22 April 2026
AA1Vyp5u.jpg

Peran ESG dalam Menentukan Daya Saing Perusahaan Teknologi

Penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) semakin menjadi faktor penting dalam menentukan daya saing perusahaan teknologi. Hal ini terjadi karena meningkatnya tuntutan transparansi dan keberlanjutan dari pelanggan global. Di tengah ketidakpastian ekonomi dan pengetatan standar rantai pasok internasional, ESG mulai bergeser dari sekadar komitmen etis menjadi bagian dari strategi bisnis dan manajemen risiko.

Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan teknologi yang beroperasi di pasar B2B, khususnya yang melayani sektor perbankan, industri, dan pemerintahan, menghadapi tekanan untuk memastikan operasionalnya selaras dengan standar keberlanjutan global. Penilaian pihak ketiga pun semakin banyak digunakan sebagai tolok ukur kesiapan tata kelola perusahaan. Salah satu yang mencerminkan tren tersebut adalah Global Infotech Solution (GIS), perusahaan sistem integrator yang beroperasi di Indonesia.

Pada 2026, GIS kembali menjalani penilaian keberlanjutan oleh lembaga evaluasi internasional EcoVadis, yang menilai aspek lingkungan, ketenagakerjaan dan hak asasi manusia, etika, serta pengadaan berkelanjutan. Keberlanjutan penilaian ini diklaim menunjukkan upaya perusahaan untuk menjaga konsistensi tata kelola di tengah dinamika industri teknologi yang semakin kompetitif.

Menurut Managing Director Global Infotech Solution, Amon Fernandes menyebut, ESG kini memiliki implikasi langsung terhadap keberlangsungan bisnis. “ESG bukan lagi pembeda, melainkan prasyarat agar perusahaan bisa tetap relevan dan dipercaya, terutama dalam industri teknologi yang sangat terhubung dengan pasar global,” ujar dia melalui keterangannya.

ESG dan Efisiensi Operasional

Dari perspektif ekonomi, integrasi ESG semakin dipandang sebagai instrumen untuk meningkatkan efisiensi dan ketahanan operasional. Sepanjang 2025 hingga awal 2026, GIS mengimplementasikan berbagai kebijakan internal yang diarahkan pada optimalisasi penggunaan energi, digitalisasi proses kerja untuk mengurangi konsumsi kertas, serta peningkatan standar keselamatan dan kesejahteraan karyawan.

Langkah-langkah tersebut sejalan dengan kecenderungan perusahaan teknologi yang mulai menempatkan ESG sebagai bagian dari pengendalian biaya jangka panjang, bukan sekadar aktivitas kepatuhan. Efisiensi energi, pengelolaan limbah, serta rantai pasok yang bertanggung jawab dinilai dapat menekan risiko operasional sekaligus meningkatkan kepercayaan mitra bisnis.

Dalam konteks ketenagakerjaan, penerapan prinsip Diversity, Equity, and Inclusion (DEI) serta peningkatan standar keselamatan kerja menjadi bagian dari upaya menjaga produktivitas sumber daya manusia di tengah persaingan talenta digital yang semakin ketat.

Dampak ESG pada Hubungan Bisnis

Tekanan ESG juga berdampak pada hubungan perusahaan dengan pemasok dan mitra. GIS, misalnya, mulai mendorong keterlibatan pemasok yang menerapkan prinsip pengadaan berkelanjutan. Pendekatan ini mencerminkan perubahan lanskap bisnis, di mana perusahaan tidak hanya dinilai dari kinerja internal, tetapi juga dari praktik keberlanjutan seluruh rantai pasoknya.

Selain aspek operasional, GIS melanjutkan sejumlah inisiatif sosial dan lingkungan, seperti pengelolaan dan daur ulang limbah operasional, pelestarian lingkungan melalui penanaman mangrove, serta program pendidikan di bidang teknologi informatika. Inisiatif ini diposisikan sebagai bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam membangun ekosistem bisnis yang berkelanjutan.

Kepatuhan dan Komitmen Jangka Panjang

Seiring dengan perkembangan ESG, GIS terus berkomitmen untuk memperkuat prinsip-prinsip tersebut dalam setiap aspek operasionalnya. Dengan adanya penilaian berkala oleh lembaga internasional, perusahaan menunjukkan bahwa ESG bukan hanya sekadar target, tetapi juga bagian dari visi dan misi perusahaan.

Dalam era yang semakin dinamis, ESG menjadi alat penting untuk menjaga kepercayaan pelanggan, mitra, dan masyarakat secara keseluruhan. Dengan menjalankan prinsip-prinsip ini, GIS menunjukkan bahwa keberlanjutan dan tanggung jawab sosial dapat menjadi bagian dari pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *