Pergerakan Indeks Dolar AS (DXY) di Tengah Ketegangan Geopolitik
Indeks dolar Amerika Serikat (DXY) tercatat masih relatif stabil meskipun terjadi peningkatan ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Venezuela. Hal ini menunjukkan bahwa konflik yang sedang berlangsung belum menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan DXY.
Pengamat komoditas menyatakan bahwa hingga saat ini, perubahan signifikan pada indeks dolar AS belum terlihat. Arah kebijakan moneter The Fed, pergerakan imbal hasil US Treasury, serta sentimen geopolitik global tetap menjadi faktor utama yang memengaruhi DXY.
Konflik AS–Venezuela dan Pengaruhnya
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Sabtu (3/1/2026), mengumumkan bahwa AS mengambil alih kendali sementara atas Venezuela setelah pasukan khusus AS menangkap Presiden Nicolas Maduro dalam operasi militer. Ia kemudian dibawa ke New York untuk menghadapi dakwaan perdagangan narkoba.
Analis Komoditas Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa indeks dolar AS (DXY) saat ini belum banyak terpengaruh oleh konflik tersebut. Menurutnya, perubahan signifikan pada DXY hanya akan terjadi jika bank sentral dunia mempercepat langkah dedolarisasi. Namun, proses ini lebih dipengaruhi oleh faktor politik daripada pertimbangan ekonomi, sehingga arahnya masih sulit dipastikan.
Perkembangan Geopolitik Lainnya
Lukman juga menyebutkan bahwa investor global diperkirakan akan mencermati perkembangan geopolitik di wilayah lain. Beberapa isu yang mungkin memengaruhi sentimen pasar antara lain:
- Ketegangan di Taiwan dan Iran.
- Potensi dinamika politik di Kanada dan Greenland.
Perkembangan-perkembangan ini dinilai dapat memberikan dampak terhadap pergerakan pasar ke depan.
Pengaruh Imbal Hasil US Treasury
Di luar konflik AS–Venezuela, pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa ketegangan antara AS dan Venezuela berdampak terhadap pergerakan DXY. Aksi militer AS yang dilakukan tanpa persetujuan Kongres memunculkan kekhawatiran di pasar global.
Selain itu, imbal hasil US Treasury masih berpotensi meningkat seiring langkah sejumlah negara, terutama Tiongkok, yang terus mengurangi kepemilikan obligasi AS. Tiongkok, yang menguasai porsi besar obligasi AS, dilaporkan melakukan penjualan dan menahan pembelian baru, sehingga memberi tekanan pada pasar obligasi.
Kebijakan Bank Sentral AS
Ibrahim juga menyoroti kebijakan bank sentral Amerika Serikat yang kembali melakukan quantitative tightening pada Januari. Pengetatan terhadap obligasi sekitar US$ 40 miliar turut memperkuat potensi penguatan dolar AS.
Dengan demikian, Ibrahim memprediksi bahwa DXY akan bergerak di rentang support 98,098 dan resistance 98,680. Prediksi ini didasarkan pada berbagai faktor yang saling berkaitan, termasuk kebijakan moneter, dinamika geopolitik, dan pergerakan pasar keuangan global.