Perkembangan Pasar Batubara di Tengah Ketegangan Geopolitik
Peningkatan ketegangan di kawasan Timur Tengah telah berdampak pada pasar batubara global. Kenaikan harga minyak dan LNG membuat sejumlah perusahaan utilitas beralih ke batubara sebagai sumber energi alternatif. Hal ini memicu proyeksi peningkatan permintaan batubara dalam beberapa skenario yang dianalisis oleh para ahli.
Erindra Krisnawan, Analis BRI Danareksa Sekuritas, menyatakan bahwa meski permintaan batubara mengalami perlambatan pada tahun 2025 akibat penurunan permintaan dari China dan India, situasi dapat berubah jika terjadi gangguan pasokan minyak di kawasan tersebut. Dalam skenario gangguan singkat, permintaan batubara termal global diproyeksikan naik antara 40 juta hingga 55 juta ton, atau sekitar 0,5% dari total permintaan. Sementara itu, dalam skenario yang lebih berkelanjutan, peningkatan permintaan bisa mencapai lebih dari 91 juta ton (naik lebih dari 1,1% dari permintaan global). Jika terjadi guncangan yang berkepanjangan, peningkatan permintaan bisa melebihi 180 juta ton (naik lebih dari 2,1% dari permintaan global).
Stabilitas Harga dan Prospek Pasar
Imam Gunadi, Equity Analyst Indo Premier Sekuritas (IPOT), menilai prospek kinerja emiten batubara pada kuartal I-2026 relatif resilien meskipun harga komoditas masih di bawah puncak siklus sebelumnya. Stabilitas harga batubara global di kisaran US$ 135–US$ 140/ton menunjukkan bahwa pasar mulai menemukan titik keseimbangan setelah periode koreksi yang cukup panjang pada 2025.
Potensi gangguan pasokan LNG dari Timur Tengah juga berpotensi mendorong fenomena fuel switching di sektor pembangkit listrik, khususnya di Asia yang bergantung tinggi pada impor LNG. Kondisi ini membuka peluang peningkatan permintaan batubara sebagai sumber energi alternatif dalam jangka pendek.
Tren Transisi Energi Global
Muhammad Thoriq Fadilla, Research Analyst Bumiputera Sekuritas, menyoroti tren transisi energi global sebagai faktor penting yang harus diperhatikan. Banyak negara mulai mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbasis batubara dan mempercepat pengembangan energi bersih.
Dari sisi domestik, perubahan kebijakan seperti penyesuaian Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahunan dan pembatasan produksi batubara turut meningkatkan ketidakpastian operasional bagi perusahaan tambang. Pemerintah Indonesia berencana memangkas produksi batubara nasional menjadi sekitar 600 juta ton pada 2026, turun dari sekitar 790 juta ton pada 2025, sebagai upaya menjaga keseimbangan pasokan dan stabilitas harga di pasar global.
Dinamika Permintaan dan Kebijakan Produksi
Permintaan dari China dan India tetap menjadi faktor kunci, karena kedua negara tersebut masih menjadi konsumen batubara terbesar di dunia. Kebijakan energi serta aktivitas industri di kedua negara ini akan sangat menentukan arah permintaan dan harga batubara global.
Selain itu, dinamika harga energi global juga menjadi faktor utama. Lonjakan harga LNG akibat ketegangan geopolitik sempat mendorong fenomena fuel switching dari gas ke batubara di sejumlah negara Asia, yang memberikan dukungan terhadap harga batubara, khususnya untuk kualitas yang lebih tinggi.
Rekomendasi Saham dan Target Harga
Dalam hal kinerja saham, Imam melihat aktivitas akumulasi investor asing pada sejumlah saham emiten batubara seperti Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), dan Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) mengindikasikan bahwa investor institusi masih melihat valuasi sektor ini menarik, terutama dari sisi dividend yield dan ketahanan arus kas di tengah fase harga komoditas yang mulai stabil.
Imam merekomendasikan Buy saham PTBA dengan target harga Rp 3.000 per saham. Sedangkan Thoriq merekomendasikan Buy saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dengan target harga Rp 10.875 per saham dan Buy on weakness saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dengan target harga Rp 3.010 per saham.
Erindra juga merekomendasikan Buy saham Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) dengan target harga Rp 2.630 per saham, Buy saham Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dengan target harga Rp 26.500 per saham, serta Buy saham PTBA dengan target harga Rp 3.100 per saham.