23 April 2026
AA1CzsmE.jpg

YOGYAKARTA – Puncak rangkaian Prambanan Shiva Festival 2026 berakhir dengan penuh makna dan keajaiban. Kali pertama di Indonesia, ritual suci Mahashivaratri digelar secara besar-besaran di Lapangan Wisnu, Kompleks Candi Prambanan, pada malam Minggu (15/2) hingga dini hari Senin. Acara ini menawarkan pengalaman yang mendalam bagi peserta dan masyarakat luas.

Acara dimulai dengan penyalaan 1.008 dipa (pelita) serta dentuman damaru (alat musik kecil Dewa Shiva) yang menggema di bawah bayang-bayang candi Hindu terbesar di Indonesia tersebut. Suasana semakin magis dengan pencahayaan yang menciptakan harmoni antara tradisi dan teknologi modern.

Ketua Tim Pemanfaatan Candi Prambanan I Nyoman Ariawan Atmaja menjelaskan bahwa momen ini bukan sekadar seremoni, melainkan upaya untuk membangkitkan kesadaran spiritual. “Mahashivaratri adalah momen pemujaan kepada Dewa Shiva sebagai Sang Pelebur dan sumber kesadaran tertinggi. Bunyi damaru yang mengiringi ritual melambangkan panggilan bagi individu untuk melepaskan beban masa lalu dan lahir kembali dengan bijaksana,” ujarnya.

Perayaan tahun ini memiliki ciri khas yang berbeda dari sebelumnya. Acara ini menggabungkan unsur tradisi nusantara dengan teknologi modern. Salah satu acara utama adalah Parade Budaya Maha Gangga Tirta Gamana, yaitu prosesi membawa air suci dari 36 provinsi dan sembilan candi nusantara yang telah disucikan oleh 35 Sulinggih. Penyatuan air ini menjadi simbol harmoni semesta dan pembersihan diri.

Selain itu, ada juga Abhisekam Berkelanjutan, ritual penyucian candi yang dilakukan secara bertahap, mulai dari puncak ritual hingga Abhisekam 5 yang berlangsung hingga fajar menyingsing. Ritual ini memberikan pengalaman yang unik dan mendalam bagi para peserta.

Sebanyak 1.008 dipa dinyalakan serentak, menciptakan suasana magis. Keindahan visual semakin diperkuat dengan teknologi video mapping yang membalut relief candi dengan cahaya artistik. Filosofi di balik penyalaan dipa menjadi inti dari pesan kedamaian yang diusung. Tiga sisi dipa mencerminkan energi Trimurti, yaitu Brahma sebagai penghasil cahaya awal, Wisnu sebagai penjaga harmoni agar cahaya tetap hidup, dan Shiva sebagai pelebur kegelapan yang menuntun manusia pada kesadaran diri.

Acara kolaboratif ini sukses terlaksana berkat sinergi antara beberapa lembaga seperti Kementerian Pariwisata, Kementerian Agama (Ditjen Bimas Hindu), Kementerian Kebudayaan, PHDI, serta InJourney Destination Management. Perhelatan ini diharapkan mampu memperkuat posisi Candi Prambanan bukan hanya sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai pusat spiritual Hindu dunia demi kedamaian jagat raya (Jagadhita).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *