22 April 2026
AA1ZG9wm.jpg

Dampak Perang AS-Israel dengan Iran pada Logistik dan Pelayaran di Indonesia

Perang antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran yang telah berlangsung lebih dari sebulan memiliki dampak signifikan terhadap aktivitas logistik dan bongkar muat di Indonesia. Jalur pelayaran internasional yang terkena imbas eskalasi geopolitik tersebut menyebabkan keterlambatan kedatangan kapal-kapal dari berbagai negara yang singgah di Indonesia. Selain itu, tarif sewa kapal offshore support vessel (OSV) juga berpotensi melonjak dalam jangka pendek.

Direktur Utama PT Terminal Teluk Lamong (TTL), David Pandapotan Sirait, mengungkapkan bahwa akibat gejolak tersebut, sebanyak 85% kapal internasional mengalami penundaan kedatangan ke Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Pelabuhan ini merupakan salah satu pilar penting dalam simpul pelayanan nasional, khususnya di wilayah Indonesia Timur.

Menurut David, eskalasi konflik membuat banyak kapal tidak dapat melintasi rute normal dan terpaksa memutar jalur. Hal ini berdampak langsung pada jadwal sandar di berbagai terminal peti kemas Surabaya, di mana keterlambatan bisa mencapai satu minggu.

“Dampak perang Iran, AS, dan Israel membuat kegiatan ekspor-impor terkendala. Banyak kapal tidak bisa lewat rute normal dan harus memutar. Data kami selaras dengan terminal peti kemas lainnya, di mana sekitar 85% kapal mengalami delay, bahkan hingga satu minggu,” ujar David.

David menjelaskan bahwa terdapat dua layanan langsung ke India dan Timur Tengah dengan dominasi muatan ekspor di TTL. Satu layanan menangani sekitar 20.000 TEUs pada tahun lalu. Dalam tiga bulan terakhir, tambahan layanan baru masuk, termasuk dari perusahaan pelayaran Evergreen Marine yang membuka rute langsung ke Timur Tengah.

“Tercatat sebanyak tiga shipping line Asia melayani rute langsung ke Timur Tengah dan India Subcontinent. Target pengiriman tahun ini meningkat signifikan, dari 30.000 menjadi 75.000 TEUs. Setiap pekan, sekitar 1.000 hingga 1.500 TEUs dikirim langsung, tanpa transit di Singapura atau Malaysia,” papar David.

Mewakili operator, David menegaskan bahwa keterlambatan tersebut bukan disebabkan oleh ketidaksiapan terminal, melainkan efek domino dari terganggunya rute pelayaran internasional. Jika beberapa kapal tiba secara bersamaan, maka kapal harus menunggu sesuai antrean sandar.

Selain itu, sejumlah pelabuhan juga mengalami omission atau pembatalan singgah. Volume muatan yang kecil sering menjadi pertimbangan perusahaan pelayaran untuk melewati pelabuhan tertentu.

Potensi Kenaikan Tarif Sewa Kapal OSV

Sementara itu, perang antara Iran vs Israel-AS juga dikabarkan dapat berpotensi mendongkrak tarif sewa kapal OSV dalam jangka pendek akibat terganggunya pasokan kapal di sejumlah wilayah operasi minyak dan gas (migas).

Direktur Utama PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk. (ELPI), Eka Taniputra, mengakui bahwa kondisi tersebut dapat memicu naiknya aktivitas eksplorasi energi sekaligus mendorong peningkatan permintaan kapal penunjang industri migas yang dapat berdampak positif bagi perseroan dalam jangka pendek.

“Meskipun kami tidak berharap situasi perang akan berkepanjangan. Namun, kami melihat dampaknya justru positif dalam jangka pendek karena harga minyak berpotensi naik sehingga aktivitas eksplorasi juga meningkat,” ujar Eka.

Menurutnya, kenaikan harga minyak secara umum akan mendorong sejumlah perusahaan migas untuk meningkatkan aktivitas eksplorasi maupun pengeboran.

“Kondisi tersebut pada akhirnya akan meningkatkan kebutuhan terhadap kapal penunjang operasi lepas pantai,” ucapnya.

Perubahan Pasokan dan Permintaan Kapal Offshore

Eka menyebut konflik geopolitik tersebut secara faktual menyebabkan sejumlah kapal yang beroperasi di kawasan Timur Tengah tidak dapat keluar dari wilayah operasinya, di mana hal itu dapat menimbulkan keterbatasan pasokan kapal di pasar regional.

Akibatnya, lanjut dia, keseimbangan supply dan demand kapal offshore berpeluang besar untuk dapat berubah dalam waktu dekat.

“Dengan beberapa kapal yang tidak bisa keluar dari wilayah operasi, maka pasokan kapal offshore menjadi berkurang sementara permintaan meningkat,” sebutnya.

Lebih lanjut, dirinya mengungkapkan bahwa pihaknya memperkirakan dalam waktu sekitar satu bulan ke depan, tarif sewa kapal OSV di kawasan regional akan mulai mengalami kenaikan.

Meski begitu, Eka menilai bahwa kenaikan tarif tersebut kemungkinan bersifat sementara dan sangat bergantung pada perkembangan kondisi geopolitik global.

“Kenaikan tarif kemungkinan hanya bersifat temporer. Jika tensi geopolitik mereda, maka tarif charter kapal juga akan kembali normal,” katanya.

Eka juga membeberkan bahwa ELPI saat ini juga memiliki dua kapal yang tengah beroperasi di kawasan Timur Tengah untuk mendukung kegiatan eksplorasi migas milik Saudi Aramco. Kapal-kapal tersebut dilaporkan masih beroperasi secara normal di tengah situasi kawasan tersebut yang tengah memanas.

“Kedua kapal tersebut dilaporkan masih beroperasi normal meskipun perusahaan tetap menerapkan langkah kehati-hatian dalam operasionalnya,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *