Tren Penjualan Mobil di Malaysia dan Indonesia
Jumlah penjualan mobil di Malaysia secara keseluruhan mengalami peningkatan selama tiga tahun terakhir, yaitu dari 2023 hingga 2025. Presiden Malaysian Automotive Association (MAA), Mohd Shamsor Mohd Zain, menyatakan bahwa pencapaian ini merupakan yang tertinggi selama dua tahun berturut-turut dengan jumlah penjualan lebih dari 800 ribu unit.
Menurutnya, kondisi tersebut didukung oleh permintaan konsumen yang tinggi dan pembiayaan yang kondusif. “Serta peningkatan penerimaan terhadap kendaraan elektrifikasi, yang mencerminkan ketangguhan industri dan transisi berkelanjutan menuju mobilitas yang lebih maju dan ramah lingkungan,” ujarnya dalam pernyataan resmi MAA.
Pada 2023, penjualan mobil di Malaysia mencapai 799.731 unit. Pada 2024, angka ini meningkat menjadi 816.747 unit, dan pada 2025, penjualan keseluruhan mencapai 820.752 unit. Dari analisis MAA, peningkatan ini disebabkan oleh kenaikan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) sebesar 4,7 persen pada kuartal I 2025. Selain itu, suku bunga kebijakan atau overnight policy rate turun menjadi 2,75 persen sejak Juli 2025, yang meningkatkan keterjangkauan kredit.
Lingkungan sosial dan politik yang stabil serta tingkat pengangguran hanya 2,9 persen—yang merupakan titik terendah dalam 11 tahun di Malaysia—juga berkontribusi pada pertumbuhan penjualan mobil. Selain itu, penjualan mobil listrik meningkat sebesar 78 persen, termasuk dari merek nasional.
Perbedaan dengan Tren Penjualan di Indonesia
Berbeda dengan Malaysia, Indonesia justru mengalami penurunan baik dari penjualan wholesales (dari pabrik ke dealer) maupun ritel (dari dealer ke konsumen). Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan secara wholesales pada 2023 mencapai 1.005.802 unit, sedangkan penjualan ritel sebanyak 998.059 unit.
Pada 2024, jumlah penjualan menurun menjadi 865.723 unit untuk wholesales dan 889.680 unit untuk ritel. Pada 2025, penjualan mobil kembali merosot menjadi 803.687 unit secara wholesales dan 833.712 unit untuk ritel.
Ketua I Gaikindo, Jongkie Sugiarto, menilai daya beli masyarakat yang lemah pada 2025 memengaruhi penjualan di semua merek dan jenis mobil. Meski awal tahun lesu, penjualan mobil listrik pada akhir tahun justru meningkat karena insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPnDTP) yang diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 12 Tahun 2025 akan berakhir.
“Daya beli masyarakat kita ini juga diakibatkan karena memang pendapatan per kapita hari ini masih di US$ 5.300,” katanya dalam CNBC Indonesia Economic Outlook 2026 di Jakarta, pada Selasa, 10 Februari 2026.
Target Penjualan Mobil di Indonesia
Jongkie menjelaskan bahwa calon pembeli akan mempertimbangkan mobil mana yang bisa dicicil, terutama di harga kurang dari Rp 300 juta per unit. Jika harga lebih dari Rp 300 juta per unit, pasarnya memang tidak lebih banyak.
Pada 2026, Gaikindo menargetkan kenaikan penjualan mobil sebanyak 850 ribu unit. Jumlah tersebut lebih tinggi dari target revisi pada 2025 berjumlah 780 ribu unit, sebelumnya 900 ribu unit.