Pengacara Mendiang Jeffrey Epstein Menuntut CIA dan NSA untuk Membuka Arsip Terkait Hubungan dengan Mantan Terpidana
Pengacara yang mewakili keluarga mendiang Jeffrey Epstein secara resmi mengajukan tuntutan hukum terhadap Central Intelligence Agency (CIA) dan National Security Agency (NSA) Amerika Serikat. Tuntutan ini meminta kedua badan intelijen tersebut untuk membuka seluruh arsip yang terkait dengan dugaan keterlibatan atau hubungan operasional antara Epstein dan lembaga pemerintah.
Permintaan ini didasarkan pada Undang-Undang Kebebasan Informasi (FOIA), yang bertujuan untuk mengungkap dokumen-dokumen yang dapat memberikan bukti apakah NSA pernah menyimpan informasi apa pun terkait Epstein, baik yang bersifat rahasia maupun terbuka. Langkah ini menunjukkan bahwa ada dugaan lama tentang kemungkinan keterkaitan Epstein dengan badan intelijen AS.
Pada tahun 1999 dan 2011, beberapa pihak menggunakan FOIA untuk bertanya kepada CIA tentang Epstein. Namun, CIA menjawab bahwa tidak ada bukti hubungan yang terbuka, sementara mereka menolak membenarkan atau menyangkal adanya materi rahasia. Demikian pula dengan NSA, yang sebelumnya tidak membenarkan atau membantah keberadaan dokumen relevan karena alasan keamanan nasional serta perlindungan sumber dan metode intelijen.
Dokumen baru yang dirilis ke publik menyoroti interaksi Epstein dengan mantan Direktur CIA William J. Burns. Pada 2014, saat menjabat Wakil Menteri Luar Negeri AS, Burns diketahui menjadwalkan beberapa kali pertemuan dengan Epstein, termasuk makan siang di Washington dan pertemuan di kediamannya di New York. Burns “sangat menyesali pernah bertemu” Epstein dan menyatakan bahwa semua kontak dihentikan setelah mengetahui vonis pidana Epstein. Burns, yang kini menjadi direktur intelijen pusat di bawah Presiden Joe Biden, tidak pernah dituduh melakukan kesalahan terkait kejahatan Epstein.
Dalam rilis jutaan dokumen terkait Epstein yang dikeluarkan oleh Departemen Kehakiman AS, terdapat dokumen yang menggambarkan perencanaan pertemuan antara Burns dan Epstein. Dua dari pertemuan tersebut terjadi, dan menunjukkan bahwa Epstein mengirim pesan teks kepada Burns dan merekomendasikan agar orang lain di sekitarnya bertemu dengannya. Pertemuan dan korespondensi ini terjadi setelah Epstein mengaku bersalah atas tuduhan prostitusi di Florida pada 2008, termasuk ajakan prostitusi dengan anak di bawah umur 18 tahun.
Seorang juru bicara Burns mengatakan bahwa kedua pria itu “tidak memiliki hubungan”, dan bahwa Burns “tidak tahu apa pun tentang dia, selain bahwa dia diperkenalkan sebagai ahli di sektor jasa keuangan”. Juru bicara tersebut juga menyatakan bahwa Burns “sangat menyesal pernah bertemu dengannya”.
Burns memiliki pengalaman diplomatik selama puluhan tahun di bawah pemerintahan Republik dan Demokrat. Selama sidang konfirmasinya untuk menjadi direktur CIA pada 2021, senator pendukung Trump, Lindsey Graham, menyebutnya sebagai “pilihan yang luar biasa”.
Penyebutan pertama Burns dalam berkas Epstein tertanggal April 2013, ketika Epstein mengirim email kepada Terje Rød-Larsen, mantan diplomat Norwegia yang juga arsitek Perjanjian Oslo antara Israel-Palestina pada 1992. Email tersebut berisi permintaan agar Rød-Larsen mengatur pertemuan dengan Bill Burns. Tidak ada konteks dalam email tersebut, atau bahkan judul subjek.
Rød-Larsen mengundurkan diri sebagai kepala Institut Perdamaian Internasional pada 2020, setelah terungkap bahwa ia mendapatkan sumbangan dari yayasan yang terkait dengan Epstein, serta pinjaman pribadi dari Epstein. Ia tidak dapat dihubungi untuk dimintai komentar.
Pada Juli 2013, Epstein mengirimkan catatan serupa kepada Rød-Larsen, tampaknya sebagai tindak lanjut. “Saya sarankan Anda menghubungi Bill Burns dan beri tahu dia bahwa Anda siap membantu jika dia membutuhkan bantuan.” Epstein menindaklanjuti keesokan harinya dalam email yang penuh kesalahan. “Saya pikir John Kerry mungkin akan sibuk untuk sementara waktu. Mereka akan menghubungi Bill Burns yang akan membutuhkan lebih banyak bantuan.”
Bulan berikutnya, Epstein mengirim email kepada pengusaha keuangan Peter Thiel—pemilik perusahaan teknologi Palantir yang dituding ikut terlibat dalam genosida Israel di Gaza. Ia mengklaim bahwa Burns, bersama dengan mantan perdana menteri Israel Ehud Barak dan Rød-Larsen, “akan berada di rumah pada tanggal 1 Juni”. Tidak jelas apa maksudnya. Tidak ada bukti bahwa Burns hadir, dan juru bicaranya mengatakan bahwa Burns tidak menghadiri pertemuan tersebut.
Pada Juli, Epstein kembali menyebut Burns ketika ia diundang ke Rusia oleh seorang pejabat di bank sentral Rusia. “Suatu saat saya ingin mendengar pandangan Bill Burns tentang apakah saya harus atau tidak,” tulis Epstein kepada Rød-Larsen. Tidak ada bukti bahwa Epstein atau siapa pun benar-benar meminta pandangan Burns pada saat itu, dan juru bicara Burns mengatakan tidak ada korespondensi.
Bulan berikutnya, pertemuan sesungguhnya baru terlaksana. Asisten Epstein mengirim email kepada pemodal itu pada 19 Agustus. “Bill Burns sedang rapat sekarang … asistennya akan memintanya menelepon Anda setelah dia selesai rapat.” Burns akhirnya bertemu dengan Epstein pada 21 Agustus di kantor hukum Steptoe di DC, sebuah firma hukum ternama, untuk makan siang, seperti yang pertama kali dilaporkan oleh Wall Street Journal dalam sebuah berita pada 2023 tentang kalender Epstein.
Epstein, yang saat itu merupakan terpidana kejahatan seksual, telah pergi ke Departemen Keuangan AS pagi itu, menurut kalendernya. Tidak ada petunjuk mengapa. Kemudian pada siang hari itu, ia bertemu dengan Burns. Juru bicara Burns mengatakan bahwa pokok pembicaraan menyangkut upaya Burns untuk kariernya setelah meninggalkan pemerintahan. Sepuluh hari kemudian, pada 1 September, Epstein mulai mengirim pesan singkat kepada Burns, untuk menindaklanjuti pertemuan tersebut.
“Bill,” tulis Epstein, “Peter Thiel akan bersamaku tanggal 13 dan 14 di New York. Kurasa akan menyenangkan jika kita bertemu jika ada waktu luang untukmu. Ada apartemen yang bisa kau gunakan jika kau mau.”
Pada April 2014, Burns mengumumkan pengunduran dirinya setelah 32 tahun berkiprah di pemerintahan. Ia merupakan tokoh yang sangat berpengaruh dalam diplomasi sehingga New York Times, NPR, dan media lain meliput keputusannya untuk meninggalkan pemerintahan.