19 April 2026
BB1hX4Ea.jpg



Surabaya – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Juanda mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem yang akan terjadi di hampir seluruh wilayah Jawa Timur. Peringatan ini berlaku selama 10 hari, yaitu mulai tanggal 27 Maret hingga 4 April 2026.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda, Taufiq Hermawan, menjelaskan bahwa cuaca ekstrem ini dipicu oleh dampak tidak langsung dari Siklon Tropis Narelle. “Masyarakat diminta waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat menyebabkan bencana hidrometeorologi seperti hujan sedang hingga lebat, banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, puting beliung, serta hujan es,” ujarnya pada Jumat (27/3).

Taufiq menambahkan bahwa saat ini Jawa Timur sedang memasuki masa pancaroba. Namun, keberadaan siklon di barat Australia dan selatan Nusa Tenggara Barat meningkatkan gangguan atmosfer secara signifikan. BMKG mencatat bahwa potensi cuaca ekstrem ini bisa memicu berbagai risiko bencana seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, puting beliung, hingga hujan es.

Beberapa wilayah di Jawa Timur diminta untuk meningkatkan kewaspadaan. Wilayah-wilayah tersebut antara lain Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Gresik, Kediri, Malang, Madiun, Lumajang, Magetan, Mojokerto, Nganjuk, Ngawi, Pacitan, Ponorogo, Probolinggo, Sampang, Sidoarjo, Situbondo, Trenggalek, Tulungagung, Jember, Pasuruan, Bojonegoro, Jombang, Lamongan, dan Tuban. Selain itu, sejumlah kota seperti Surabaya, Batu, Mojokerto, Pasuruan, dan Probolinggo juga masuk dalam daftar wilayah rawan.

Berdasarkan analisis BMKG, Siklon Tropis Narelle diprediksi akan meningkat menjadi kategori 4 dan bergerak ke arah barat daya. Meski jauh dari Indonesia, dampaknya menyebabkan terbentuknya pola konvergensi di Laut Jawa. Kondisi ini diperkuat oleh pengaruh gelombang atmosfer seperti Gelombang Rossby dan Gelombang Kelvin.

“Suhu permukaan laut menunjukkan aktivitas penguapan cukup signifikan di Selat Madura, yang merupakan dampak tidak langsung dari Siklon Tropis Narelle. Selain itu, kondisi atmosfer lokal yang labil turut mendukung pertumbuhan awan-awan konvektif,” jelas Taufiq.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa atmosfer di Jawa Timur dalam kondisi labil dengan tingkat konvektif sedang. BMKG mengimbau masyarakat, terutama yang tinggal di daerah perbukitan dan pegunungan, untuk tetap waspada terhadap potensi longsor dan jalan licin. Warga juga diminta mengantisipasi kemungkinan pohon tumbang akibat angin kencang serta rutin memantau perkembangan cuaca.

“Selalu waspada terhadap perubahan cuaca yang mendadak dalam beberapa hari ke depan,” tutur Taufiq.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *