21 April 2026
AA20VFcY.jpg



Penggunaan transportasi umum menjadi salah satu solusi utama dalam menghadapi potensi kenaikan harga dan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM). Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Inisiatif Strategis Transportasi (Instran), M. Budi Susandi, yang menilai bahwa isu BBM saat ini tidak dapat dipisahkan dari dinamika global yang memicu risiko gangguan pasokan dan kenaikan harga.

Menurut Budi, kondisi tersebut harus direspons dengan langkah konkret yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, industri hingga masyarakat. Ia menyatakan bahwa tujuan efisiensi bahan bakar bisa tercapai jika semua pihak saling bersinergi.

Salah satu langkah yang dinilai efektif adalah mendorong penggunaan transportasi publik secara lebih luas. Budi menyebut, sejumlah kebijakan seperti kewajiban aparatur sipil negara (ASN) menggunakan angkutan umum mulai menunjukkan arah positif. Di beberapa daerah, termasuk Jakarta, ASN diwajibkan menggunakan transportasi umum setiap hari Rabu.

Ia menilai kebijakan tersebut bisa diperluas dan dijadikan praktik nasional, termasuk dengan pemberian insentif bagi pengguna angkutan umum. Contohnya, di Palu, ASN yang menggunakan transportasi umum akan mendapatkan insentif. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan yang tepat dapat memberikan motivasi kepada masyarakat untuk beralih ke transportasi umum.

Selain mendorong transportasi publik, Instran juga mengusulkan percepatan peralihan ke kendaraan listrik sebagai bagian dari strategi efisiensi energi. Budi menyatakan bahwa konversi penggunaan kendaraan listrik merupakan salah satu solusi yang diusulkan oleh teman-teman industri.

Namun, ia mengakui masih terdapat tantangan dalam implementasi, terutama terkait pembiayaan dan infrastruktur pendukung kendaraan listrik. Meski demikian, ia menegaskan bahwa masalah ini harus diselesaikan bersama-sama.

Instran juga menekankan pentingnya kebijakan jangka panjang yang konsisten lintas pemerintahan agar upaya pengurangan konsumsi BBM dapat berjalan berkelanjutan. Budi berharap pemerintah ke depan, baik di masa Presiden Prabowo maupun presiden berikutnya, tetap menjunjung kepedulian terhadap penurunan penggunaan bahan bakar fosil.

Menurut Budi, penguatan transportasi publik dan peralihan energi tidak hanya berdampak pada penghematan subsidi BBM, tetapi juga berkontribusi pada penurunan polusi udara dan beban kesehatan masyarakat. Dengan penghematan APBN, uang tersebut dapat dialokasikan untuk sektor pendidikan dan kesehatan yang lebih bermanfaat.

Dengan demikian, Instran mendorong agar pemerintah tidak hanya mengandalkan imbauan, tetapi memperkuat kebijakan yang mampu mendorong peralihan moda transportasi secara masif dan berkelanjutan. Langkah-langkah ini diharapkan dapat memberikan dampak positif jangka panjang terhadap ekonomi, lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *