19 April 2026
AA20WiNR.jpg

Penjelasan Direktur Utama JFX Mengenai Pergerakan Harga Emas

Direktur Utama PT Bursa Berjangka Jakarta (JFX) Yazid Kanca Surya memberikan penjelasan mengenai alasan harga emas tidak selalu meningkat meskipun komoditas ini sering dianggap sebagai aset aman. Ia menjelaskan bahwa pergerakan harga emas dalam situasi ketidakpastian geopolitik sangat dipengaruhi oleh dinamika sektor energi.

Yazid menekankan bahwa kebutuhan likuiditas untuk memenuhi pasokan energi sering kali memaksa negara-negara menjual cadangan emas mereka. “Energi bagi beberapa negara yang memiliki pasokan emas tinggi, mereka harus memiliki likuiditas yang tinggi. Banyak emas dijual di pasar. Untuk apa? Untuk membeli energi,” ujarnya saat berbicara di Jakarta pada Rabu, 15 April 2026.

Hal ini menyebabkan pergerakan harga emas bertolak belakang dengan teori ekonomi konvensional. Di tengah konflik yang meningkat, harga emas justru bisa melemah karena tekanan likuiditas. “Harusnya emas naik, dong, itu safe haven commodity. Tapi enggak (naik), itu turun. Kenapa? Karena yang diganggu energi.”

Perubahan Perilaku Pasar Komoditas Global

Lebih lanjut, Yazid menyoroti pergeseran perilaku pasar komoditas global. Sebelumnya, pelaku pasar lebih fokus pada efisiensi harga termurah, tetapi kini orientasi bergeser pada kepastian pasokan. Hal ini mendorong JFX sebagai bursa berjangka untuk memperkuat ekosistem perdagangannya.

Beberapa langkah yang dilakukan JFX antara lain:
* Mendorong pengembangan kontrak yang lebih fleksibel dan mudah diakses.
* Memperluas partisipasi investor ritel.
* Meningkatkan konektivitas dengan pasar global.
* Memperkaya ragam produk untuk mendukung kebutuhan lindung nilai.

Inovasi Produk Baru di JFX

Dari sisi inovasi, JFX sedang menyiapkan kontrak berukuran mikro dan nano untuk sejumlah komoditas seperti emas, perak, tembaga, dan energi. Produk ini dirancang untuk memperluas inklusi pasar, terutama bagi investor dengan modal terbatas.

Selain itu, JFX juga sedang mengembangkan perdagangan emas digital yang menggabungkan kemudahan transaksi berbasis teknologi dengan kepastian underlying emas fisik. Skema ini diharapkan dapat menyeimbangkan aspek aksesibilitas dan keamanan bagi investor.

Penguatan Ekosistem Perdagangan

Sejalan dengan hal tersebut, Yazid menyampaikan bahwa JFX terus mendorong penguatan ekosistem perdagangan yang transparan, terawasi, serta memberikan perlindungan lebih baik bagi seluruh pelaku pasar. Dari sisi kinerja, sejumlah produk unggulan JFX mencatat kontribusi signifikan terhadap aktivitas perdagangan.

Pada sektor komoditas fisik, JFX menguasai lebih dari 95 persen pangsa pasar ekspor timah Indonesia, dengan nilai transaksi mencapai sekitar US$ 1,7 miliar pada 2025. Sedangkan pada perdagangan derivatif, kontrak olein (OLE01) berkontribusi sebesar 38,7 persen terhadap total volume transaksi Exchange Traded Derivatives (ETD) JFX atau setara dengan 615.028 lot. Adapun kontrak Loco Gold mendominasi transaksi over-the-counter (OTC) dengan porsi mencapai 85,2 persen dari total volume.

Diversifikasi Produk JFX

Selain komoditas, JFX juga menawarkan produk berbasis efek global melalui skema PALN yang mencakup perdagangan saham dan exchange-traded fund (ETF) Amerika Serikat. Produk ini menjadi bagian dari diversifikasi instrumen JFX, dengan tren transaksi yang terus menunjukkan pertumbuhan dalam beberapa tahun terakhir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *