Posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Februari 2026 tercatat sebesar US$ 437,9 miliar atau setara dengan Rp 7.507 triliun (kurs Rp 17.140 per dolar Amerika Serikat). Angka ini mengalami kenaikan sebesar US$ 3 miliar dibandingkan posisi ULN pada Januari 2026 yang tercatat sebesar US$ 434,9 miliar atau setara dengan Rp 7.455,7 triliun.
Secara tahunan (year on year), pertumbuhan ULN Indonesia pada Februari mencapai 2,5 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya yang hanya sebesar 1,7 persen. Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Anton Pinoto, menjelaskan bahwa peningkatan posisi ULN tersebut terutama didorong oleh ULN sektor publik, khususnya bank sentral, akibat aliran masuk modal asing ke instrumen moneter seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Sementara itu, ULN sektor swasta justru mengalami penurunan.
Dari segi rincian, posisi ULN pemerintah pada Februari 2026 tercatat sebesar US$ 215,9 miliar atau tumbuh 5,5 persen secara tahunan. Perkembangan ini dipengaruhi oleh penurunan posisi surat utang. Penggunaan ULN pemerintah juga beragam, seperti untuk mendukung Sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial yang mencakup 22,0 persen dari total ULN pemerintah; Administrasi Pemerintah, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib sebesar 20,3 persen; Jasa Pendidikan sebesar 16,2 persen; Konstruksi sebesar 11,6 persen; serta Transportasi dan Pergudangan sebesar 8,5 persen.
Menurut Anton, ULN pemerintah didominasi oleh utang jangka panjang yang mencapai 99,98 persen dari total utang pemerintah. Penyebab peningkatan ULN Bank Indonesia adalah kenaikan kepemilikan non-residen terhadap instrumen moneter yang diterbitkan oleh BI, sejalan dengan operasi moneter pro-market dan upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Selanjutnya, posisi ULN swasta pada Februari 2026 tercatat sebesar US$ 193,7 miliar atau turun 0,7 persen secara tahunan. Perkembangan ULN swasta ini dipengaruhi oleh kelompok peminjam lembaga keuangan dan perusahaan bukan lembaga keuangan yang masing-masing mengalami penurunan sebesar 2,8 persen (year on year) dan 0,2 persen.
Berdasarkan sektor ekonomi, ULN swasta terbesar berasal dari Sektor Industri Pengolahan; Jasa Keuangan dan Asuransi; Pengadaan Listrik dan Gas; serta Pertambangan dan Penggalian, dengan pangsa mencapai 80,3 persen dari total utang swasta. ULN swasta didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 76,0 persen dari total ULN swasta.
Anton menilai struktur utang luar negeri Indonesia tetap sehat. Hal ini terlihat dari rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang tercatat sebesar 29,8 persen, serta dominasi ULN jangka panjang yang mencapai 84,9 persen dari total utang. Dalam rangka menjaga struktur ULN yang sehat, Bank Indonesia dan pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN.