19 April 2026
ketua-umum-dewan-perwakilan-pusat-dpp-gapasdap-khoiri-soet-u2dn.jpg

Solusi untuk Mengatasi Kemacetan di Pelabuhan Gilimanuk

Kemacetan yang terjadi di Pelabuhan Gilimanuk selama arus balik Lebaran 2026 menjadi perhatian serius bagi berbagai pihak, termasuk Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai, Danau, dan Penyebrangan (Gapasdap) Pusat. Peristiwa ini tidak hanya mengganggu kelancaran lalu lintas tetapi juga menyebabkan kekhawatiran terhadap kesiapan infrastruktur penyeberangan antar pulau.

Gapasdap Pusat menawarkan beberapa solusi untuk mencegah kemacetan serupa terulang di masa mendatang. Salah satu rekomendasi utama adalah penambahan dermaga di lintasan Ketapang–Gilimanuk. Menurut Ketua Umum Gapasdap Pusat Khoiri Soetomo, penambahan dermaga akan menjadi langkah paling efektif dalam menjaga kelancaran operasional pelabuhan saat musim padat penumpang.

“Kami dari operator menyampaikan bahwa jika pemerintah menambah dermaga, khususnya di lintasan Ketapang–Gilimanuk, maka kami menjamin tidak akan terjadi kekurangan kapal, baik dari sisi jumlah, kapasitas, maupun kecepatan layanan,” ujarnya di Banyuwangi, Sabtu (28/3/2026).

Moda transportasi penyeberangan di Selat Bali sangat vital dalam memfasilitasi pergerakan masyarakat antara Pulau Bali dan Jawa. Hal ini terbukti dari keseriusan para pejabat di tingkat pusat yang bertugas di pelabuhan untuk memastikan operasional berjalan lancar selama arus mudik dan balik.

“Kami menilai sudah saatnya pemerintah memberikan perhatian lebih serius terhadap sektor ini, karena perannya sebagai angkutan massal yang sangat penting dan tidak tergantikan. Sedikit saja gangguan dalam manajemen dapat menyebabkan antrean panjang secara cepat,” ungkap Khoiri.

Masalah Kelebihan Kapal di Lintasan Ketapang–Gilimanuk

Menurut Khoiri, terjadi kelebihan kapal di lintas Ketapang-Gilimanuk karena kurangnya dermaga. Tujuh dermaga yang tersedia hanya optimal menampung sekitar 28 kapal. Sementara jumlah kapal di lintasan itu mencapai 56 unit. Sehingga banyak kapal yang tidak dapat beroperasi secara optimal.

Untuk mengatasi masalah ini, Gapasdap Pusat mengusulkan adanya pengembangan infrastruktur, seperti penyambungan akses antara Dermaga Bulusan dan Dermaga IV. Pengembangan ini diharapkan dapat meningkatkan kesiapan pelabuhan ke depan.

Selain itu, ada opsi lain yang sempat mencuat dalam pengembangan lintasan Ketapang-Gilimanuk, yaitu penggantian kapal-kapal dengan ukuran yang lebih besar. Namun, menurut Khoiri, hal tersebut bukan opsi utama karena akan ada beberapa kendala yang terjadi.

“Hal ini harus mempertimbangkan kondisi dermaga dan panjang lintasan yang relatif pendek, sekitar 2,5 mil. Sehingga diperlukan ukuran kapal yang optimal, bukan sekadar besar,” tambahnya.

Rekomendasi Pengukuran Kapasitas Kapal

Gapasdap juga mengusulkan agar kapasitas kapal tidak lagi diukur dari gross tonnage (GRT). Melainkan berdasarkan kemampuan angkut kendaraan (line meter). Ukuran ini disebut lebih relevan dalam operasional penyeberangan.

“Ke depan, dengan penambahan dermaga, peningkatan kapasitas kapal, serta optimalisasi operasional, kami yakin pelayanan penyeberangan akan menjadi jauh lebih baik dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat secara maksimal,” sambung dia.

Langkah-Langkah Penting untuk Masa Depan

Beberapa langkah strategis yang diusulkan oleh Gapasdap Pusat meliputi:

  • Penambahan dermaga untuk meningkatkan kapasitas penyeberangan.
  • Pengembangan infrastruktur, seperti penyambungan akses antara Dermaga Bulusan dan Dermaga IV.
  • Evaluasi pengukuran kapasitas kapal dari GRT menjadi line meter.
  • Optimasi operasional dan pengelolaan sistem penyeberangan.

Dengan implementasi langkah-langkah tersebut, diharapkan dapat mengurangi risiko kemacetan yang terjadi pada masa lalu dan memastikan kelancaran transportasi antar pulau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *