19 April 2026
AA1ZCWdc.jpg

Tingkat Hunian Hotel di Bandung Meningkat Selama Libur Lebaran 2026

Selama libur Lebaran 2026, tingkat hunian hotel di Kota Bandung mengalami peningkatan signifikan. Hal ini terjadi karena jumlah wisatawan yang datang ke kota tersebut meningkat secara drastis. Peningkatan ini memberikan dampak positif terhadap sektor perhotelan dan ekonomi secara keseluruhan.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyampaikan bahwa okupansi hotel bintang tiga hingga bintang lima mengalami kenaikan pengunjung di atas 50 persen dibandingkan hari-hari biasa. “Hotel bintang tiga sampai bintang lima di atas 50 persen, rata-rata mendekati 50 persen dengan jumlah kamar yang sangat banyak,” ujarnya dalam keterangannya pada Sabtu, 28 Maret 2026.

Pada masa puncak libur Lebaran 2026, yaitu pada H+2 dan H+3 Lebaran, tingkat okupansi hotel mencapai angka di atas 90 persen. “Tingkat hunian hotel sampai di atas 90 persen pada H-2 dan H+3,” kata Farhan.

Sebagian besar wisatawan yang datang ke Bandung berasal dari luar kota, khususnya wilayah Jabodetabek. Mereka memilih untuk menginap di hotel dan menikmati liburan Lebaran 2026 di kota ini. Selain itu, terjadi peningkatan volume penumpang sebesar 15 persen selama periode libur lebaran tahun ini. Data sementara mencatat total kunjungan mencapai lebih dari 723 ribu orang.

Dampak Positif terhadap Sektor Ekonomi

Peningkatan jumlah wisatawan ini berdampak positif terhadap sektor ekonomi di Kota Bandung, terutama sektor perhotelan. Farhan mengimbau kepada pengusaha hotel untuk tetap mempertahankan kualitas pelayanan agar dapat memberikan pengalaman terbaik bagi para tamu.

Ia juga mengajak pelaku usaha di Kota Bandung untuk berkolaborasi dan mengambil peran strategis dalam meningkatkan perekonomian kota. “Pertumbuhan ekonomi kita saat ini masih di angka 5,27 persen. Padahal sebelum pandemi bisa mencapai 7 hingga 8 persen. Artinya, kita masih punya pekerjaan besar,” ujarnya.

Tantangan dalam Mendorong Pertumbuhan Ekonomi

Menurut Farhan, masalah utama yang dihadapi Pemkot Bandung dalam mendorong pertumbuhan ekonomi adalah terkait transportasi dan industri pengolahan. Sektor transportasi terdampak akibat belum optimalnya operasional Bandara Husein Sastranegara.

“Kalau bandara kembali hidup, kontribusi sektor transportasi akan langsung terdongkrak. Ini yang sedang kita perjuangkan bersama pemerintah pusat,” ujarnya.

Sementara itu, industri pengolahan tidak kunjung berkembang karena pembatasan industri besar di dalam kota. Hal ini berdampak pada menurunnya kontribusi manufaktur di Kota Bandung. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan kebijakan yang lebih progresif dan dukungan dari berbagai pihak.

Dengan peningkatan okupansi hotel dan jumlah wisatawan, Kota Bandung memiliki potensi besar untuk terus berkembang. Namun, diperlukan kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat untuk memastikan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *