21 April 2026
AA20L4nB.jpg



Pada hari Selasa (14/4/2026), nilai tukar rupiah mengalami penurunan di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Hal ini terjadi setelah negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran gagal mencapai kesepakatan. Berdasarkan data dari Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup melemah sebesar 0,13% menjadi Rp 17.127 per dolar AS. Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia berada di posisi Rp 17.135 per dolar AS.

Menurut pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi, konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah masih menjadi faktor utama yang memengaruhi tekanan terhadap rupiah. Ia menjelaskan bahwa beberapa negara sekutu NATO seperti Inggris dan Prancis memilih untuk tidak terlibat dalam blokade dan justru mendorong pembukaan kembali jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.

Selain itu, lembaga-lembaga internasional seperti Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia, dan Badan Energi Internasional mendesak negara-negara untuk menghindari penimbunan pasokan energi atau memberlakukan pembatasan ekspor. Mereka menilai situasi saat ini sebagai guncangan paling signifikan yang pernah terjadi di pasar energi global.

Di dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi oleh sikap “wait and see” dari pelaku usaha. Kondisi ini mencerminkan kehati-hatian dalam mengambil keputusan ekspansi di tengah tingginya ketidakpastian. Pelaku usaha cenderung menunda ekspansi besar yang bersifat padat modal dan lebih fokus pada efisiensi serta optimalisasi operasional. Alokasi investasi pun mulai bergeser ke sektor yang lebih tahan terhadap gejolak, seperti pangan, energi, dan digital.

Beberapa faktor yang memengaruhi keputusan tersebut antara lain:

Ketidakpastian geopolitik global

Volatilitas harga energi dan logistik

Tekanan nilai tukar

Melemahnya permintaan global

* Tingginya biaya pembiayaan

Kombinasi dari faktor-faktor ini membuat perhitungan risiko dan imbal hasil investasi menjadi lebih ketat.

Dari sisi penjualan, kinerja bisnis diperkirakan masih cenderung stagnan dalam jangka pendek. Namun, ada peluang perbaikan pada semester II-2026, dengan catatan tidak terjadi eskalasi lanjutan konflik global. Konsumsi domestik tetap menjadi penopang utama, meski daya beli masyarakat perlu dijaga.

Untuk mendorong ekspansi, pelaku usaha membutuhkan kepastian dan stabilitas kebijakan. Hal ini mencakup:

Konsistensi regulasi

Insentif fiskal

Kemudahan investasi

Menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi

Selain itu, percepatan belanja pemerintah dan deregulasi di sektor riil seperti logistik dan perizinan dinilai penting untuk meningkatkan daya saing.

Ibrahim memproyeksikan rupiah pada perdagangan Rabu (15/3) akan bergerak fluktuatif di rentang Rp. 17.120 hingga Rp.17.170 per dolar AS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *