27 April 2026
AA1Z9vQ6.jpg

Peningkatan Aktivitas Vulkanik Gunung Guntur

Aktivitas vulkanik Gunung Guntur di Kabupaten Garut, Jawa Barat, mengalami peningkatan dalam tiga pekan terakhir. Pemantauan yang dilakukan dari Pos Pengamatan Gunung Guntur di Desa Sirnajaya menunjukkan adanya peningkatan gempa vulkanik hingga pukul 8 WIB, Sabtu, 21 Maret 2026.

Menurut Pelaksana tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, kegempaan Gunung Guntur umumnya didominasi oleh gempa tektonik jauh. Dalam periode 1-20 Maret 2026, Gunung Guntur mengalami gempa vulkanik dangkal sebanyak satu kali dan 79 kali gempa vulkanik dalam. Selain itu, tercatat 21 kali gempa tektonik lokal dengan satu kali gempa terasa pada skala I MMI, serta 36 kali gempa tektonik jauh.

Peningkatan gempa vulkanik dalam terjadi khususnya pada 18 hingga 19 Maret 2026, dengan total 34 kejadian. Gempa vulkanik dalam meningkat lagi pada keesokan harinya, tepatnya pada Jumat, 20 Maret 2026, yang tercatat sebanyak 26 kali kejadian. Pada hari tersebut, terdapat empat kali kejadian gempa tektonik lokal dan empat kali kejadian gempa tektonik jauh.

Lana menjelaskan bahwa sebaran hiposenter atau kedalaman titik pusat gempa vulkanik dalam pada periode Maret 2026 terkonsentrasi pada kedalaman 2,5-6,5 kilometer di bawah puncak. Orientasi sebaran episenter berarah barat laut-tenggara, yang sesuai dengan struktur atau kelurusan dominan di area tersebut.

“Kemunculan gempa vulkanik dalam mengindikasikan adanya migrasi atau perpindahan magma dari kantong magma dalam ke arah dangkal atau permukaan,” ujar Lana.

Gunung api setinggi 2.249 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini sampai saat ini berada pada Level I atau Normal. Badan Geologi merekomendasikan masyarakat di sekitar Gunung Guntur atau pengunjung tetap waspada dengan tidak mendekati kawah aktif dan dilarang menginap di area kawasan kawah aktif Gunung Guntur.

“Tingkat aktivitas Gunung Guntur akan segera ditinjau kembali jika terdapat perubahan visual maupun kegempaan yang signifikan,” tambahnya.

Gunung Guntur merupakan kompleks gunung api andesit yang terdiri dari kerucut tua dan kerucut muda. Kerucut tua meliputi Kamojang, Kancing, Gandapura, Gajah, Agung, Picung, dan Pasir Malang. Sedangkan kerucut muda terdiri dari Gunung Masigit dengan ketinggian 2.249 mdpl, Paruhpuyan, Kabuyutan, dan Guntur, yang membentuk kelurusan arah barat laut-tenggara.

Perkembangan Terkini tentang Gempa Vulkanik

Dari data yang diperoleh, peningkatan gempa vulkanik dalam mencerminkan aktivitas internal Gunung Guntur. Hal ini menjadi perhatian khusus bagi para ahli geologi karena dapat menjadi indikasi pergerakan magma di bawah permukaan. Meskipun saat ini Gunung Guntur masih berada pada level normal, masyarakat di sekitar daerah tersebut diminta untuk tetap waspada dan mematuhi rekomendasi dari instansi terkait.

Gempa tektonik lokal dan jauh juga tercatat selama periode pemantauan. Meski tidak terlalu besar dampaknya, keberadaannya tetap perlu dipantau agar tidak ada perubahan signifikan yang bisa mengancam keselamatan masyarakat.

Struktur dan Sejarah Gunung Guntur

Gunung Guntur memiliki struktur geologis yang kompleks, terdiri dari beberapa kerucut yang berbeda usianya. Kerucut tua seperti Kamojang dan Kancing memberikan gambaran tentang aktivitas vulkanik yang telah lama terjadi di wilayah ini. Sementara itu, kerucut muda seperti Gunung Masigit menunjukkan bahwa proses vulkanik masih aktif dan berlangsung.

Perlu diketahui bahwa Gunung Guntur termasuk dalam zona pegunungan yang rentan terhadap aktivitas vulkanik. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat dan pengunjung untuk tetap memperhatikan informasi resmi yang dikeluarkan oleh Badan Geologi dan instansi terkait lainnya.

Rekomendasi dan Keamanan

Sebagai langkah pencegahan, masyarakat di sekitar Gunung Guntur dilarang keras untuk mendekati kawah aktif. Hal ini dilakukan untuk menghindari risiko bahaya yang bisa terjadi akibat aktivitas vulkanik yang tidak terduga. Pengunjung juga dilarang menginap di area kawasan kawah aktif, karena kondisi lingkungan di sekitar kawah sangat rentan terhadap perubahan.

Badan Geologi terus melakukan pemantauan intensif terhadap Gunung Guntur. Jika terjadi perubahan signifikan baik secara visual maupun kegempaan, tingkat aktivitas Gunung Guntur akan segera dievaluasi ulang. Dengan demikian, masyarakat dapat memperoleh informasi yang akurat dan dapat diandalkan.

Dengan adanya peningkatan aktivitas vulkanik, penting bagi semua pihak untuk tetap waspada dan siap mengambil tindakan jika diperlukan. Dengan kerja sama antara instansi terkait dan masyarakat, risiko bahaya dari Gunung Guntur dapat diminimalkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *