22 April 2026
AA1Vgi2k.jpg



Pemerintah menekankan bahwa pengembangan ekonomi hijau tidak boleh dianggap sebagai beban biaya atau sekadar kewajiban. Sebaliknya, ekonomi hijau dinilai memiliki potensi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Hal ini disampaikan oleh Utusan Khusus Presiden Indonesia Bidang Perdagangan & Kerjasama Multilateral, Mari Elka Pangestu, yang menegaskan bahwa ekonomi hijau harus menjadi bagian dari strategi utama dalam mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 8%.

Menurut Mari, adaptasi terhadap perubahan iklim bisa menjadi sumber investasi baru dan menciptakan lapangan kerja. Ia menyoroti bahwa tanpa implementasi langkah-langkah tersebut, Indonesia berisiko mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi karena tidak mampu mengantisipasi dampak perubahan iklim.

“Jika kita tidak melakukan itu, kita tidak akan mampu bersaing,” ujarnya dalam acara Prasasti Economic Forum 2026 di Jakarta, seperti dilansir dalam keterangan tertulis pada Kamis (29/1).

Kadin Dorong Akselerasi Investasi Hijau untuk Pertumbuhan Ekonomi 2026

Mari Elka juga menyebutkan bahwa investor saat ini semakin memprioritaskan standar keberlanjutan, mulai dari penggunaan energi bersih hingga pengelolaan lingkungan. Menurutnya, jika Indonesia tidak memenuhi standar tersebut, akses ke pasar global bisa terbatasi.

Selain itu, transisi energi diharapkan dapat membuka peluang investasi baru di sektor energi terbarukan. Industri juga perlu melakukan perencanaan karbon untuk menghindari risiko yang muncul akibat mekanisme penyesuaian karbon di batas impor (CBAM).

“Mitigasi dan adaptasi bukanlah beban biaya. Ini adalah investasi yang bisa memberikan pertumbuhan,” tambahnya.

Tantangan dan Peluang dalam Penerapan ESG

Dari survei Mandiri Institute pada 2023, sejumlah perusahaan terbuka sudah memiliki strategi untuk menghadapi tantangan penerapan prinsip environmental, sustainability, dan governance (ESG). Dari 162 perusahaan terbuka yang disurvei, sebanyak 59% telah membentuk unit internal untuk memenuhi prinsip-prinsip tersebut.

Mari juga menyoroti bahwa teknologi dan pendanaan bukan satu-satunya faktor yang menentukan berkembangnya ekonomi hijau. Kesiapan sumber daya manusia juga sangat penting. Saat ini, sebagian besar tenaga kerja RI belum siap mendukung akselerasi energi terbarukan. Oleh karena itu, diperlukan program pelatihan keterampilan baru agar dapat memenuhi kebutuhan industri.

Pengembangan Pasar Karbon dan Kebijakan yang Selaras

Mari menekankan perlunya pengembangan pasar karbon yang sesuai dengan standar internasional. Pasar ini akan mengandalkan karbon yang tidak hanya berasal dari hutan, tetapi juga dari laut. Namun, ia juga mengakui adanya tantangan dalam hal kebijakan, karena berbagai sektor masih berjalan sendiri-sendiri.

Oleh karena itu, diperlukan strategi yang jelas untuk menentukan perencanaan dengan kebijakan sektoral. “Tanpa itu, agak susah merealisasikan green golden vision (visi emas hijau),” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *