Ancaman Iran terhadap Infrastruktur AS dan Israel
Iran mengancam akan menyerang semua infrastruktur energi, teknologi informasi, dan penyulingan air milik Amerika Serikat (AS) dan Israel di kawasan Timur Tengah sebagai respons atas ancaman Donald Trump. Sebelumnya, Trump mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik di Iran jika Teheran tidak segera membuka blokir Selat Hormuz dalam waktu 48 jam.
Dalam sebuah pernyataan yang dikutip oleh Fars News Agency, juru bicara Pusat Markas Khatam al-Anbiya, badan yang mengawasi operasi militer Iran, menyatakan bahwa jika infrastruktur energi dan bahan bakar Iran diserang musuh, maka seluruh infrastruktur energi, teknologi informasi, dan penyulingan air milik rezim AS dan Israel akan menjadi target.
Peringatan dari Menteri Luar Negeri Iran
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, juga memberikan peringatan serupa, menyatakan bahwa Iran tidak akan tinggal diam jika infrastrukturnya diserang. Hal ini menunjukkan meningkatnya ketegangan di kawasan yang telah memicu gangguan di Selat Hormuz sejak awal Maret 2026. Gangguan tersebut berdampak pada kenaikan harga minyak dunia.
Rancangan Undang-Undang untuk Tarif di Selat Hormuz
Sementara itu, Iran tengah mempertimbangkan rancangan undang-undang yang mewajibkan negara-negara membayar biaya bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz. Menurut laporan media Iran, rancangan tersebut mengusulkan pengenaan tarif bagi kapal yang menggunakan jalur laut strategis tersebut, yang merupakan salah satu rute terpenting bagi pasokan energi global.
Seorang anggota parlemen di Teheran menjelaskan bahwa usulan ini bertujuan mewajibkan pembayaran dan pajak kepada Iran jika Selat Hormuz digunakan sebagai “jalur aman” untuk pelayaran, transportasi energi, dan rantai pasok pangan. Ia menegaskan bahwa negara-negara yang memperoleh manfaat dari keamanan pelayaran di selat itu “harus membayar biaya dan pajak kepada Iran.”
Eskalasi Konflik di Kawasan
Usulan ini muncul di tengah meningkatnya eskalasi kawasan sejak Israel dan AS melancarkan serangan bersama terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sekitar 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu, Ali Khamenei.
Iran membalas dengan serangan drone dan rudal di berbagai wilayah kawasan serta secara efektif menutup Selat Hormuz. Jalur utama pengiriman minyak ini biasanya menangani sekitar 20 juta barel per hari dan sekitar 20 persen perdagangan gas alam cair global. Penutupan ini akhirnya mengguncang pasar energi dunia.
Dampak Ekonomi dan Politik
Ketegangan antara Iran dan negara-negara Barat semakin memburuk, dengan ancaman serangan yang bisa memicu konflik lebih besar. Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital bagi pasokan energi global, kini menjadi titik api yang bisa memicu krisis ekonomi dan politik internasional.
Pembatasan akses ke selat ini juga berdampak pada stabilitas harga minyak dan pasokan energi global. Negara-negara yang bergantung pada jalur ini mulai mencari alternatif, namun hal ini bisa memengaruhi ketersediaan energi di pasar dunia.
Tantangan Keamanan Regional
Selain ancaman militer, Iran juga menghadapi tantangan keamanan regional yang semakin kompleks. Keterlibatan AS dan Israel dalam konflik ini membuat situasi semakin sulit diredam. Kedua pihak saling menyalahkan atas kekacauan yang terjadi di kawasan.
Pihak-pihak yang terlibat harus segera mencari solusi damai untuk mencegah konflik yang lebih luas. Namun, ancaman serangan yang terus-menerus memperlihatkan bahwa potensi konflik masih sangat tinggi.