Penurunan Produksi Padi di Kabupaten Cirebon
Kinerja sektor pertanian di Kabupaten Cirebon pada tahun 2025 menghadapi berbagai tantangan, terutama pada subsektor tanaman pangan padi. Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Cirebon menunjukkan bahwa produksi padi gabah kering panen (GKP) mengalami penurunan sebesar 3,04% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Kepala BPS Kabupaten Cirebon, Januarto Wibowo, menjelaskan bahwa produksi padi sawah pada 2025 tercatat sebesar 683.880 ton GKP, turun dari 705.316 ton GKP pada tahun 2024. Selisih produksi yang terjadi mencapai sekitar 21.436 ton. Menurut Januarto, penurunan ini disebabkan oleh berkurangnya luas panen, bukan karena penurunan produktivitas.
Secara teknis, kemampuan produksi petani menunjukkan perbaikan. Rata-rata produktivitas pada 2025 mencapai 7,55 ton per hektare, lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang berada pada kisaran 6,24 ton per hektare. Namun, peningkatan produktivitas ini belum mampu menahan laju produksi akibat menyusutnya areal tanam.
Luas panen di Kabupaten Cirebon berkurang dari 92.409 hektare menjadi 90.587 hektare atau menyusut sekitar 1.822 hektare. Hal ini menjadi indikasi adanya tekanan pada lahan pertanian, seperti alih fungsi lahan serta perubahan pola tanam yang berdampak langsung pada proses produksi.
Kabupaten Cirebon sebagai salah satu sentra produksi padi di Jawa Barat yang mengalami penurunan produksi memiliki implikasi strategis terhadap tekanan pangan daerah. Meskipun penurunannya terbatas, tren ini harus menjadi sinyal untuk pemerintah segera mengeluarkan kebijakan lahan pertanian berkelanjutan.
Perkembangan Komoditas Palawija
Selain padi, dinamika produksi juga terjadi pada komoditas palawija. Jagung menjadi komoditas palawija dengan kinerja paling positif pada 2025. Produksi jagung meningkat sekitar 10.107 ton, seiring dengan luas tanam yang mencapai 4.689 hektare, menjadikannya komoditas palawija dengan area terluas di Kabupaten Cirebon.
“Jagung menunjukkan tren peningkatan yang cukup signifikan dan menjadi salah satu penopang produksi tanaman pangan selain padi,” ujar Januarto.
Sebaliknya, sejumlah komoditas palawija lainnya justru mengalami penurunan. Produksi ubi jalar tercatat menurun sekitar 3.312 ton pada 2025. Sementara itu, kacang hijau masih menjadi komoditas yang cukup banyak dibudidayakan dengan luas tanam mencapai 1.887 hektare, meski kontribusi produksinya belum mampu mengompensasi penurunan pada komoditas lain.
Tantangan Utama Sektor Pertanian
Menurut Januarto, data tersebut menunjukkan bahwa tantangan utama sektor pertanian Kabupaten Cirebon tidak terletak pada kemampuan produksi petani, melainkan pada aspek struktural. Produktivitas yang meningkat menunjukkan petani mampu beradaptasi secara teknis. Tantangannya ada pada pengendalian alih fungsi lahan dan penguatan sistem pertanian agar produksi tetap berkelanjutan.
Beberapa langkah penting perlu dilakukan untuk mengatasi masalah ini. Antara lain:
- Meningkatkan pengawasan terhadap alih fungsi lahan pertanian
- Mendorong penggunaan teknologi pertanian modern
- Memberikan pelatihan dan pendampingan kepada petani
- Mengembangkan sistem distribusi pangan yang efisien
Dengan upaya-upaya tersebut, diharapkan sektor pertanian Kabupaten Cirebon dapat kembali stabil dan berkontribusi optimal dalam memenuhi kebutuhan pangan daerah.