19 April 2026
AA1ZmpXo.jpg

Kebijakan WFH Tidak Cukup untuk Mengatasi Krisis Energi

Di tengah arahan Presiden Prabowo Subianto mengenai penghematan energi melalui kebijakan Work From Home (WFH), pemerintah dinilai perlu mengambil langkah yang lebih mendasar dalam menghadapi krisis energi. Salah satu solusi yang disarankan adalah alokasi subsidi transportasi publik, yang dianggap lebih efektif dalam menekan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) secara nasional.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, menyatakan bahwa kebijakan WFH bukanlah solusi utama dalam menghadapi krisis energi. Ia menyarankan agar pemerintah lebih fokus pada alokasi subsidi transportasi publik secara besar-besaran.

“Jawabannya bukan WFH untuk hemat BBM tapi alokasikan subsidi transportasi publik secara besar-besaran,” ujarnya kepada Dewa News -.co.id, Rabu (25/3/2026).

Contoh Negara Lain dalam Mengatasi Krisis Energi

Bhima menyarankan Indonesia untuk mencontoh langkah negara lain yang telah berhasil memitigasi dampak krisis energi. Salah satunya adalah Spanyol yang memberikan insentif langsung kepada pengguna moda transportasi umum agar masyarakat beralih dari kendaraan pribadi.

“Spanyol tahun 2022 memberlakukan subsidi gratis untuk pengguna rutin transportasi publik. Tujuannya mengurangi efek krisis energi karena konflik Ukraina. Pemerintah bisa tiru Spanyol. Ada insentif masyarakat pakai transportasi publik tidak beli kendaraan BBM,” terangnya.

Selain transportasi publik, Bhima menekankan pentingnya percepatan elektrifikasi kendaraan pribadi untuk memutus ketergantungan pada minyak mentah dunia. Ia merujuk pada Swedia yang kini memiliki ketahanan energi tinggi berkat adopsi kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) yang masif.

“Swedia jadi negara yang imun terhadap gejolak minyak karena 61% porsi EV dari seluruh mobil baru,” paparnya.

Mitigasi di Sektor Kelistrikan

Di sisi lain, lanjut Bhima, mitigasi di sektor kelistrikan juga menjadi catatan krusial, terutama untuk daerah terpencil yang masih bergantung pada generator set (genset) bermesin diesel.

“Di sektor pembangkit listrik yang masih pakai diesel, mitigasinya dengan gantikan ke panel surya. Daerah terpencil masih andalkan genset BBM, padahal memungkinkan percepatan 100 GW,” pungkasnya.

Harga Minyak Mentah dan Asumsi APBN 2026

Untuk diketahui, berdasarkan pantauan di laman Trading Economics harga minyak mentah (crude oil WTI) hari ini berada di level US$ 89 per barel. Sementara, asumsi harga minyak mentah dalam APBN 2026 ditetapkan sebesar US$ 70 per barel.

Langkah-Langkah yang Perlu Diambil

Beberapa langkah strategis yang dapat dilakukan oleh pemerintah antara lain:

  • Meningkatkan subsidi transportasi publik agar masyarakat lebih memilih menggunakan angkutan umum daripada kendaraan pribadi.
  • Mempercepat proses elektrifikasi kendaraan pribadi dengan memberikan insentif bagi pengguna kendaraan listrik.
  • Mengganti penggunaan generator set bermesin diesel dengan sumber daya terbarukan seperti panel surya, terutama untuk daerah terpencil.
  • Melakukan evaluasi dan penyesuaian asumsi harga minyak mentah dalam APBN agar lebih realistis dan sesuai dengan kondisi pasar global.

Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan Indonesia dapat lebih siap menghadapi krisis energi dan menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *