Harga emas dunia mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah mengalami penurunan yang signifikan dalam beberapa hari terakhir. Meski sebelumnya tertekan, prospek harga emas dalam jangka menengah masih cenderung positif.
Berdasarkan data dari Trading Economics, harga emas mengalami penurunan tajam pada periode 18 hingga 23 Maret 2026. Pada Rabu (18/3/2026), harga turun sebesar 3,74%. Keesokan harinya, Kamis (19/3/2026), harga kembali melemah sebesar 3,51%, dan pada Jumat (20/3/2026) turun lagi sebesar 3,48% hingga penutupan perdagangan. Tekanan berlanjut pada Senin (23/3/2026) dengan pelemahan sebesar 1,79%.
Namun, harga emas mulai memperbaiki diri pada Selasa (24/3/2026) dengan kenaikan sebesar 1,49%, diikuti oleh kenaikan lebih besar pada Rabu (25/3/2026) sebesar 1,90%. Saat ini, harga emas berada di level US$ 4.557 per ons troi.
Analis komoditas dan pendiri Traderindo.com, Wahyu Laksono, menyatakan bahwa harga emas sedang dalam fase pemulihan yang agresif setelah mengalami koreksi sehat pada pertengahan Maret.
“Kenaikan 1,90% dalam satu hari menunjukkan adanya akumulasi besar dari pembeli yang berhasil mematahkan tren penurunan singkat sebelumnya,” ujar Wahyu.
Ia memproyeksikan bahwa dalam sepekan ke depan, harga emas akan bergerak di rentang support US$ 4.000 per ons troi dan resistance US$ 4.740 per ons troi. Jika level tersebut dapat ditembus, maka support dan resistance berikutnya adalah US$ 3.880 per ons troi dan US$ 5.000 per ons troi.
Wahyu melihat prospek emas pada kuartal II tahun 2026 masih bullish. Hal ini didorong oleh ekspektasi perubahan arah kebijakan moneter The Fed.
“Pasar mulai memperhitungkan pemangkasan suku bunga yang biasanya menjadi bahan bakar utama bagi kenaikan harga emas karena menurunnya biaya peluang (opportunity cost) memegang aset tanpa bunga,” kata Wahyu.
Selain itu, ketidakpastian geopolitik serta pembelian emas oleh bank sentral, khususnya di Asia, dinilai akan menjadi penopang harga emas.
Wahyu memproyeksikan harga emas pada kuartal II berada di kisaran support US$ 3.880 per ons troi dan resistance US$ 5.000 per ons troi. Jika level tersebut dapat ditembus, maka support dan resistance berikutnya adalah US$ 3.000 per ons troi dan US$ 5.600 per ons troi.
Sementara itu, Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, juga menyoroti pengaruh perkembangan konflik geopolitik Timur Tengah terhadap harga emas pada kuartal II.
Lukman memperkirakan jika Selat Hormuz masih ditutup dan harga minyak naik, maka emas berpotensi turun dengan support US$ 3.800 per ons troi. Namun, jika terjadi deeskalasi, harga emas bisa kembali berada di atas US$ 5.000 per ons troi.
Untuk jangka pendek, Lukman memperkirakan harga emas masih akan berfluktuasi di level US$ 4.100 hingga US$ 4.800 per ons troi.