19 April 2026
AA1Vf45S.jpg

Perubahan Outlook Moody’s dan Tanggapan BNI

Perubahan outlook yang dilakukan oleh lembaga pemeringkat kredit Moody’s terhadap lima bank besar di Indonesia, termasuk PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI, telah menjadi perhatian publik. Sebagai salah satu bank pemerintah terbesar di Indonesia, BNI memberikan penjelasan mengenai situasi ini.

Corporate Secretary BNI, Okki Rushartomo, menyampaikan bahwa perubahan outlook dari Moody’s sejalan dengan penyesuaian outlook pemerintah Indonesia. Ia menegaskan bahwa hal tersebut tidak mencerminkan penurunan kinerja keuangan maupun profil risiko internal BNI.

“Posisi perseroan saat ini masih berada pada level investment grade,” ujar Okki. Ia menjelaskan bahwa kondisi ini tercermin dari capaian kinerja hingga akhir 2025. “Hingga akhir tahun buku 2025, fundamental BNI tetap terjaga dengan baik,” tambahnya.

Okki menjelaskan bahwa indikator utama seperti permodalan, likuiditas, kualitas aset, dan profitabilitas berada pada level yang sehat serta sesuai ketentuan regulator. Selain itu, struktur pendanaan BNI dikelola secara prudent.

Menyikapi perubahan outlook tersebut, BNI terus fokus pada pengelolaan bisnis yang hati-hati dan berkelanjutan. Hal ini dilakukan melalui penguatan tata kelola dan manajemen risiko. “Strategi penyaluran kredit tetap dijalankan secara selektif dan terukur, dengan mengedepankan kualitas dan prinsip kehati-hatian,” kata Okki.

Selain itu, BNI juga terus bersinergi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia (BI), dan Kementerian Keuangan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan serta kepercayaan pasar.

Tanggapan Menteri Koordinator Perekonomian

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto meminta perbankan memberi penjelasan kepada lembaga pemeringkat Moody’s terkait outlook yang negatif. Ia menegaskan bahwa semua lembaga pemeringkat perlu menerima penjelasan mengenai apa saja yang menjadi perhatian mereka.

“Pihak perbankan, dalam hal ini, perlu memberi jawaban yang memadai kepada Moody’s,” ujar Airlangga. Ia menambahkan bahwa dari segi nasional, Indonesia tetap berada dalam investment grade bagi Moody’s.

Perubahan outlook oleh Moody’s terhadap lima bank Indonesia, yaitu BCA, Bank Mandiri, BNI, BRI, dan BTN, dari stabil menjadi negatif, menjadi sorotan. Dalam laporannya, Moody’s menyebutkan bahwa perubahan ini terjadi menyusul perubahan outlook di tingkat sovereign.

Sebelumnya, Moody’s mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level Baa2, satu tingkat di atas batas investment grade, dengan penyesuaian outlook dari stabil menjadi negatif.

Dalam laporannya, Moody’s menekankan pentingnya menjaga prediktabilitas pengambilan kebijakan, komunikasi publik, dan kualitas koordinasi antarkementerian/lembaga di tengah perubahan kebijakan dan tata kelola pengelolaan perekonomian yang sedang berjalan.

Moody’s juga menyoroti pentingnya memperkuat basis penerimaan negara untuk mendukung belanja-belanja prioritas dan menopang pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

Respons dari Pemerintah

Merespons hal tersebut, Airlangga juga meminta Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) untuk menjelaskan kepastian arah fiskal Indonesia ke lembaga pemeringkat Moody’s.

Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah dan lembaga terkait terus berupaya menjaga stabilitas sistem keuangan dan meningkatkan kepercayaan investor. Dengan adanya komunikasi yang terbuka dan transparan, harapan besar dapat dibangun untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas keuangan nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *