Penyebab dan Potensi Wabah Nipah Virus
Dalam beberapa waktu terakhir, virus Nipah menjadi perhatian publik seiring meningkatnya pemberitaan tentang penyakit menular ini. Menurut peneliti Ahli Utama Virologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Niluh Putu Indi Dharmayanti, virus ini berpotensi menjadi wabah apabila tidak diantisipasi dengan baik.
Menurut Indi, mereka yang terserang virus Nipah memiliki tingkat kematian yang tinggi. Meski hingga kini belum ditemukan kasus pada manusia di Indonesia, berbagai bukti ilmiah menunjukkan bahwa virus ini telah bersirkulasi di alam.
Nipah virus pertama kali diidentifikasi pada wabah di Malaysia pada 1998. Setelah itu menimbulkan kejadian berulang di sejumlah negara Asia Selatan dan Asia Tenggara. “Nipah virus memiliki dampak serius terhadap kesehatan masyarakat, kesehatan hewan, serta aspek sosial dan ekonomi,” katanya melalui keterangan tertulisnya, Sabtu, 31 Januari 2026.
Sumber Penularan Nipah Virus
Indi menjelaskan, Nipah virus termasuk genus Henipavirus dengan reservoir alami berupa kelelawar buah dari famili Pteropodidae, khususnya genus Pteropus. Kelelawar ini dapat membawa virus tanpa menunjukkan gejala sakit, namun berpotensi menularkannya ke hewan lain maupun manusia.
Penularan virus Nipah ke manusia, kata Indi, dapat terjadi melalui beberapa jalur. Antara lain kontak langsung dengan hewan terinfeksi seperti babi, konsumsi makanan yang terkontaminasi, serta penularan antarmanusia. Di sejumlah negara, wabah NiV juga dikaitkan dengan konsumsi makanan yang terkontaminasi urin atau saliva kelelawar.
Keberadaan Nipah Virus di Indonesia
Di Indonesia, kata Indi, sejumlah penelitian telah memberikan bukti ilmiah keberadaan virus Nipah pada satwa liar. Studi serologis di Kalimantan Barat menemukan antibodi Nipah virus pada sekitar 19 persen sampel serum kelelawar Pteropus vampyrus, meskipun tidak ditemukan pada babi. “Deteksi molekuler juga telah dilakukan menggunakan metode PCR pada sampel saliva dan urin kelelawar di Sumatera Utara, yang mengkonfirmasi keberadaan genom Nipah virus,” katanya.
Penelitian lanjutan, kata Indi, menemukan virus serupa pada Pteropus hypomelanus di wilayah Jawa, dengan karakter genetik yang berkerabat dekat dengan isolat dari Malaysia dan negara Asia Tenggara lainnya. Kondisi ekologis Indonesia menjadikan risiko penularan virus Nipah tidak bisa diabaikan. Keanekaragaman spesies kelelawar yang tinggi, kedekatan habitat satwa liar dengan permukiman manusia, serta praktik perburuan dan perdagangan satwa menjadi faktor pendorong terjadinya spillover virus.
Faktor Risiko Penularan
Selain itu, keberadaan pasar hewan dengan sanitasi yang kurang memadai serta populasi babi yang besar di beberapa wilayah turut meningkatkan potensi penularan lintas spesies. “Interaksi yang intens antara manusia, hewan, dan lingkungan menjadi kunci munculnya penyakit zoonotik seperti Nipah,” ujarnya.
Pencegahan dan Deteksi Dini
Indi menegaskan bahwa hingga saat ini belum tersedia vaksin maupun obat antivirus spesifik untuk Nipah virus. Oleh karena itu, penanganan kasus sangat bergantung pada perawatan suportif. Pencegahan menjadi langkah paling penting untuk menekan risiko wabah.
Ia mendorong penguatan surveilans aktif pada satwa liar, hewan domestik, dan manusia, serta peningkatan kapasitas diagnostik di berbagai daerah. Deteksi dini dinilai krusial untuk mencegah meluasnya penularan jika virus berpindah ke manusia.