22 April 2026
AA1Vis51.jpg

Upaya Pupuk Indonesia dalam Mencapai Target Net Zero Carbon Emission

PT Pupuk Indonesia (Persero) menunjukkan optimisme besar dalam berkontribusi pada pencapaian target nasional untuk mencapai net zero carbon emission pada tahun 2060. Hal ini dilakukan melalui berbagai inisiatif revitalisasi pabrik dan peningkatan efisiensi industri.

Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero), Rahmad, menjelaskan bahwa langkah dekarbonisasi yang dilakukan oleh Pupuk Indonesia Group selaras dengan roadmap yang ditetapkan oleh pemerintah. Ia menyatakan bahwa revitalisasi pabrik menjadi salah satu cara utama untuk membuat industri lebih hijau.

“Terkait net zero carbon emission, kita mengikuti roadmap pemerintah. Revitalisasi pabrik yang kita lakukan menjadikan industri lebih hijau karena bahan baku yang dipakai lebih sedikit dan emisinya berkurang,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa tanpa langkah revitalisasi, industri pupuk akan terus berjalan dalam skema business as usual, sehingga sulit untuk menekan emisi karbon. Namun, pemerintah menargetkan Indonesia dapat mencapai net zero carbon emission pada 2060.

“Revitalisasi pabrik menjadi langkah paling utama karena meningkatkan efisiensi. Artinya, emisinya juga ikut berkurang. Ini bagian dari perjalanan kita menuju target tersebut,” kata dia.

Dalam peta jalan pengurangan emisi, Rahmad menjelaskan bahwa Pupuk Indonesia menargetkan penurunan emisi sebesar 28% pada 2030. Dengan berbagai langkah yang kini dijalankan, capaian tersebut diproyeksikan bisa melampaui target.

“Dengan eksekusi langkah-langkah ini, mudah-mudahan kami bisa mencapai pengurangan emisi sekitar 31% – 32%. Jadi kami masih on the track,” ujarnya.

Pemanfaatan Energi Terbarukan dan Teknologi Baru

Salah satu contoh yang diberikan oleh Rahmad adalah di pabrik Pupuk Kaltim, di mana pihaknya telah mulai meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan. Di kawasan pabrik Pupuk Kaltim, panel surya berkapasitas 2 megawatt telah terpasang di atap gedung-gedung operasional, dan langkah serupa diterapkan di anak perusahaan lainnya.

“Kami juga mulai mengintroduksi teknologi boiler batu bara dengan emisi lebih rendah sekitar 5%. Jadi banyak langkah yang sudah dan sedang kita lakukan,” tambah Rahmad.

Menurutnya, sebagian besar emisi industri pupuk berasal dari penggunaan bahan baku, bukan dari konsumsi listrik. Oleh karena itu, modernisasi pabrik dinilai menjadi kunci utama untuk menurunkan jejak karbon secara signifikan.

Proyek Revamping Ammonia Pabrik-2

Pupuk Indonesia melalui Pupuk Kaltim baru saja meresmikan proyek Revamping Ammonia Pabrik-2. Proyek ini mampu menurunkan konsumsi energi minimum sebesar 10% atau setara 4 MMBtu per ton amonia, sekaligus menekan emisi hingga 110.000 ton CO₂ ekuivalen per tahun melalui penghematan penggunaan gas alam.

Strategi Ke Depan

Ke depan, Rahmad menegaskan bahwa Pupuk Indonesia akan mengombinasikan berbagai strategi, mulai dari efisiensi energi, pemanfaatan energi terbarukan, hingga penerapan nature-based solution untuk mengimbangi emisi yang tidak dapat dihilangkan dari proses produksi.

“Namanya proses industri, tetap ada emisi. Tapi kalau semua langkah ini dikombinasikan, insha Allah menuju net zero carbon emission 2060, kami masih cukup optimis,” kata dia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *