22 April 2026
AA1wWmwc.jpg

Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang ditujukan untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (3B) telah menjadi sorotan akhir-akhir ini. Sejumlah pakar menilai bahwa program tersebut telah mengacaukan tata kelola gizi yang telah dibangun selama satu dekade terakhir. Sebelumnya, banyak orangtua balita di beberapa daerah mengeluhkan adanya makanan ultra-proses dan makanan dengan kandungan gula serta garam yang tinggi dalam menu MBG yang mereka terima, seperti burger, roti isi, biskuit, susu kemasan, hingga kacang polong.

Salah satu pengeluh datang dari Tina, seorang ibu dari Bandung yang mulai menerima paket MBG untuk anak ketiganya sejak pertengahan Januari lalu. Setiap Senin dan Kamis, ia menerima paket makanan yang terdiri dari dua jenis: basah dan kering. Menu basah berupa nasi atau karbohidrat beserta lauk-pauk diberikan pada Senin dan Kamis, sementara makanan kering seperti roti, biskuit, susu kemasan, kacang-kacangan, dan buah diberikan untuk hari-hari berikutnya. Meskipun Tina merasa senang dengan paket MBG tersebut, ia menyayangkan adanya pangan ultra-proses seperti roti dan biskuit. Bahkan, pernah ada paket MBG balita dalam bentuk burger yang membuatnya khawatir.

Selain itu, Anisa, seorang orangtua lainnya, juga mengkritik menu MBG yang dinilai sebagai makanan ultra-proses alias UPF. Menurutnya, menu tersebut belum memenuhi standar gizi untuk anaknya yang berusia 3,5 tahun. Ia menilai bahwa beberapa kali menu MBG tidak sesuai dengan harapan, seperti sayuran yang hanya sedikit dan tidak segar, serta adanya kentang goreng yang tidak sehat.

Di Palembang, Ida juga mengeluhkan menu MBG untuk dirinya yang sedang menyusui dan sang anak yang berusia tiga tahun. Ia merasa menu MBG untuk ibu hamil terlalu pedas, sehingga tidak cocok untuk dikonsumsi. Sementara untuk anaknya, menu MBG cukup beragam, tetapi Ida lebih memilih memasak sendiri karena ingin menghindari konsumsi makanan yang mengandung monosodium glutamat (MSG) dan garam berlebih.

Sementara itu, di Solo, Karnia mendapatkan paket MBG untuk anaknya yang berusia empat tahun. Ia mengaku bahwa menu yang diberikan selalu berbeda setiap hari dan dapat habis dimakan oleh anaknya. Selain menu basah, ia juga menerima MBG kering seperti roti tawar, roti keju, telur rebus, alpukat, dan susu kemasan. Meskipun demikian, Karnia berharap program MBG ini bisa terus berlanjut karena sangat membantu keluarganya, terutama dalam menghemat pengeluaran.

Dalam petunjuk teknis (juknis) Badan Gizi Nasional, pemberian paket MBG untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita (3B) diberikan selama enam hari berturut-turut yang terdiri dari: MBG siap santap dan paket MBG sehat. MBG siap santap adalah makanan yang diproduksi oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang mengandung gizi lengkap dan seimbang, serta disesuaikan dengan kebutuhan gizi penerima manfaat. Dalam paket MBG sehat untuk ibu hamil dan ibu menyusui terdapat minuman khusus ibu hamil dan minuman khusus ibu menyusui yang merupakan susu sebagai tambahan dari makanan yang dikonsumsi.

Namun, dalam praktiknya, MBG untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita ini menggusur program Pemberian Makan Tambahan (PMT) oleh kader posyandu, yang telah berjalan lebih dari satu dekade. Tujuan PMT untuk meningkatkan gizi balita dan ibu hamil yang kekurangan gizi atau berisiko stunting. Pemberian Makan Tambahan diberikan setiap hari dengan sedikitnya satu kali makanan lengkap dalam seminggu dan sisanya kudapan. PMT harus berbahan pangan lokal dan tidak disarankan mengandung makanan yang tinggi gula dan garam; makanan olahan berpengawet; makanan mengandung lemak jenuh; makanan dan minuman yang mengandung pemanis tinggi; tidak beragam serta tanpa protein.

Ahli gizi Tan Shot Yen menilai bahwa meskipun juknis BGN itu diklaim sudah bersandar pada Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 41 Tahun 2014 tentang Pedoman Gizi Seimbang—yang menjadi rujukan program PMT—tetapi di dalam juknis tidak mencantumkan daftar pangan yang bisa dijadikan patokan dalam menyajikan makan bergizi kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Hanya berupa angka-angka kecukupan gizi.

Sementara itu, Diah Saminarsih dari Lembaga kajian Center for Indonesia Strategic Development Initiatives (Cisdi) menilai kehadiran MBG sebagai pengganti PMT telah mengganggu tata kelola gizi yang telah dibangun selama satu dekade terakhir. Menurutnya, pedoman pemberian makan bayi dan anak yang diluncurkan Kemenkes mendorong penggunaan bahan pangan lokal dengan menu makanan bergizi seimbang seperti bubur ikan jagung, sup ikan labu kuning dan puding telur ubi ungu.

Ahli gizi, Tan Shot Yen, juga berkata makanan dengan kandungan gula dan garam tinggi yang diberikan kepada balita jelas “tidak aman dan tidak sehat” dalam jangka panjang. Dampaknya, anak akan memiliki pola makan yang disebutnya kacau. Selain itu ada risiko penyakit jantung dan metabolik pada anak, obesitas, daya belajar menurun. Jika pemerintah memberikan MBG berupa susu kemasan yang berpemanis, biskuit, roti manis, maka di benak mereka adalah ini adalah contoh makanan yang sehat dan baik. Karena mereka otomatis lidahnya akan lebih pro kepada makanan yang membuat kecanduan. Jadi otomatis anak-anak yang lebih banyak mengonsumsi produk kemasan, tidak konsumsi sayur dan buah misalnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *