19 April 2026
AA1RDsPf.jpg

Pertanyaan Mendasar tentang Pendidikan Indonesia

Ada sebuah pertanyaan yang mungkin pernah terlintas di benak banyak orang: Apakah pendidikan Indonesia masih membangun manusia, atau sekadar menyiapkan tenaga kerja? Pertanyaan ini dilontarkan oleh Muhammad Nur Rizal, founder Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), dalam forum Ngkaji Pendidikan yang diselenggarakan di Auditorium Universitas Nahdlatul Ulama, Yogyakarta, pada Sabtu (20/12) lalu. Forum tersebut mengangkat tema Human & Education Reset.

Menurut Rizal, tema tersebut dipilih karena ia melihat bahwa pendidikan terlalu lama terjebak dalam perbaikan teknis, sementara fondasi kemanusiaannya justru terabaikan. Ia menjelaskan bahwa “reset” bukan berarti restart, tetapi menata ulang sistem dengan kembali ke mode dasar manusia: cara berpikir, cara merasa, dan cara mengambil keputusan. Ia menegaskan bahwa krisis saat ini bukanlah kekurangan teknologi, melainkan krisis nalar dan kebijaksanaan.

Letusan Gunung Tambora sebagai Contoh

Untuk menjelaskan gagasannya, Rizal mengajak peserta menengok letusan Gunung Tambora tahun 1815. Peristiwa tersebut memicu pendinginan global yang dikenal sebagai The Year Without Summer, menyebabkan gagal panen, krisis pangan, migrasi besar-besaran, hingga instabilitas politik di Eropa dan Amerika Utara. Ia menyatakan bahwa Tambora menunjukkan bahwa bencana bukan semata peristiwa alam, tetapi juga akibat ketidaksiapan manusia.

Narasi ini kemudian dikaitkan dengan bencana ekologis di Sumatera saat ini. Data yang dipaparkan menunjukkan bahwa deforestasi masif sejak 1990-an telah mengubah fungsi hutan secara drastis. Saat hutan masih utuh, koefisien run sangat baik, sekitar 90 persen air hujan diserap tanah dan hanya 10 persen mengalir ke sungai. Setelah alih fungsi besar-besaran, kondisi itu berbalik: hanya sekitar 10 persen air terserap, sementara 90 persen menjadi limpasan permukaan yang memicu banjir bandang dan longsor.

Paradigma Pembangunan yang Tidak Seimbang

Rizal menyoroti bahwa ini bukan semata anomali iklim, tetapi akibat dari paradigma pembangunan yang melihat hutan sebagai ruang transaksi investasi, bukan sebagai sistem ekologis. Ia menegaskan bahwa kerugian ekonomi akibat bencana jauh lebih besar dibandingkan manfaat ekonomi dari eksploitasi sumber daya alam. Ia menunjukkan data forest rent Indonesia—nilai bersih ekonomi dari eksploitasi hutan—yang turun dari sekitar 0,81 persen PDB menjadi sekitar 0,4 persen seiring rusaknya hutan dan menurunnya produktivitas jangka panjang.

“Kita merusak hutan, tapi tidak menjadi kaya. Yang kita wariskan justru kerugian ekonomi, sosial, dan ekologis,” tegasnya.

Dunia Paradoks dan Kecerdasan Buatan

Forum ini juga membahas apa yang disebut Rizal sebagai Paradoxical World alias Dunia Paradoks. Di satu sisi, manusia hidup di era kecerdasan buatan dan teknologi paling maju. Di sisi lain, keputusan publik sering kali mengabaikan data, sains, dan etika. Ia menegaskan bahwa AI bukan masalah utamanya, melainkan ketika manusia menyerahkan proses berpikir kepada mesin, padahal mesin belajar dari data masa lalu manusia, termasuk bias dan kesalahan kita.

Menurut Rizal, pendidikan terlalu fokus pada adaptasi teknologi, tetapi abai melatih manusia untuk berpikir jernih, membaca realitas, dan mengambil keputusan etis. Akibatnya, kecerdasan meningkat, tetapi kebijaksanaan tertinggal.

Api Prometheus dan Pentingnya Human Reset

Rizal menilai bahwa manusia hari ini telah memegang Api Prometheus: yaitu nalar dan teknologi yang dipakai tanpa kebijaksanaan. Karena itu, human reset menjadi prasyarat sebelum education reset dijalankan.

Solusi melalui Education Reset

Sebagai jalan keluar, Rizal menekankan pentingnya Education Reset melalui pendekatan liberal arts, bukan sebagai mata pelajaran baru, melainkan sebagai kerangka berpikir. Ia menjelaskan bahwa liberal arts bukan kurikulum Barat atau mata pelajaran tambahan, tetapi alat untuk memulihkan manusia dalam berpikir, merasa, dan bertindak.

Ia menegaskan bahwa pendidikan saat ini kehilangan dua hal sekaligus: alat berpikir (trivium: logika, bahasa, retorika) dan rasa keteraturan alam (quadrivium: numerik dan harmoni alam). Tanpa keduanya, pendidikan berisiko melahirkan manusia yang cerdas secara teknis, tetapi rapuh secara moral.

“Jika pendidikan terus mencetak manusia pintar tetapi tidak bijak, kita tidak sedang membangun masa depan, melainkan menyiapkan krisis berikutnya,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *