19 April 2026
AA1W1TTj.jpg

Kebijakan KLM Berdampak pada Penurunan Suku Bunga Kredit

Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM) telah efektif dalam menurunkan suku bunga kredit, terutama di sektor prioritas. Hal ini didasarkan pada Asesmen Transmisi SBDK RDG Maret 2026 yang dirilis oleh BI pekan lalu.

Sejumlah Sektor Mengalami Penurunan Suku Bunga

Berdasarkan kelompok sektor prioritas KLM, sektor jasa, termasuk ekonomi kreatif, mengalami penurunan suku bunga sebesar 3 basis poin (bps) menjadi 7,80%. Penurunan ini didorong oleh penurunan suku bunga kredit di sektor jasa dunia usaha dan jasa sosial.

Sementara itu, sektor konstruksi, real estate, dan perumahan juga mengalami penurunan suku bunga sebesar 2 bps menjadi 6,87%. Penurunan ini didukung oleh penurunan di sektor pendukung seperti jasa dunia usaha dan jasa lainnya.

Namun, sektor pertanian, industri pengolahan, dan hilirisasi mencatat sedikit kenaikan suku bunga, meskipun sangat tipis. Suku bunga di sektor ini naik dari 8,66% menjadi 8,67%, dipengaruhi oleh kenaikan di sektor pendukung listrik, gas, dan air (LGA).

Suku Bunga di Sektor Non-KLM Masih Tinggi

Suku bunga kredit di sektor non-KLM masih berada di level dua digit. Pada Februari 2026, besaran suku bunga di sektor tersebut sebesar 10,69%, tidak berubah dibanding bulan sebelumnya.

Di segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), suku bunga kredit turun dari 10,57% di Januari 2026 menjadi 10,55% di Februari 2026. Sementara itu, suku bunga kredit segmen industri tetap stabil di 8,8% selama periode yang sama.

Perkembangan NPL di Sektor Prioritas KLM

Perkembangan suku bunga kredit di sektor prioritas KLM terjadi di tengah kenaikan rasio kredit bermasalah alias non performing loan (NPL). Meskipun demikian, secara rata-rata, NPL masih jauh di bawah batas bahaya 5%.

Namun, NPL segmen UMKM tercatat di level 4,68% di Februari 2026, naik dari 4,60% sebulan sebelumnya. NPL sektor transportasi, pariwisata, dan ekonomi kreatif juga meningkat tipis dari 1,65% menjadi 1,66%.

Dukungan KLM untuk Likuiditas dan Biaya Dana

BI menyebutkan bahwa KLM mendukung penguatan likuiditas dan penurunan biaya dana (cost of fund/Cof) bagi bank yang menyalurkan kredit ke sektor prioritas KLM. Namun, penurunan CoF di perbankan masih berjalan lambat dan belum sebanding dengan skala penurunan BI rate.

Penurunan Biaya Dana di Beberapa Bank

Beberapa bank telah mencatatkan penurunan biaya dana. Contohnya, Bank Usaha Milik Negara (BUMN) mengalami penurunan CoF sebesar 0,4% dari Juni ke level 3,16% pada Desember 2025. Bank swasta turun 0,18% menjadi 3,40%, Bank Pembangunan Daerah (BPD) turun 0,08% ke level 4,40%, dan Kantor Bank Asing turun 0,33% menjadi 1,64%.

Bank Tabungan Negara (BTN) salah satu yang berhasil menurunkan biaya dana, terutama setelah mendapat penempatan dana SAL pemerintah sebesar Rp 25 triliun. Direktur Utama BTN Nixon Napitupulu menyatakan bahwa CoF BTN terus tercatat turun sejak pertengahan 2025.

Untuk tahun ini, BTN tidak merinci target rasio biaya dana. “Kami optimistis dapat menjaga CoF tetap stabil sampai akhir tahun,” ujar Nixon.

BTN hanya memasang target pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) di kisaran 7%-9%. Melansir materi analyst meeting BTN kuartal IV-2025, CoF bank ini pada 2025 ada di level 2,9%, turun dari 4,1% pada 2024.

Bank Mandiri juga mencatatkan penurunan biaya dana pada kuartal IV-2025 menjadi sebesar 2,15%. Pada kuartal sebelumnya, biaya dana bank ini sebesar 2,31%.

Pada periode yang sama, Bank Negara Indonesia (BNI) mencatat penurunan CoF dari 2,9% menjadi 2,5%. Sedangkan Bank CIMB Niaga mencatat penurunan biaya dana dari sebesar 3,58% pada tahun 2024 menjadi tinggal 3,28% pada 2025.

EVP Corporate Communication Bank Central Asia (BCA) Hera F. Haryn mengatakan bahwa BCA akan mengupayakan CoF tahun ini sejalan dengan porsi dana murah alias CASA perseroan ini yang terus bertumbuh.

“Per Desember 2025, CASA tumbuh 13,1% secara tahunan mencapai Rp 1.045 triliun, sekitar 84,6% dari total DPK. CASA masih menjadi kontributor utama pendanaan BCA,” terang Hera.

Direktur OK Bank Indonesia Efdinal Alamsyah mengatakan bahwa penurunan CoF bank ini tak sebesar penurunan BI rate karena masih dipengaruhi struktur DPK dan likuiditas. Tapi, bank ini optimistis CoF dapat ditekan pada 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *