Harga emas mengalami penurunan pada hari Jumat (19/12/2025), setelah data inflasi Amerika Serikat yang lebih rendah dari perkiraan mengurangi daya tarik logam mulia sebagai pelindung terhadap kenaikan harga.
Harga emas di pasar spot turun sebesar 0,2% menjadi US$4.330,39 per ons. Sementara itu, harga emas berjangka AS juga mengalami penurunan sebesar 0,2% ke posisi US$4.364,5 per ons.
Sebelumnya, emas batangan sempat mencapai rekor tertinggi sepanjang masa pada 20 Oktober, dengan harga US$4.381,21 per ons. Pada awal perdagangan, harga emas tetap berada di dekat level tersebut.
Fawad Razaqzada, analis pasar dari City Index dan FOREX.com, menjelaskan bahwa penurunan inflasi yang lebih cepat dari ekspektasi mengurangi minat investor dalam membeli aset sebagai perlindungan terhadap inflasi. Emas selama ini dianggap sebagai lindung nilai utama terhadap inflasi, sehingga pelemahan harga emas setelah rilis data CPI cukup masuk akal.
Data menunjukkan bahwa indeks harga konsumen (CPI) AS naik sebesar 2,7% secara tahunan (yoy) pada November. Angka ini lebih rendah dari proyeksi ekonom sebesar 3,1%.
Setelah rilis data tersebut, kontrak berjangka suku bunga dana federal menunjukkan kemungkinan yang sedikit lebih besar bagi Federal Reserve untuk memangkas suku bunga pada pertemuan Januari mendatang.
Razaqzada menambahkan bahwa salah satu alasan utama lonjakan harga emas dalam beberapa tahun terakhir adalah tingginya inflasi yang menggerus nilai mata uang fiat. Aset tanpa imbal hasil seperti emas cenderung diuntungkan dalam lingkungan suku bunga rendah dan dikenal sebagai instrumen lindung nilai inflasi. Meskipun demikian, prospek emas dinilai masih positif.
Peter Grant, Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals, menyatakan bahwa tren emas masih sangat kuat dan potensi penembusan ke atas tetap terbuka. Ia memperkirakan target kenaikan emas berada di US$4.515,63, sementara level US$5.000 masih menjadi sasaran yang valid.
Di sisi lain, harga perak spot turun sebesar 1,5% menjadi US$65,3 per ons, setelah sebelumnya mencapai rekor tertinggi sebesar US$66,88 per ons. Meski mengalami koreksi, perak tetap mencatatkan kinerja yang lebih baik dibanding emas sepanjang tahun ini, dengan kenaikan sebesar 126% secara year-to-date. Kenaikan ini didorong oleh permintaan investasi dan kekhawatiran defisit pasokan.
Sementara itu, harga platinum naik sebesar 1,2% menjadi US$1.922,05 per ons, mencapai level tertinggi dalam lebih dari 17 tahun. Palladium juga menguat sebesar 3,7% menjadi US$1.708,72 per ons, mendekati level tertinggi hampir tiga tahun.
Commerzbank dalam laporannya menyebutkan bahwa gelombang kenaikan harga logam mulia kini telah menyebar dari perak ke platinum. “Harga platinum ditopang kuat oleh permintaan yang solid dari China,” jelasnya.