22 April 2026
AA1TDSUR.jpg



Motif Pembunuhan Anak Politisi PKS di Cilegon Terungkap

Sebuah kasus pembunuhan yang mengejutkan terjadi di Kota Cilegon, Jawa Barat. MAHM (9), anak dari anggota Dewan Pakar Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Cilegon, Maman Suherman, menjadi korban pembunuhan. Pelaku, HA (31), akhirnya berhasil ditangkap oleh tim gabungan kepolisian setelah melakukan aksi kriminal tersebut.

Penangkapan Pelaku

Pelaku HA ditangkap pada Jumat (3/1/2026) di Lingkungan Pabuaran, Kelurahan Ciwedus, Kecamatan Cilegon. Penangkapan ini berawal dari laporan asisten rumah tangga (ART) yang melihat seorang pria tak dikenal berada di ruang tamu rumah korban sekitar pukul 11.55 WIB. Saat petugas mendekati pelaku, HA mencoba bersembunyi di bawah mobil yang terparkir di garasi rumah.

Setelah ditangkap, hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa HA adalah pelaku utama dalam pembunuhan MAHM. Selain itu, polisi juga mengamankan beberapa barang bukti yang terkait dengan kasus tersebut.

Latar Belakang Pelaku

Dari pemeriksaan lebih lanjut, diketahui bahwa HA merupakan seorang karyawan swasta di sebuah perusahaan ternama di Cilegon. Informasi ini terungkap melalui Surat Izin Mengemudi (SIM) dan kartu anggota serikat pekerja yang dibawa oleh pelaku.

HA kemudian dibawa oleh petugas Resmob Cilegon untuk pengembangan penyelidikan lebih lanjut. Dalam pemeriksaan, HA mengakui bahwa dirinya telah membunuh anak politikus PKS, Maman Suherman.

Motif Ekonomi

Menurut Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Banten, Kombes Dian Setyawan, awalnya HA ingin melakukan pencurian di rumah korban. Namun, aksinya terbongkar dan berujung pada pembunuhan menggunakan pisau.

“Yang bersangkutan ini melakukan aksinya karena dilatarbelakangi motif ekonomi,” ujar Dian.

Berdasarkan penyelidikan, HA sempat bermain saham kripto melalui aplikasi dengan modal awal sebesar Rp 400 juta. Modal tersebut berasal dari tabungan pribadi dan istri pelaku. Dari modal tersebut, HA mendapatkan keuntungan sebesar kurang lebih Rp 4 miliar.

Namun, ketika kembali memasukkan modal ke dalam kripto, HA justru mengalami kerugian. Untuk menutupi kerugian, HA meminjam uang dari Bank Mandiri sebesar Rp 700 juta, Koperasi sebesar Rp 70 juta, serta pinjaman online (Pinjol) sebesar Rp 50 juta. Sayangnya, semua pinjaman tersebut tidak membawa keuntungan bagi HA.

Masalah Kesehatan

Selain masalah ekonomi, HA juga memiliki masalah kesehatan. Dari bukti rekam medis rumah sakit yang ditemukan di handphone pelaku, diketahui bahwa HA menderita kanker stadium 3 sejak tahun 2020. Ia rutin menjalani pengobatan rutin dan kontrol dokter dengan pengobatan kemoterapi di rumah sakit S di daerah Semanggi.

Kombes Dian menjelaskan bahwa kondisi kesehatan HA dan utang yang menumpuk menjadi alasan mengapa ia melakukan tindakan kriminal. “Karena impitan ekonomi inilah mendorong yang bersangkutan untuk melakukan tindak pidana ini,” tandasnya.

Penanganan Lebih Lanjut

Saat ini, HA masih menjalani pemeriksaan intensif dari pihak kepolisian. Polisi akan terus mengembangkan kasus ini untuk mempertanggungjawabkan perbuatan HA. Selain itu, pihak kepolisian juga akan memastikan bahwa seluruh bukti yang ditemukan dapat digunakan sebagai dasar hukum dalam proses penuntutan.



Kasus ini menunjukkan bagaimana tekanan ekonomi dan masalah kesehatan bisa memengaruhi seseorang untuk melakukan tindakan yang tidak terduga. Dengan adanya penangkapan HA, masyarakat berharap agar kasus seperti ini tidak terulang kembali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *