22 April 2026
AA1Wo2Rw.jpg

Pentingnya Persiapan dan Kesadaran dalam Berinvestasi

Banyak masyarakat Indonesia kini mulai tertarik untuk berinvestasi. Namun, tidak sedikit dari mereka yang memulai tanpa tujuan jelas dan pemahaman risiko yang cukup. Hal ini membuat mereka rentan terjebak dalam janji-janji cepat kaya yang sebenarnya bisa sangat berbahaya.

Masalah ini menjadi fokus utama dalam sebuah talk show yang diselenggarakan oleh Bank Jago bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Stockbit beberapa waktu lalu. Theo Derick, seorang pengusaha dan content creator, menyoroti permasalahan yang sering terjadi di masyarakat. Ia mengatakan bahwa banyak orang memulai investasi hanya karena ikut tren atau saran teman, tanpa memiliki tujuan yang jelas.

“Banyak orang tergiur karena ikut tren atau saran teman. Padahal mereka tidak punya tujuan investasi yang jelas,” ujar Theo dalam sebuah keterangan.

Menurutnya, investasi bukanlah cara cepat kaya, melainkan soal konsistensi dan perencanaan. Tanpa tujuan yang jelas, orang mudah tergoda imbal hasil tinggi yang tidak masuk akal.

“Investasi bukan tentang siapa yang paling cepat, tapi siapa yang paling konsisten,” tegasnya.

William, Head of PR & Communication Bibit & Stockbit, menambahkan bahwa media sosial sering kali menampilkan cerita-cerita instan tentang keuntungan investasi. Hal ini membentuk persepsi salah di masyarakat.

“Tanpa disadari, ini membentuk persepsi bahwa investasi adalah sesuatu yang selalu cepat dan mudah. Padahal ada proses dan risiko yang harus diperhatikan,” ujar William.

Teja Amanda Putra dari Divisi Pengembangan Pasar BEI mengingatkan masyarakat untuk selalu ingat dua hal: Legal dan Logis. Pastikan produk investasi terdaftar dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Mengabaikan hal ini sama saja membuka pintu bagi penipuan berkedok cuan,” tegas Teja.

Bank Jago telah menghadirkan fitur Kantong untuk membantu masyarakat mengelola keuangan lebih baik. Pengguna bisa membuat hingga 60 kantong untuk memisahkan uang sesuai tujuan, termasuk investasi.

Theo, yang juga pengguna aplikasi Jago, mengaku rutin memakai fitur ini. Ia memisahkan dana liburan, tabungan, dan investasi sejak awal bulan.

“Promo boleh, FOMO jangan. Selama ada kantongnya, kita tetap aman,” katanya.

Yusuf Aria Putera, Digital Product Lead Bank Jago, menyebut kesadaran masyarakat berinvestasi terus meningkat. Lebih dari tiga juta pengguna Jago telah terhubung dengan Bibit dan Stockbit, naik 38 persen dalam setahun.

“Hampir 95 persen investornya berusia 17–44 tahun. Generasi Z mendominasi 65 persen,” ungkap Yusuf.

Ia menyarankan pemula menerapkan 3C:
* Curious (ingin terus belajar)
* Critical (kritis menyaring informasi)
* Conscious (sadar mengambil keputusan sesuai kondisi pribadi)

Ia juga berpesan untuk mulai membangun kebiasaan menabung dan berinvestasi sejak dini.

“Ketika saving sudah besar, baru bisa diversifikasi. Investasi itu soal habit,” jelasnya.

Yusuf menegaskan, kekayaan sejati bukan dari keputusan besar sekali jadi, melainkan kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari.

“Jadi kekayaan bukan hasil satu keputusan besar, tapi hasil dari kebiasaan kecil yang diulang setiap hari,” tegasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *