23 April 2026
AA21mQPG.jpg

Pengaruh El Nino terhadap Produksi Pertanian dan Inflasi

Badan Pusat Statistik (BPS) menanggapi fenomena El Nino dengan intensitas sangat kuat atau yang dikenal sebagai “Godzilla El Nino” yang sedang menjadi perbincangan masyarakat. Fenomena ini memicu prediksi musim kemarau yang lebih kering. Dampak dari El Nino ini dinilai dapat memengaruhi inflasi, khususnya pada komponen volatile food.

Direktur Statistik Harga BPS Sarpono menjelaskan bahwa secara umum, kondisi musiman seperti El Nino berpengaruh besar terhadap produksi. Kemarau panjang biasanya mengurangi produktivitas sektor pertanian.

“Secara prinsip ekonomi, ketika produksi tanaman yang dibutuhkan terkendala, jumlah produksi atau stok akan sedikit, sementara permintaan tetap tinggi. Hal ini bisa menyebabkan kenaikan harga,” ujarnya dalam acara Workshop Pemanfaatan Data Strategis BPS di Jakarta.

Namun, Sarpono tidak menyimpulkan bahwa fenomena Godzilla El Nino pasti akan mengganggu produksi dan berdampak pada inflasi. Ia menyatakan bahwa meskipun teori mengatakan ada pengaruh, dampak aktual belum sepenuhnya diketahui.

“Sejauh ini, kita belum bisa tahu seberapa besar pengaruhnya. Kita harus melihat data lebih lanjut,” katanya.

Antisipasi Dampak El Nino oleh Pemerintah

Sarpono memberikan masukan kepada pemerintah untuk mengantisipasi dampak luas dari El Nino, terutama terhadap volatile food atau komponen pangan dalam pergerakan inflasi. Ia menyarankan strategi seperti impor untuk menjaga stabilitas harga.

“Ini menjadi peringatan bagi pemerintah. Jika ada kondisi El Nino, maka perlu strategi yang disiapkan. Misalnya, impor bisa menjadi bagian dari early warning,” jelasnya.

Deskripsi Fenomena Godzilla El Nino

Fenomena yang dikenal sebagai ‘Godzilla El Nino’ kembali menjadi sorotan dalam proyeksi iklim 2026. Istilah ini merujuk pada kejadian El Nino dengan intensitas sangat kuat yang dapat memperparah kekeringan, krisis air, hingga gangguan produksi pangan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa El Nino adalah fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tengah hingga timur. Pemanasan ini mengubah pola sirkulasi atmosfer global sehingga distribusi awan dan curah hujan bergeser.

Akibatnya, wilayah seperti Indonesia mengalami penurunan pembentukan awan dan hujan, sementara curah hujan meningkat di kawasan Pasifik. Istilah ‘Godzilla El Nino’ bukanlah fenomena baru, melainkan penggambaran untuk El Nino dengan kekuatan sangat besar, termasuk salah satu yang terkuat sejak 1950.

Dampak Kombinasi El Nino dan IOD Positif

Penyematan nama ‘Godzilla’ menggambarkan dampak yang masif dan destruktif, terutama ketika El Nino terjadi bersamaan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Dalam kondisi tersebut, suhu permukaan laut di sekitar Sumatera dan Jawa mengalami pendinginan yang semakin menekan pembentukan awan hujan dan memperparah kekeringan.

Kombinasi El Nino kuat dan IOD positif berpotensi menciptakan kondisi kemarau yang datang lebih cepat, berlangsung lebih lama, dan lebih kering dari biasanya. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksi kondisi ini dapat terjadi di Indonesia pada periode April hingga Oktober 2026.

Prediksi Musim dan Peringatan BMKG

Model prediksi musim menunjukkan sebagian besar wilayah Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara Timur akan mengalami kemarau kering, sementara beberapa wilayah di Sulawesi, Maluku, dan Halmahera masih berpotensi menerima curah hujan relatif tinggi.

Dalam Rapat Koordinasi Kebakaran Hutan, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa situasi iklim tahun 2026 cenderung lebih kering dibandingkan normal. Ia mengatakan ada indikasi musim kemarau akan datang lebih awal dan berlangsung lebih panjang.

Meski saat ini ENSO masih berada pada fase netral, pada semester kedua 2026 diprediksi akan berkembang menuju El Nino dengan intensitas lemah hingga moderat dengan peluang sekitar 50 hingga 80 persen.

Risiko Kebakaran Hutan dan Lahan

Indikasi awal dampak El Nino mulai terlihat. Hingga awal April 2026, jumlah titik panas (hotspot) di Indonesia tercatat mencapai 1.601 titik, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya.

Peningkatan ini menjadi sinyal meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan, terutama memasuki musim kemarau. BMKG memprediksi potensi karhutla akan mulai meningkat di wilayah Riau pada Juni, kemudian meluas ke Jambi dan Sumatera Selatan, serta berlanjut ke Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan pada periode Juli hingga Agustus.

Upaya Mitigasi oleh BMKG

Kondisi lahan gambut yang mengering menjadi faktor utama yang memperbesar risiko tersebut. Sebagai langkah mitigasi, BMKG memperkuat pendekatan preventif melalui operasi modifikasi cuaca (OMC), khususnya dengan metode pembasahan lahan atau rewetting.

Upaya ini dilakukan untuk menjaga tinggi muka air tanah di lahan gambut agar tetap lembap dan tidak mudah terbakar. Selain itu, BMKG juga mengandalkan berbagai instrumen pemantauan seperti Fire Danger Rating System (FDRS) untuk memetakan tingkat kerawanan kebakaran, pemantauan hotspot dan sebaran asap, serta prediksi pertumbuhan awan hujan sebagai dasar intervensi. Diseminasi informasi peringatan dini dan evaluasi berkala terhadap efektivitas operasi juga terus diperkuat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *