22 April 2026
AA1ST4or.jpg

Peran Guru dalam Melestarikan Bahasa Sunda

Di tengah perkembangan zaman dan modernisasi, bahasa Sunda terus berupaya untuk tetap eksis. Berdasarkan data dari Sensus Penduduk 2020 yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penutur bahasa Sunda mencapai sekitar 27 hingga 42 juta orang. Meskipun menjadi bahasa ibu kedua terbanyak di Indonesia setelah bahasa Jawa, jumlah penutur bahasa Sunda mengalami penurunan sekitar 2 juta orang dari tahun 2010 ke 2020 atau sekitar 200 ribu penutur per tahun. Hal ini menarik perhatian para pegiat bahasa Sunda, termasuk para guru.

Dari permasalahan tersebut, Yayasan Kebudayaan Rancage bekerja sama dengan Program Studi Bahasa Sunda Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra (FPBS) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) memberikan penghargaan Hardjapamekas kepada para guru bahasa Sunda yang inovatif. Penghargaan ini sudah diberikan sejak tahun 2008 dan telah diberikan kepada 42 guru dari jenjang SD hingga SMA.

Pada acara Pamasrahan Hadiah Hardjapamekas di Bale Rumawat Universitas Padjadjaran, Jalan Dipati Ukur, Kota Bandung, pada Selasa 23 Desember 2025, tiga guru yang menerima anugerah adalah Neneng Nur’aeni dari SDN Sukajadi, Situraja, Kabupaten Sumedang, Anita Rohani (SMPN 31 Kota Depok), dan Dimas Patria (SMAN 2 Kabupaten Subang). Mereka menjadi sosok pembaruan dalam menjaga eksistensi bahasa Sunda.

Tantangan Mengajar Bahasa Sunda di Sekolah Dasar

Kepala SDN Sukajadi Situraja, Kabupaten Sumedang, Neneng Nur’aeni menyampaikan bahwa salah satu kesulitan mengajar bahasa Sunda di tingkat sekolah dasar adalah karena guru mengajar semua mata pelajaran. Alhasil, dia mencari para guru yang memiliki kepedulian terhadap bahasa Sunda.

“Saya lulusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar dan Matematika. Guru bahasa Sunda di tingkat SD memang terhitung langka. Bahkan, di SDN Sukajadi itu awalnya para guru banyak menolak. Akan tetapi, sekarang mulai berubah, karena dukungan pemerintah daerah,” ujarnya.

Tantangan Mengajar Bahasa Sunda di Kota Depok

Guru bahasa Sunda SMPN 31 Kota Depok, Anita Rohani menjelaskan bahwa murid di kelasnya sangat heterogen. Di Kota Depok, hanya 2,80% yang berbahasa Sunda. Alhasil, Anita harus menghadapi berbagai tantangan dalam mengajarkan bahasa Sunda.

“Mengajar bahasa Sunda di Depok harus menggunakan metode yang menarik. Apalagi, di tahun-tahun sebelumnya kebijakan kepala daerah kerap berganti, sampai pernah ada wali kota yang mau menghapus mata pelajaran bahasa Sunda,” tutur Anita.

Anita bersyukur karena didukung komunitas Ikatan Budaya Sunda yang aktif mensosialisasikan bahasa Sunda. Dari komunitas itu, secara politik, bahasa Sunda memiliki posisi yang lebih kuat.

“Sekarang Pemerintah Kota Depok sangat mendukung, misalnya kami bisa ikut Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI). Bahkan, tahun depan ada dua anggaran yang disiapkan, yaitu untuk ikut FTBI dan menggelar hari apresiasi bahasa Sunda,” kata Anita.

Masalah Gagap Berbahasa Sunda di Sekolah Menengah

Sementara itu, Dimas Patria, guru bahasa Sunda SMAN 2 Kabupaten Subang, mengungkapkan bahwa 60-70% siswa di sekolahnya gagap berbahasa Sunda. Padahal, mayoritas penduduk Kabupaten Subang adalah orang Sunda.

“Saya wawancara para siswa, untuk tahu sejauh mana mereka mengenal bahasa Sunda. Kemudian, saya evaluasi dan mencari tahu apa kebutuhan mereka,” ucap Dimas yang juga mendirikan sanggar seni budaya Sunda.

Dukungan untuk Guru Bahasa Sunda

Putra almarhum R Sobri Hardjapamekas, Erry Riyana Hardjapamekas menyatakan bahwa para guru bahasa Sunda sangat berjasa dalam melestarikan bahasa Sunda. Perjuangan mereka layak mendapat apresiasi.

“Semoga penghargaan Hardjapamekas ini menjadi motivasi dan menginspirasi para guru, terutama bahasa Sunda untuk terus menjaga eksistensi bahasa Sunda. Selamat untuk para penerima penghargaan, dan tetap semangat untuk para guru yang belum menerima Hadiah Hardjapamekas,” ujar Erry.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *