21 April 2026
pembangkit-listrik-tenaga-hybrid-pertamina-cilacap-w93d-dom.jpg

Proyek Biorefinery Cilacap: Transformasi Minyak Jelantah Menjadi Avtur

Kilang Cilacap menjadi pusat utama dalam pengembangan energi hijau di Indonesia. Dalam rangka memperkuat transisi menuju sumber daya yang lebih berkelanjutan, Pertamina meluncurkan proyek hilirisasi biorefinery Cilacap Fase 2. Proyek ini dilaksanakan pada Jumat (6/2/2026) dan menandai langkah penting dalam pengembangan biofuel nasional.

Proyek ini menunjukkan komitmen jangka panjang Pertamina untuk menjadikan Kilang Cilacap sebagai pusat hilirisasi energi hijau. Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo Putra, menyatakan bahwa pengembangan biorefinery ini bukanlah proyek instan, melainkan hasil dari proses panjang yang dimulai sejak 2021.

“Biorefinery Cilacap Fase 1 menjadi fondasi utama pengembangan biofuel Pertamina. Di mana unit TDHT mampu menghasilkan avtur berbasis kerosene sebagai bahan baku Sustainable Aviation Fuel,” ujarnya.

Perjalanan proyek ini dimulai dari tahap awal pengembangan, kemudian penyelesaian unit pada 2022, hingga akhirnya berhasil memproduksi SAF (Sustainable Aviation Fuel) dari minyak jelantah dengan katalis buatan anak bangsa pada 2025.

Pengujian dan Penerapan SAF di Berbagai Pesawat

Keandalan SAF produksi Kilang Cilacap telah diuji melalui sejumlah penerbangan. Contohnya, pada 2021, pesawat CN-235-200 telah menggunakan SAF. Kemudian pada 2023, Boeing 737 Garuda Indonesia juga melakukan penerbangan menggunakan bahan bakar ini. Terakhir, pada 2025, Airbus A320 Pelita Air mencoba SAF produksi Kilang Cilacap.

“Tahun 2026 kami menargetkan produksi SAF sebesar 27 ribu kiloliter, dan Pelita Air telah menyatakan komitmen sebagai offtaker,” kata Mars Ega.

Pengembangan Fase 2 dan Pasar yang Lebih Luas

Dengan keberhasilan Fase 1, Pertamina melanjutkan pengembangan Biorefinery Cilacap Fase 2 yang berkapasitas 6 Kilo Barrel per Day. Proyek ini akan memproduksi SAF dan Hydrogenated Vegetable Oil untuk pasar dalam maupun luar negeri.

“Dengan beroperasinya Fase 1 dan rampungnya Fase 2 nanti, Kilang Cilacap akan menjadi hub hilirisasi bioavtur nasional,” tegas Mars Ega.

Direktur Strategi, Portofolio, dan Pengembangan Usaha PT Pertamina (Persero), Emma Sri Martini, menilai proyek ini sejalan dengan Asta Cita Presiden RI Prabowo Subianto tentang swasembada energi dan hilirisasi industri.

“Pengembangan ini memberi dampak nyata berupa pengurangan impor, penurunan emisi karbon hingga 600 ribu ton CO₂ per tahun, penciptaan sekitar 5.900 lapangan kerja, serta peningkatan TKDN hingga 30 persen,” jelas Emma.

Peran Kilang Cilacap dalam Ekonomi Sirkular

General Manager Kilang Cilacap, Wahyu Sulistyo Wibowo, menyebut proyek biorefinery sebagai contoh penerapan ekonomi sirkular di sektor energi.

“Melalui proyek ini, limbah diubah menjadi energi bernilai tinggi dan Kilang Cilacap diperkuat sebagai salah satu green refinery utama Pertamina berbasis teknologi anak bangsa,” ujar Wahyu.

Ia menegaskan bahwa kehadiran Biorefinery Cilacap tidak hanya mendukung transisi energi nasional, tetapi juga memperkuat ketahanan energi dan daya saing Indonesia di pasar energi berkelanjutan global.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *