Kembali Marak, Kasus Pembuangan Bayi di Sleman
Di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), kasus pembuangan bayi kembali marak. Dalam sepekan terakhir saja, ada dua bayi yang ditemukan di Kabupaten Sleman. Hal ini memicu respons cepat dari Dinas Sosial (Dinsos) DIY untuk memastikan setiap bayi yang ditemukan mendapatkan perlindungan sosial dan perawatan medis.
Kepala Dinsos DIY, Endang Patmintarsih, menegaskan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan kepolisian agar setiap langkah penanganan sesuai dengan prosedur hukum. Menurutnya, bayi adalah aset yang harus dilindungi dan dijaga.
“Bayi itu adalah aset, harus dilindungi, dan harus dijaga,” ujar Endang pada Senin, 27 Oktober 2025.
Dua kasus terbaru pembuangan bayi terjadi di Desa Sumberharjo, Kapanewon Prambanan, dan Desa Wedomartani, Kapanewon Ngemplak. Keduanya ditemukan dalam kondisi selamat, yaitu satu bayi perempuan dan satu bayi laki-laki. Kini kedua bayi tersebut sudah mendapat perawatan medis.
Endang menjelaskan bahwa setiap laporan tentang bayi terlantar selalu dimulai dari masyarakat yang melaporkan ke pihak kepolisian. Setelah itu, laporan akan diteruskan ke Dinas Sosial kabupaten/kota, kemudian disampaikan ke Dinsos Provinsi.
“Begitu dilaporkan ke polisi, baru diteruskan ke Dinas Sosial agar bayi segera mendapat perlindungan,” katanya.
Ia mengimbau warga agar tidak bertindak sendiri jika menemukan bayi yang ditelantarkan. Menurutnya, jangan diambil atau dirawat sendiri tanpa laporan. Warga diharapkan segera melapor ke polsek atau polres setempat agar bisa ditangani bersama Dinas Sosial.
“Jangan diambil atau dirawat sendiri tanpa laporan. Segera lapor ke polsek atau polres setempat agar bisa ditangani bersama Dinas Sosial,” tegasnya.
Selain menangani kasus-kasus yang muncul, Dinsos DIY juga memperkuat upaya pencegahan melalui sosialisasi lintas lembaga. Sosialisasi ini melibatkan perangkat desa, praktisi sosial, hingga sekolah dan perguruan tinggi. Tujuannya adalah untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat agar tidak membuang bayi.
“Kami siap memberi perlindungan dan pendampingan, baik untuk bayi maupun ibunya yang mungkin sedang dalam tekanan psikologis,” tambahnya.
Endang menilai meningkatnya kasus pembuangan bayi di DIY tak lepas dari kondisi sosial yang heterogen, termasuk banyaknya mahasiswa dari luar daerah. Ia mengatakan bahwa DIY sangat beragam, dan banyak mahasiswa dari luar daerah yang mungkin takut menghadapi situasi tertentu.
“Kami sering bantu menghubungi keluarganya,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa pemerintah lebih menghargai jika seseorang memilih menyerahkan bayinya secara resmi daripada menelantarkan. Menurutnya, ia malah senang kalau bayi diserahkan, bukan dibuang.
“Saya malah senang kalau bayi diserahkan, bukan dibuang. Kami siap membantu dan memberi jalan keluar,” ucap Endang.
Sementara itu, Polresta Sleman masih menyelidiki kedua kasus tersebut. Polisi telah melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi dan menelusuri rekaman CCTV di sekitar lokasi penemuan bayi untuk mencari pelaku pembuangan. Kedua bayi kini berada dalam kondisi sehat dan aman di bawah pengawasan tenaga medis serta Dinas Sosial.