Aliran Modal Asing di Pasar Surat Berharga Negara (SBN) Masih Cenderung Perlahan
Di pasar surat berharga negara (SBN), aliran modal asing terpantau masih bertahan pada tingkat yang perlahan. Para analis mengamati bahwa beberapa faktor seperti suku bunga dan pelemahan rupiah menjadi fokus utama bagi para investor.
Berdasarkan data dari PHEI, secara tahunan hingga saat ini, posisi investor asing di SBN mencatatkan net outflow sekitar Rp21 triliun. Meski demikian, porsi kepemilikan asing yang masih di bawah rata-rata historis menunjukkan adanya ruang untuk potensi peningkatan di masa depan.
Perbaikan Imbal Hasil SBN
Dari sisi imbal hasil, yield SBN mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Sepanjang tahun ini, yield bergerak secara volatil dengan kecenderungan menurun terbatas, mengikuti pergerakan yield global. Memasuki April, yield mulai stabil dan cenderung turun. Untuk tenor 10 tahun, yield berada di kisaran 6,68% atau naik sekitar 51,27 basis poin sejak awal tahun.
Performa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
Di pasar saham, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan dengan performa yang gemilang selama periode perdagangan 6 April 2026 hingga 10 April 2026. IHSG berhasil menguat signifikan sebesar 6,14% dan parkir di level 7.458,496, naik dari posisi penutupan pekan sebelumnya di level 7.026,782.
Pandangan Kepala Departemen Riset dan Informasi Pasar PHEI
Salvian Fernando, Kepala Departemen Riset dan Informasi Pasar PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) menilai penguatan IHSG mencerminkan mulai pulihnya minat risiko atau risk appetite investor terhadap aset Indonesia. Namun, transmisi sentimen positif tersebut belum sepenuhnya mengalir ke pasar obligasi.
Investor global dinilai lebih sensitif terhadap faktor eksternal seperti arah suku bunga global dan stabilitas nilai tukar, dibandingkan dengan pergerakan di pasar ekuitas.
“Untuk pasar SBN, aliran asing masih cenderung lebih gradual. Investor global umumnya lebih sensitif terhadap faktor suku bunga global dan stabilitas nilai tukar dibandingkan pasar saham, sehingga transmisi rebound equity ke bond belum sepenuhnya kuat,” ujarnya.
Dia memproyeksikan ke depan, peluang kembalinya aliran dana asing ke pasar obligasi Indonesia masih terbuka. Sejumlah faktor kunci yang akan menjadi penentu antara lain arah kebijakan suku bunga global, khususnya dari bank sentral AS, stabilitas nilai tukar rupiah, tingkat inflasi domestik yang terjaga, serta kredibilitas fiskal pemerintah.
Pandangan Ekonom KB Valbury Sekuritas
Fikri C. Permana, Ekonom KB Valbury Sekuritas menilai minat asing mulai muncul, meskipun belum besar. Indikasi tersebut terlihat dari penurunan yield dan kenaikan harga obligasi.
“Kenaikan IHSG diikuti dengan penurunan yield obligasi serta penguatan indeks obligasi, meskipun arus dana asing secara kumulatif masih terbatas,” ujarnya.
Dia menambahkan bahwa investor saat ini cenderung memburu obligasi tenor menengah, baik dari kalangan asing maupun domestik. Pergerakan pasar obligasi juga relatif sejalan dengan penguatan IHSG, meskipun arus dana asing secara keseluruhan masih terbatas.
Faktor yang Mempengaruhi Investasi Asing
Ke depan, peluang masuknya kembali investor asing ke pasar SBN sangat bergantung pada meredanya ketidakpastian global, terutama konflik geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat. Ketegangan ini berdampak luas, mulai dari lonjakan harga minyak hingga tekanan inflasi global.
Selain itu, faktor domestik seperti stabilitas nilai tukar rupiah, inflasi yang terjaga, serta kredibilitas fiskal pemerintah juga menjadi pertimbangan utama investor asing. Diikuti dengan selisih imbal hasil atau yield spread yang tetap menarik dibandingkan obligasi global menjadi daya tarik tambahan.