19 April 2026
AA20j3wq.jpg

Rugi Bersih ADHI Membengkak Drastis pada 2025

PT Adhi Karya Tbk (ADHI), salah satu emiten konstruksi pelat merah, mencatatkan rugi bersih yang sangat besar sebesar Rp 5,40 triliun sepanjang tahun 2025. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya, yaitu sebesar Rp 86,75 miliar atau meningkat hingga 6.127% secara tahunan (year on year / YoY).

Berdasarkan laporan keuangannya, pendapatan ADHI pada 2025 juga mengalami penurunan signifikan sebesar 27,6% YoY menjadi Rp 9,6 triliun dari sebelumnya Rp 13,35 triliun pada 2024. Sementara itu, beban pokok pendapatan perusahaan mencapai Rp 8,61 triliun. Akibatnya, laba bruto ADHI hanya tercatat sebesar Rp 1,04 triliun sepanjang 2025.

Penyebab Lonjakan Rugi

Manajemen ADHI menjelaskan bahwa lonjakan rugi tersebut terutama disebabkan oleh pembukuan biaya nonoperasional. Biaya tersebut muncul dari tiga langkah penyehatan yang dilakukan secara simultan.

  • Pertama, penyesuaian nilai wajar aset seiring dengan program restrukturisasi BUMN karya yang diinisiasi Danantara. Penyesuaian ini berdampak signifikan pada dua anak usaha properti, yakni PT Adhi Persada Properti dan PT Adhi Commuter Properti Tbk.
  • Kedua, melambatnya sektor properti dan melemahnya daya beli masyarakat memicu koreksi nilai realisasi bersih (NRV) berdasarkan appraisal KJPP. Koreksi tersebut kemudian dicatat sebagai cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN).
  • Ketiga, tindak lanjut temuan audit yang meminta perseroan melakukan pencadangan yang cukup dan konservatif.

Struktur Keuangan ADHI

Total aset ADHI per 31 Desember 2025 mencapai Rp 28,8 triliun, dengan liabilitas sebesar Rp 25,5 triliun. Sementara itu, ekuitas tercatat sebesar Rp 3,3 triliun, sejalan dengan pembukuan biaya penyehatan pada periode berjalan. Rasio debt to equity ratio (DER) berbasis interest bearing debt masih berada di bawah batas covenant, yaitu sebesar 2,41 kali.

Perolehan Kontrak Baru

Dari sisi operasional, ADHI membukukan perolehan kontrak baru sebesar Rp 18,1 triliun hingga akhir 2025. Mayoritas berasal dari lini engineering & konstruksi sebesar 91%, disusul manufaktur 5%, property & hospitality 3%, serta investasi & konsesi 1%.

Kontrak baru didominasi proyek gedung sebesar 43%, diikuti infrastruktur sumber daya air 15%, jalan & jembatan 14%, serta sektor lainnya. Dari sisi sumber pendanaan, proyek pemerintah mendominasi dengan porsi 69%, diikuti BUMN 23%, dan sisanya dari swasta.

Realisasi Produksi dan Pendapatan

Sepanjang 2025, total produksi ADHI mencapai Rp 16,6 triliun. Dari jumlah tersebut, sebesar Rp 9,7 triliun dibukukan sebagai pendapatan usaha non-joint operation (non-JO), sedangkan sisanya berkontribusi melalui laba JO sebesar Rp 462 miliar.

Kontribusi terbesar pendapatan usaha berasal dari proyek infrastruktur. Di antaranya yaitu proyek Jalan Tol Yogyakarta–Bawen, Jalan Tol Yogyakarta–Solo–Kulon Progo, serta proyek PUSRI III-B.

Prospek 2026

Meski mencatatkan penyesuaian nilai, manajemen Adhi Karya menyatakan bahwa perseroan tetap memiliki fondasi kuat untuk pemulihan kinerja ke depan. Menurut mereka, ADHI masih memiliki piutang dari sejumlah proyek besar, seperti LRT Jabodebek dan proyek Tol Aceh–Sigli. Realisasi piutang tersebut diharapkan dapat mendorong arus kas perseroan secara signifikan.

Selain itu, ADHI memiliki pipeline proyek di berbagai segmen infrastruktur, dengan fokus pada hilirisasi dan green construction. Perseroan terlibat sebagai kontraktor dalam sejumlah proyek hilirisasi, antara lain PUSRI IIIB, pembangunan coal handling ICB milik PT Bukit Asam Tbk (PTBA), serta proyek PLTMG Tobelo.

Di sisi lain, ADHI juga aktif dalam proyek berbasis keberlanjutan, seperti pengembangan fasilitas pengelolaan lingkungan di kawasan industri Medan, yang membuka peluang pada proyek-proyek green infrastructure.

Fokus pada Peningkatan Kualitas Bisnis

Memasuki 2026, manajemen memproyeksikan pertumbuhan pasar konstruksi diperkirakan akan didorong oleh belanja Kementerian Pekerjaan Umum serta capital expenditure (capex) anak usaha Danantara. Sebagai pemegang saham mayoritas, Danantara terus berkoordinasi dengan perseroan dalam proses penyehatan BUMN karya.

Dengan telah dibukukannya penyesuaian nilai pada 2025, ADHI memasuki 2026 dengan fokus pada peningkatan kualitas bisnis secara menyeluruh, khususnya pada penguatan bisnis inti konstruksi dan inovasi proses bisnis.

“Mengedepankan streamlining bisnis melalui divestasi sesuai dengan tata kelola perusahaan yang baik sejalan dengan program yang dicanangkan oleh Danantara,” ungkap manajemen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *