22 April 2026
AA1VybOk.jpg

Harga Bitcoin Terus Tertekan, Kembali ke Level US$66.656

Pada hari Kamis (12/2/2026), harga Bitcoin (BTC) berada di kisaran US$66.656, menunjukkan fase pelemahan yang oleh sejumlah analis disebut sebagai periode “kapitulasi”. Setelah gagal mempertahankan penguatan intraday di level US$68.300, harga kripto terbesar ini terus mengalami penurunan.

Sejak mencapai rekor tertinggi sepanjang masa di atas US$126.000 pada 2 Oktober 2025, Bitcoin telah mengalami koreksi sekitar 46%. Pergerakan ini menyebabkan sebagian besar investor berada dalam posisi rugi atau underwater, sehingga memicu tekanan jual lanjutan.

Menurut data dari Coinmarketcap, pada pukul 10.02 WIB Jumat (13/2/2026), Bitcoin diperdagangkan di US$66.680, turun 1,02% dalam 24 jam terakhir. Meskipun dalam seminggu terakhir, harga Bitcoin naik sebesar 2,73%.

Tekanan Jual dari Investor Jangka Panjang

Data dari Glassnode menunjukkan bahwa indikator long-term holder (LTH) net position change mencatat distribusi besar pada 6 Februari, dengan penurunan kepemilikan sekitar 245.000 BTC dalam sehari — salah satu tingkat ekstrem dalam siklus ini. Sejak saat itu, kelompok investor jangka panjang rata-rata mengurangi eksposur sekitar 170.000 BTC.

Lonjakan distribusi serupa pernah terjadi selama fase koreksi 2019 dan pertengahan 2021, yang kemudian diikuti oleh periode konsolidasi sebelum tren turun lebih panjang. Hal ini menunjukkan bahwa pasar sedang menghadapi tekanan yang cukup signifikan.

Sementara itu, data dari CryptoQuant menunjukkan bahwa indikator MVRV Adaptive Z-Score (365-Day Window) Bitcoin turun ke -2,66. Kontributor CryptoQuant, GugaOnChain, menyebut bahwa level ini menegaskan bahwa Bitcoin masih berada di “zona kapitulasi” yang dalam. Ia juga menambahkan bahwa indikator tersebut menandakan pasar mulai mendekati fase akumulasi historis.

Indikator Realized Profit/Loss Ratio juga mendekati level di bawah 1, kondisi yang dalam sejarah sering kali mencerminkan fase di mana realisasi kerugian lebih dominan dibanding ambil untung secara luas di pasar.

Prediksi Titik Terendah Siklus Ini

Sejumlah analis memperkirakan bahwa tren turun masih akan berlanjut sebelum harga mencapai titik terendah siklus ini. Analis kripto Tony Research menyebut bahwa “kapitulasi final” masih ada di depan. Ia memperkirakan bahwa Bitcoin bisa menyentuh kisaran US$40.000–50.000, kemungkinan terbentuk antara pertengahan September hingga akhir November 2026.

Pandangan serupa disampaikan oleh analis Titan of Crypto, yang mengamati pola siklus sebelumnya. Pada pasar bearish 2018 dan 2022, titik terendah tercapai sekitar 12 bulan setelah puncak bull market. Jika pola tersebut terulang, maka titik terendah siklus saat ini bisa terjadi sekitar Oktober 2026.

Analis On-Chain College juga mencatat bahwa Net Realized Loss Bitcoin sempat menyentuh US$13,6 miliar pada 7 Februari, level ekstrem yang terakhir terlihat pada bear market 2022. Pada siklus sebelumnya, puncak realisasi kerugian terjadi sekitar lima bulan sebelum harga benar-benar mencapai dasar, membuka kemungkinan bottom terbentuk sekitar Juli 2026.

Fase Akumulasi atau Tekanan Lanjutan?

Meski tekanan jual masih kuat, beberapa indikator on-chain menunjukkan bahwa pasar mendekati fase akumulasi jangka panjang. Namun, ketidakpastian makroekonomi global dan dinamika likuiditas tetap menjadi faktor risiko.

Dengan volatilitas yang masih tinggi, perdebatan mengenai kapan Bitcoin mencapai dasar harga terus berlanjut. Untuk saat ini, pasar tampaknya masih berada dalam fase transisi antara kapitulasi dan potensi akumulasi dengan akhir 2026 menjadi periode yang paling banyak disebut sebagai titik balik berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *