Perundungan dan Dampak Teknologi Kecerdasan Buatan dalam Pendidikan
Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof. Dr. H. Didi Sukyadi, M.A., menyampaikan perhatian terhadap masalah perundungan yang masih menjadi isu serius dalam sistem pendidikan di Indonesia. Ia menekankan bahwa perundungan tidak hanya menjadi masalah di tingkat sekolah dasar atau menengah, tetapi juga telah menjangkau lingkungan perguruan tinggi.
Menurut Didi, perundungan sering kali disalahpahami sebagai candaan. Padahal, indikator utamanya adalah dampak psikologis yang dialami oleh korban. “Jika dua orang tertawa, itu bukan bullying. Tapi jika satu orang tertawa dan yang lain cemberut, itu sudah bisa dikategorikan sebagai bullying,” ujarnya pada Senin 29 Desember 2025.
Perundungan, menurut Didi, bukanlah fenomena baru. Ia mengungkapkan bahwa fenomena ini sudah ada sejak masa kecilnya, saat ia masih duduk di bangku sekolah dasar hingga menengah. Di masa lalu, perundungan biasanya berupa ejekan atau pemanggilan dengan nama orangtua. Namun, saat ini, perundungan semakin parah dan dampaknya lebih serius dibandingkan sebelumnya.
“Sekarang, bullying sudah sangat menggelisahkan bahkan sampai menyebabkan korban meninggal dunia,” kata Didi.
Fenomena perundungan tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara seperti Amerika Serikat dan Inggris. Di sana, perundungan telah menjadi isu nasional dan menjadi objek kajian riset serius yang mendapat perhatian dari pimpinan tertinggi negara.
Selain perundungan, Didi juga menyoroti ancaman baru dalam dunia pendidikan, yaitu pengaruh teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI) terhadap psikologi anak dan remaja. Menurutnya, generative AI kini bisa berperan seolah-olah sebagai psikolog, dokter, atau guru. Namun, masalah muncul ketika tidak semua pengguna mampu membedakan saran yang positif atau justru negatif.
Didi menyebutkan contoh kasus di luar negeri, di mana dua anak dilaporkan melakukan bunuh diri setelah terpengaruh interaksi dengan AI. Mereka terdorong untuk beralih dari realitas kehidupan yang mereka jalani. “Ini tantangan nyata pendidikan hari ini, yakni bullying dan dampak psikologis penggunaan AI,” ujarnya.
Akar Masalah Perundungan
Didi menilai salah satu akar masalah perundungan adalah ketidaksamaan pemahaman tentang definisi dan batasan perundungan. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya kesepahaman bersama antara siswa, guru, kepala sekolah, orangtua, dan masyarakat.
“Semua pihak harus tahu mana yang termasuk bullying dan mana yang bukan. Jika pemahamannya sama, maka harus ada garis merah yang jelas dan sanksinya juga jelas,” ujarnya.
Ia juga mendorong sekolah dan kampus memiliki mekanisme khusus, seperti tim atau pejabat yang menangani kasus perundungan secara serius dan berkelanjutan. Selain itu, Didi menekankan pentingnya melibatkan orangtua dalam setiap penanganan kasus. “Ini bukan hanya tanggung jawab guru atau kepala sekolah, tetapi tanggung jawab bersama,” katanya.
Langkah Konkret untuk Mengatasi Perundungan
Untuk mengatasi perundungan, Didi menyarankan adanya pendidikan dan sosialisasi yang lebih luas kepada seluruh komponen pendidikan. Hal ini mencakup pelatihan bagi guru dan staf sekolah agar dapat mengenali tanda-tanda perundungan dan menangani kasus secara efektif.
Selain itu, Didi juga menyarankan adanya program konseling yang lebih intensif untuk para siswa, terutama yang rentan terkena dampak perundungan. Program ini bisa bekerja sama dengan psikolog dan ahli psikologi anak.
Dalam konteks teknologi kecerdasan buatan, Didi menyarankan adanya pembatasan penggunaan AI di lingkungan pendidikan, terutama untuk anak-anak dan remaja. Ia menekankan perlunya edukasi digital yang baik agar para pengguna mampu membedakan informasi yang berguna dan yang berpotensi membahayakan.
Pendekatan holistik diperlukan untuk menghadapi tantangan ini. Baik perundungan maupun pengaruh AI, keduanya memerlukan kolaborasi lintas sektor dan kebijakan yang jelas. Dengan langkah-langkah konkret, diharapkan pendidikan di Indonesia dapat menjadi lebih aman dan sehat bagi seluruh peserta didik.