19 April 2026
AA1VcW4N.jpg

Penyakit Zoonosis yang Menjadi Perhatian Serius

Virus Nipah, sebuah penyakit zoonosis yang menular dan berpotensi mematikan, kini menjadi perhatian serius bagi masyarakat. Hingga saat ini, belum ada obat antivirus atau vaksin yang dapat mengobati infeksi virus ini. Oleh karena itu, pencegahan menjadi langkah utama dalam menghadapi ancaman ini.

Menurut Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Piprim Basarah Yanuarso, penanganan pasien yang terinfeksi virus Nipah masih bersifat suportif dan simptomatis. “Sampai sekarang belum ada obat dan vaksin untuk virus Nipah. Penanganan dilakukan dengan terapi suportif,” ujar Piprim dalam konferensi pers virtual pada 29 Januari 2026.

Sejarah dan Sumber Penyebaran Virus Nipah

Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI, Dominicus Husada, menjelaskan bahwa virus Nipah pertama kali diidentifikasi pada tahun 1998 di sekitar Sungai Nipah, Negeri Sembilan, Malaysia. Virus ini berasal dari kelelawar buah dan dapat menular ke manusia melalui hewan perantara seperti babi, serta melalui kontak langsung dengan cairan tubuh hewan atau manusia yang terinfeksi.

Sejak ditemukan, tercatat lebih dari 800 kasus di seluruh dunia dengan angka kematian mencapai 40–70 persen. Meskipun belum ada laporan kasus pada manusia di Indonesia, virus Nipah telah ditemukan pada populasi kelelawar buah.

Gejala dan Kelompok Rentan

Gejala awal infeksi umumnya berupa demam, nyeri kepala, nyeri otot, muntah, dan nyeri tenggorokan. Pada kondisi berat, virus ini dapat menyerang otak. Karena itu, kelompok berisiko seperti peternak, pengumpul nira, dan tenaga kesehatan diminta meningkatkan kewaspadaan.

IDAI mengimbau masyarakat untuk terus menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Masyarakat juga diminta tidak mengonsumsi nira mentah, mencuci dan mengupas buah secara menyeluruh, serta memastikan daging dikonsumsi dalam kondisi matang. Deteksi dini dan pencegahan dinilai menjadi kunci menghadapi penyakit ini.

Situasi di Indonesia dan Negara Lain

Sebelumnya, Wakil Menteri Kesehatan Benyamin Paulus Octavianus menegaskan bahwa hingga kini virus Nipah belum masuk ke Indonesia. “Memang hari ini belum sampai Indonesia,” ujar Benyamin seperti dilansir Antara pada 29 Januari 2026.

Benyamin menjelaskan jumlah kasus virus Nipah secara global hingga saat ini masih terbatas. Tahun ini, kata dia, hanya terdapat dua kasus yang dilaporkan di India, meskipun tingkat kematian akibat virus tersebut tergolong tinggi. “Jumlah kasus di dunia ini belum sampai 1.000 kasus. Jadi, belum sampai Indonesia,” kata Benyamin Paulus Octavianus.

Menurut dia, Pemerintah India langsung mengambil langkah penanganan ketat untuk mencegah penyebaran virus ke negara lain. Sementara itu Thailand sebagai negara transit juga telah meningkatkan kewaspadaan melalui skrining. “Jadi di India pun sudah langsung melakukan lockdown. Mereka juga tidak mau kasus itu terbang ke negara lain. Tapi Thailand sebagai tempat transit, itu segera jaga-jaga,” ucap Benyamin.

Langkah Pencegahan yang Harus Dilakukan

Untuk mencegah penyebaran virus Nipah, masyarakat harus tetap waspada dan menjaga kesehatan. Beberapa langkah pencegahan yang bisa dilakukan antara lain:

  • Menghindari kontak langsung dengan hewan yang mungkin terinfeksi, seperti babi atau kelelawar.
  • Tidak mengonsumsi nira mentah atau produk olahan dari nira tanpa dipasteurisasi.
  • Memastikan buah-buahan dicuci dan dikupas secara menyeluruh sebelum dikonsumsi.
  • Memastikan daging dimasak hingga matang.
  • Menjaga kebersihan lingkungan dan kebersihan diri sendiri.

Dengan kesadaran dan tindakan pencegahan yang tepat, masyarakat dapat melindungi diri dan orang-orang di sekitarnya dari ancaman virus Nipah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *