23 April 2026
AA1EzLnB.jpg



PT Jayamas Medica Industri Tbk (OMED) memiliki target pendapatan sebesar Rp 2,3 triliun pada tahun 2026. Angka ini diharapkan tumbuh antara 10% hingga 15% dibandingkan tahun sebelumnya. Target tersebut dinilai realistis mengingat prospek industri alat kesehatan yang masih stabil.

Menurut Muhammad Wafi, Head of Research KISI Sekuritas, karakteristik produk alat kesehatan habis pakai yang bersifat defensif menjadi penopang utama kinerja OMED. Ia menilai permintaan terhadap produk tersebut cenderung inelastis, sehingga pertumbuhan volume penjualan akan didorong oleh ekspansi rumah sakit swasta dan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang semakin luas.

Manajemen OMED juga menyatakan optimisme terhadap pencapaian target tersebut, terutama dengan adanya peningkatan anggaran kesehatan pemerintah pada 2026. Anggaran tersebut diperkirakan mencapai Rp 244 triliun atau naik sekitar 15%-16% dibanding tahun lalu. Selain itu, permintaan dari sektor swasta tetap stabil dan resilien.

Peningkatan anggaran kesehatan menjadi katalis utama bagi kinerja OMED. Wafi menekankan bahwa posisi OMED sebagai market leader dengan sertifikasi TKDN tinggi membuat perseroan berada dalam posisi strategis untuk memanfaatkan peluang belanja pemerintah. Selain itu, manajemen OMED menyebut bahwa pada kuartal I-2026, perseroan telah sepakat untuk memenuhi pengadaan Barang Medis Habis Pakai (BMHP) dari Kementerian Kesehatan. Mereka melihat komitmen pemerintah terhadap layanan kesehatan sebagai prioritas jangka panjang.

Dari sisi belanja modal, OMED mengalokasikan capex sebesar Rp 62 miliar pada 2026. Wafi menilai sentralisasi logistik melalui National Distribution Center (NDC) di Pulo Gadung dapat mengurangi biaya distribusi dan persediaan, sehingga margin laba berpotensi meningkat. Langkah ini juga strategis untuk mempercepat lead time pengiriman di wilayah Jabodetabek sebagai pasar terbesar.

Manajemen OMED menjelaskan bahwa capex tahun ini lebih rendah dibanding tahun sebelumnya karena beberapa ekspansi telah selesai dieksekusi, termasuk akuisisi NDC Pulo Gadung, ekspansi fasilitas di Mojoagung, serta pembangunan pabrik di Batang. Dengan demikian, margin laba baik gross, operasional, maupun laba bersih relatif stabil. Bahkan, mereka berharap ada kenaikan dalam jangka panjang.

Terkait ketahanan margin, Wafi memperkirakan margin OMED tetap solid di level dua digit berkat integrasi manufaktur lokal yang menekan ketergantungan impor. Ia juga melihat segmen swasta berpotensi memberikan margin lebih tinggi dibanding segmen BPJS karena fleksibilitas harga jual. Sementara itu, ekspor dianggap sebagai mesin pertumbuhan baru meskipun kontribusinya masih bertahap.

Manajemen OMED juga memproyeksikan margin tetap stabil pada 2026, didukung oleh harga bahan baku dan biaya logistik yang relatif terjaga. Segmen swasta dinilai masih resilien, sementara ekspor berada dalam tren menguat.

Dalam rekomendasi, Wafi memberikan rekomendasi beli untuk saham OMED dengan target harga Rp 240 per saham.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *