakhir.
Ia mengatakan, perbaikan kinerja emiten yang diharapkan seiring rilis laporan keuangan berpotensi mendorong kinerja saham. Sementara itu, harga obligasi juga mulai mengalami kenaikan setelah sebelumnya tertekan.
Namun, ia mengingatkan bahwa pasar masih cenderung wait and see, terutama menunggu rilis data inflasi serta perkembangan harga minyak dunia yang dapat memengaruhi arah pasar ke depan.
Saran untuk Investor
Dalam menghadapi kondisi ini, investor disarankan untuk tetap berhati-hati dan menerapkan strategi diversifikasi. “Investor bisa melakukan diversifikasi dengan investasi berbasis rupiah dan dolar AS,” pungkasnya.