Kebakaran di Pasar Darurat Rakyat Ngawen, Blora
Kebakaran yang terjadi di sekitar Pasar Darurat Rakyat Ngawen, Blora, mengakibatkan kerugian besar. Kapolsek Ngawen, AKP Lilik Eko Sukaryono, menjelaskan kronologi kejadian tersebut. Saat itu, Suwadi sedang berada di dalam rumah miliknya dan melihat adanya percikan api yang mulai menjalar ke atap kayu dari ruko milik Anik Dwi Jayanti.
Suwadi langsung memberi tahu anaknya, Tina, tentang kebakaran tersebut. Ia mencoba memadamkan api dengan menyiram menggunakan ember, tetapi semakin lama api semakin membesar. Akhirnya, Suwadi berteriak minta tolong, yang terdengar oleh warga yang melintas di depan ruko Pasar Darurat Rakyat Ngawen.
Warga tersebut kemudian menelepon pemadam kebakaran Kecamatan Ngawen dan meminta bantuan kepada warga sekitar. Sekira 10 menit kemudian, pemadam kebakaran tiba di lokasi, tetapi api sudah membesar dan menjalar ke beberapa ruko darurat tersebut. Petugas pemadam kebakaran berjibaku untuk memadamkan api, dan setelah satu jam akhirnya api bisa dipadamkan.
Menurut Lilik, penyebab kebakaran adalah korsleting listrik dari stop kontak yang berada di dalam ruko darurat milik Anik Dwi Jayanti. Akibat peristiwa tersebut, kerugian materil mencapai miliaran rupiah. Selain rumah Suwadi, sejumlah ruko berserta barang dagangan milik para pedagang juga terbakar. Total kerugian atas kebakaran tersebut mencapai Rp 2.225.000.000.
Penjelasan Dindagkop UKM Blora
Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Dindagkop UKM) Blora, Kiswoyo, memberikan penjelasan terkait kebakaran Pasar Darurat Ngawen. Menurutnya, yang terbakar bukanlah pasar darurat. Ia menjelaskan bahwa dulu ketika relokasi warga pedagang dilakukan, mereka tidak mau. Mereka mencari lokasi sendiri-sendiri di lingkungan situ.
“Yang terbakar rumah penduduk karena korsleting listrik, kebetulan mereka itu (pedagang Pasar Ngawen–Red) sewa di rumah-rumah penduduk itu. Jadi bukan pasar darurat,” jelas Kiswoyo.
Lebih lanjut, Kiswoyo menyatakan bahwa Dindagkop UKM Blora sempat berencana menyediakan titik-titik relokasi pedagang. Namun, titik relokasi itu jauh dari Pasar Ngawen Utama sehingga para pedagang memilih mencari tempat sendiri. Akhirnya, mereka memilih tetap di sekitaran pasar lama, termasuk di jalan atau lorong-lorong.
“Itu kesepakatan pedagang memang mencari tempat-tempat sendiri. Jadi tidak ada relokasi secara terpusat gitu lo,” tambahnya.
Menurut Kiswoyo, ketika terjadi kebakaran dan disebabkan dari rumah penduduk yang mungkin dari korsleting listrik, Dindagkop UKM Blora tidak bisa berbuat banyak. “Kecuali, kalau kami menyediakan titik (relokasi terpusat), jaringannya (listrik) kita kelola terus terjadi kebakaran,” katanya.
Potensi Bantuan dari Pemkab Blora
Adapun terkait potensi bantuan dari Pemkab Blora untuk pedagang terdampak, Kiswoyo belum bisa memastikan. Ia mengatakan akan berkoordinasi dengan Dinas Sosial dan BAZNAS Blora terkait bantuan tersebut.
“Mungkin kami akan berkoordinasi dengan Dinas Sosial dan Baznas. Kalau dari kami, jelas, nuwun sewu, bahasanya enggak ada alokasi anggarannya,” paparnya.
Kesimpulan
Kebakaran yang terjadi di sekitar Pasar Darurat Rakyat Ngawen, Blora, menjadi peringatan penting bagi masyarakat dan pemerintah setempat. Meskipun Dindagkop UKM Blora telah berusaha menyediakan relokasi, para pedagang lebih memilih tinggal di sekitaran pasar lama. Hal ini membuat mereka rentan terhadap risiko seperti kebakaran. Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang keselamatan dan pengelolaan listrik yang aman.