19 April 2026
AA1U1JUc.jpg

Kesalahan Pemahaman tentang Kondisi Vegetatif

Saya pernah berburuk sangka terhadap beberapa orang, seperti James Rachman Radjimin, almarhum Ali Mahakam, dan Sindunata Sambhudi. Ketika mereka dalam kondisi vegetatif, saya merasa hidupnya mirip dengan tanaman atau sayuran, yang terkesan negatif.

Pada hari pemakaman Radjimin di Hotel JW Marriott Surabaya, saya meminta maaf kepada mereka. Artinya, saya juga sempat berburuk sangka terhadap ilmu pengetahuan. Istilah “vegetatif” ternyata tidak dimaksudkan untuk menghina orang sakit. Berdasarkan berbagai literatur, istilah ini justru digunakan untuk menghormati kehidupan.

Kata “vegetatif” berasal dari bahasa Yunani vegetare, yang berarti hidup atau tumbuh. Sedangkan vegetativus merujuk pada dasar-dasar kehidupan. Artinya, seseorang yang vegetatif masih hidup. Dari segi moral, hal ini penting—terutama di era saat ini yang serba “wani piro”.

Etika dalam Perawatan Orang Vegetatif

Dokter tidak akan menyetujui permintaan keluarga untuk euthanasia. Alasannya, batang otak orang vegetatif masih hidup. Selain itu, organ tubuhnya tidak boleh didonorkan. Jika hati diambil separuh, bisa mengancam kehidupan vegetatifnya. Demikian pula dengan ginjal, karena orang vegetatif rentan terkena infeksi.

Prinsip donasi organ adalah tidak mengancam kehidupan pendonor. Contohnya, Nisa mendonorkan separo hatinya untuk suami. Ini dilakukan karena ilmu pengetahuan memastikan bahwa tindakan tersebut tidak mengancam jiwa Nisa.

Anita, istri Radjimin, terus merawat suaminya dengan perawatan terbaik. Awalnya, banyak dokter dari berbagai negara diterbangkan ke Surabaya. Namun, semua gagal. Setelah dokter menyerah, Anita membawa Radjimin pulang dan mengubah salah satu kamar rumah menjadi ICU. Dilengkapi alat medis lengkap, perawat dari rumah sakit disiapkan 24 jam sehari, bergantian. Selama delapan tahun, perawatan dilakukan secara intensif.

Perawatan Harian untuk Radjimin

Saya pernah menengok ke “ICU” itu. Wajah Radjimin terlihat segar, agak tersenyum. Kulitnya mulus dan segar. Ia telentang, tidak bergerak. Setiap hari, ia diberi makan tiga kali melalui selang langsung ke lambung. Makanan dibuat sendiri berdasarkan resep dokter, seperti campuran tepung beras dan ikan gabus, sayur dicampur buah, kacang hijau, atau putih telur. Semua bahan dilembutkan dan dimasak.

Radjimin hanya makan yang penting-penting, bukan soal rasa. Pencernaannya bersih, tidak perlu bekerja keras. Tidak pernah salah makan seperti kita, yang sering tergoda oleh rasa enak. Akibatnya, selama delapan tahun, Radjimin hampir tidak pernah sakit. Meski pernah terkena Covid dan dirawat di rumah sakit, akhirnya sembuh.

Obat dan Kesehatan Radjimin

Obat yang diminum hanya nexium—obat anti-infeksi. Orang vegetatif memang rentan terkena infeksi. Tidak ada obat lain selain suplemen seperti maltifer fol, yang mengandung zat besi dan asam folat. Itu biasa diberikan kepada orang anemia.

Awal Desember lalu, tekanan darah Radjimin turun. Ia dilarikan ke rumah sakit, kreatininnya naik, dan kondisinya turun naik. Akhirnya, ia meninggal dunia pada 6 Januari lalu.

Latar Belakang Intelektual Radjimin

Saya tidak menyangka Radjimin tidak tamat SMA. Saya tahu ia sangat intelektual, tapi baru kenal ketika ia sudah sukses. Ia memiliki Hotel Westin, yang sekarang menjadi JW Marriott.

Banyak orang sekolah dulu untuk sukses, tapi Radjimin sukses dulu baru kuliah. Ia kuliah jarak jauh di universitas Xiamen, jurusan sastra Mandarin. Bahkan, ia mengambil S-2 di universitas yang sama. Dosen-dosen dari universitas itu terbang ke Surabaya. Akhirnya, Radjimin menjadi ketua alumni universitas tersebut.

Respons Vegetatif dan Refleks

Meski dalam kondisi vegetatif, keluarga senang karena air mata Radjimin meleleh saat istrinya membisikkan sesuatu. Secara medis, orang vegetatif bisa melewatkan air mata, tetapi itu bukan datang dari kesadaran. Itu adalah reflek.

Telinga dan saluran pendengaran masih berfungsi, tapi tanpa kesadaran. Air mata yang meleleh bukan karena ia sadar apa yang dibisikkan, tetapi sebagai respons alami. Bahkan, jantung bisa berdetak tanpa alat bantu, tetapi secara otomatis karena batang otak masih hidup.

Setiap istri dan anak yang menengoknya selalu membisikkan sesuatu. Bertahun-tahun, termasuk saat ulang tahun. Di personal ICU itu.

Akhirnya, saya bisa memahami bahwa reflek itu terjadi di luar kesadaran. Oleh karena itu, negara tidak bisa dipegang oleh orang-orang vegetatif—khawatir program-programnya didasarkan pada reflek.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *