22 April 2026
AA1TxWnA.jpg

Prospek Pertumbuhan Ekonomi dan Arus Modal Asing di Tahun 2026

Pada tahun 2026, arus modal asing diperkirakan akan lebih banyak mengalir ke pasar saham Indonesia. Hal ini didorong oleh meningkatnya prospek pertumbuhan ekonomi dan sentimen positif terhadap pengelolaan pemerintahan. Kondisi tersebut diyakini akan memperkuat kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menyatakan bahwa target IHSG di level 10.000 pada akhir 2026 masih realistis. Menurutnya, hal ini bisa tercapai karena prospek pertumbuhan ekonomi yang semakin baik.

“Kami melihat prospek pertumbuhan ekonomi kita akan meningkat,” ujar Myrdal dalam wawancaranya dengan Dewa News.

Sentimen Positif dari Pengelolaan Pemerintah

Sentimen positif juga datang dari pengelolaan pemerintah, baik dalam manajemen pemerintahan maupun keuangan negara. Myrdal menilai bahwa pengelolaan pemerintah saat ini lebih baik dibandingkan periode sebelumnya.

Selain itu, perbaikan iklim investasi terus dilakukan melalui berbagai upaya pemerintah untuk mengatasi hambatan melalui Satuan Tugas Percepatan Program Strategis Pemerintah (Satgas P2SP), yang dibentuk Desember 2025 lalu.

Pergerakan Suku Bunga dan Harga Komoditas

Dari sisi moneter, Myrdal melihat adanya penurunan suku bunga, meskipun ruang penurunannya terbatas. Namun, dampak penurunan suku bunga pada tahun lalu diperkirakan masih akan terasa pada tahun ini dan berlanjut ke 2026.

Pergerakan harga komoditas juga diharapkan memberikan dampak positif, terutama di tengah meningkatnya tensi geopolitik global sejak awal tahun. Myrdal menyoroti ketegangan geopolitik yang melibatkan Venezuela sebagai salah satu faktor yang berpotensi menguntungkan Indonesia.

“Konflik geopolitik yang berhubungan dengan negara penghasil komoditas seperti Venezuela justru kita harapkan berdampak positif untuk Indonesia,” katanya.

Kondisi tersebut dapat mendukung kinerja komoditas andalan ekspor Indonesia, baik komoditas energi seperti batu bara dan minyak bumi, maupun komoditas sawit serta mineral seperti emas.

Arus Modal Asing ke Pasar Saham

Myrdal memperkirakan pada 2026 aliran dana masuk akan lebih banyak mengarah ke pasar saham. Hal ini seiring membaiknya prospek ekonomi nasional dan meningkatnya minat investor asing terhadap saham-saham Indonesia.

“Investor asing kami lihat akan banyak masuk ke saham-saham yang memang menjadi mesin pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

Saham-saham yang berasal dari sektor-sektor yang berkaitan dengan program Asta Cita, aktivitas investasi, ekspor, serta hilirisasi diperkirakan menjadi tujuan utama arus modal asing.

Prospek Investasi Asing (FDI)

Dari sisi foreign direct investment (FDI), Myrdal berharap realisasi investasi pada 2026 dapat meningkat. Jika pada tahun lalu target investasi mencapai Rp 1.905 triliun, maka pada tahun ini dan ke depan investasi diharapkan bisa lebih besar, terutama jika investor melihat keseriusan pemerintah dalam mendorong iklim investasi yang lebih kondusif.

Arus Modal Asing ke Pasar Surat Utang Negara

Berbeda dengan pasar saham, arus modal asing ke pasar surat utang negara atau Surat Berharga Negara (SBN) diperkirakan relatif terbatas. Hal ini disebabkan oleh penurunan imbal hasil yang tidak sebesar tahun lalu, sehingga daya tarik pasar obligasi dinilai lebih moderat.

Prospek Nilai Tukar Rupiah

Dengan kondisi tersebut, Myrdal menilai prospek nilai tukar rupiah pada 2026 cenderung stabil dan tidak jauh dari asumsi APBN 2026 di level Rp 16.500 per dolar AS. Bahkan, dengan prospek ekonomi yang membaik, rupiah berpeluang ditutup pada level yang lebih kuat.

“Untuk 2026, kami memproyeksikan rupiah akhir tahun berada di sekitar Rp 16.360 per dolar AS, meskipun untuk rata-ratanya masih di kisaran Rp 16.547,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *