Angka Pengangguran di Garut yang Masih Tinggi
Di Kabupaten Garut, Jawa Barat, jumlah pengangguran masih menjadi isu yang memperhatikan. Menjelang Hari Raya Idulfitri 2026, puluhan ribu warga masih menganggur dan mencari peluang kerja. Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa jumlah pengangguran terbuka di daerah tersebut mencapai 91.435 orang dari total angkatan kerja sebanyak 1,39 juta jiwa.
Mayoritas pengangguran berasal dari kalangan laki-laki dengan jumlah 53.441 orang, sedangkan perempuan tercatat sebanyak 37.994 orang. Dalam persentase, tingkat pengangguran terbuka di Garut berada di kisaran 6,5% dari total angkatan kerja. Kepala BPS Garut, Sidik Edi Sutopo menjelaskan bahwa jumlah penduduk usia 15 tahun ke atas yang bekerja mencapai 1,3 juta orang. Namun, angka ini belum cukup untuk menutup kesenjangan lapangan kerja yang tersedia.
Struktur Ketenagakerjaan yang Masih Mengandalkan Sektor Informal
Menurut Sidik, struktur ketenagakerjaan di Garut masih didominasi oleh sektor informal dan pekerjaan dengan produktivitas rendah. Hal ini berdampak pada terbatasnya peluang kerja baru yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. “Pekerjaan yang tersedia sebagian besar masih bersifat informal, sehingga tidak semua pencari kerja dapat terserap dengan baik,” ujar Edi.
Selain pengangguran, BPS juga mencatat tingginya jumlah penduduk yang tidak termasuk dalam angkatan kerja, yakni mencapai 648.913 orang. Dari jumlah tersebut, mayoritas merupakan perempuan yang mengurus rumah tangga sebanyak 371.336 orang. Kondisi ini menunjukkan potensi tenaga kerja yang belum tergarap optimal. “Perempuan yang berada di sektor domestik sebenarnya memiliki potensi untuk masuk ke pasar kerja, namun masih terbentur berbagai faktor, seperti keterbatasan akses pekerjaan dan norma sosial,” kata Sidik.
Perbaikan Akses Pendidikan Tapi Belum Seimbang dengan Lapangan Kerja
Sementara itu, jumlah penduduk yang masih bersekolah tercatat 149.510 orang, dengan komposisi relatif seimbang antara laki-laki dan perempuan. Hal ini menunjukkan adanya perbaikan akses pendidikan, meski belum sepenuhnya berbanding lurus dengan ketersediaan lapangan kerja.
Untuk itu, pemerintah daerah diharapkan dapat memperkuat program penciptaan lapangan kerja, baik melalui pengembangan sektor industri kecil, pertanian produktif, maupun pelatihan keterampilan kerja. Selain itu, intervensi kebijakan yang mendorong partisipasi perempuan dalam pasar kerja juga dinilai penting untuk meningkatkan produktivitas ekonomi daerah.
Potensi Bonus Demografi yang Masih Terabaikan
Sidik menyebutkan, dengan jumlah penduduk usia produktif yang mencapai lebih dari dua juta jiwa, Garut dinilai memiliki peluang besar untuk memanfaatkan bonus demografi. “Ini menjadi pekerjaan rumah bersama agar momentum pertumbuhan ekonomi bisa dimanfaatkan untuk menekan angka pengangguran,” ujar Sidik.
Dengan kondisi ini, diperlukan upaya kolaboratif dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, swasta, dan masyarakat, untuk menciptakan lapangan kerja yang lebih banyak dan berkualitas. Program-program yang berfokus pada pengembangan sumber daya manusia dan penguatan sektor-sektor ekonomi lokal akan menjadi kunci utama dalam mengurangi angka pengangguran di Garut.